Presentasi Dinamis, Melatih Kemampuan Murid untuk Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris Oleh: Isma Rachmadani Siregar
Presentasi Dinamis, Melatih Kemampuan Murid untuk Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris
Oleh: Isma Rachmadani Siregar
Dokumentasi milik pribadi“miss,
saya merasa kurang percaya diri. Kemampuan bahasa Inggris saya sangat kurang
seperti kosakata dan juga cara mengucapkannya. Bantu saya ya miss, agar ketika
ujian presentasi nanti, saya bisa menyampaikannya dengan bahasa Inggris.”
ucap salah satu murid. Namanya Refa Aria. Murid kelas XII SMK jurusan Desain
Komunikasi Visual. Saya baru bertemu dengannya di kelas ini karena sebelumnya
rekan saya yang mengajar.
Ketika
mendapat amanah mengajar pada kelas XII dan untuk semua jurusan, membuat saya
berpikir cukup keras tentang apa saja yang harus saya persiapkan, metode
mengajar yang sesuai serta tujuan yang ingin dicapai. Tentu saja saya perlu
berdiskusi dengan tim pengembang kurikulum sekolah dan para guru yang terlibat
mengajar pada tingkat tersebut. Karena mengajar pada jenjang SMK harus
disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan belajar mereka.
Setelah
refleksi awal pembelajaran saya laksanakan, saya mendapat banyak keluhan serta
saran yang disampaikan oleh murid. Memahami apa yang mereka rasakan, membuat
saya tergerak untuk mengolah pembelajaran yang bermakna dan berdampak. Sekolah
juga memiliki visi dan misi yang harus sinergi dengan apa yang dibutuhkan oleh
dunia industri dan masyarakat. Dan saya sebagai guru harus menyusun konsep
pembelajaran yang berorientasi pada hard skill dan soft skill.
Pada
minggu ke dua pembelajaran aktif, saya mengawalinya dengan presentasi
pembelajaran yang interaktif. Karena mengajar mata pelajaran bahasa Inggris,
saya selalu menyampaikan materi dengan bahasa Inggris. Sesekali dengan
menggunakan bahasa Indonesia karena tidak semua murid paham. Saya memperhatikan
setiap murid di kelas untuk menganalisa sejauh mana pemahaman, kemampuan
berinteraksi serta merespon setiap pertanyaan saya.
Mata
saya tertuju pada dua orang murid. Namanya Zefa dan Refa. Mereka mengobrol
sesekali dan ketika saya mendekat, mereka langsung terdiam. Hal tersebut tidak
hanya terjadi pada satu kelas, tetapi pada tujuh kelas yang saya ajar. Saat
saya melihat catatan refleksi mereka, ternyata murid-murid inilah yang
menyampaikannya. Karena peralihan dari kelas XI sebelumnya, sehingga mereka
belum mengenal saya. Tetapi semangat mereka untuk belajar tidak padam.
Sebelum
mengakhiri pembelajaran, seperti biasa saya melakukan refleksi dan menyampaikan
kepada murid jika mereka mendapat kesulitan dalam pelajaran saya, mereka dapat
berkonsultasi dengan saya setelah pulang sekolah atau kapan saja. Lalu, saat
saya meninggalkan kelas, tiba-tiba, “maaf miss, apakah miss hari ini sibuk?
Saya ingin curhat sama miss.” ucap Zefa. “Tidak nak. Silakan kabari miss
ya jika kamu sudah siap.” jawab saya sambil tersenyum.
Saya
selalu terbuka untuk semua murid yang memerlukan bantuan dan bahkan kelas
ekstra. Biasanya dilakukan pada jam istirahat atau setelah pulang sekolah.
Tidak jarang jika ada murid yang belajar melalui pesan singkat atau video
call. Termasuk Refa dan Zefa. Kebanyakan murid lain merasa malu untuk
bertanya. Namun ketika mereka melihat teman-temannya berkonsultasi dengan saya,
akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
Suatu
ketika, diadakan rapat internal dengan para guru yang mengajar pada kelas XII.
Karena sekolah saya sudah berstatus sebagai SMK Pusat Keunggulan, maka program
pembelajarannya yaitu sistem blok yang lebih mengedepankan kemampuan
pengelolaan informasi teknologi dan digital baik dalam bentuk produk maupun software.
Saya dilibatkan pada sesi presentasi yang mengharuskan para murid menggunakan
bahasa Inggris untuk ujian bloknya.
Dari
sinilah saya merasa tertantang untuk mewujudkan konsep pembelajaran sistem blok
dari tim pengembang kurikulum sekolah. Baru saja saya perlahan meningkatkan
rasa percaya diri murid, dan sekarang saya harus meyakinkan bahwa mereka harus
lancar dalam menyajikan presentasi dengan bahasa Inggris. Panik? Tentu tidak.
Dengan pengalaman mengikuti pelatihan daring maupun luring tentang
pembelajaran, akhirnya saya dapat mengimplementasikan ilmunya.
Pembelajaran
dengan sistem blok di sekolah saya, telah terintegrasi dengan kurikulum merdeka
serta senantiasa menerapkan kolaborasi di antara guru. Pada awalnya, banyak
guru yang belum memahami kurikulum merdeka ini dengan baik. Dengan
berkolaborasi, akhirnya dapat berkomitmen untuk saling mendukung pada
pembelajaran dengan tujuan kebutuhan belajar murid dapat terlayani dan sesuai
dengan kodrat alam serta zamannya.
Selama
kegiatan belajar dan mengajar dilaksanakan, saya menyiapkan perangkat ajar yang
telah disesuaikan dengan kebutuhan belajar murid. Saya memahami bahwa tujuan
dari belajar bahasa Inggris tersebut adalah untuk membekali para murid agar
dapat berkomunikasi serta mempresentasikan projek dengan bahasa Inggris. Saya
memulai pembelajaran dengan memberikan gambaran bahwa bahasa Inggris itu
bukanlah masalah besar tetapi tantangan belajar.
Kesepakatan
pembelajaran di kelas ketika saya masuk yaitu dengan mengucapkan salam,
kemudian menanyakan kabar, menyampaikan dan menjawab pertanyaan, dan membuat
kesimpulan. Dimulai dari kalimat sederhana. Lalu saya menggunakan media
pendukung seperti slide presentasi, video presentasi, dan e-modul yang saya
buat sendiri. Metode pembelajaran yang digunakan yaitu pembelajaran berbasis
projek dan berbasis masalah. Sedangkan untuk praktiknya dapat dilaksanakan
secara individu maupun berkelompok.
Selain
materi umum pada bahasa Inggris, saya juga menyiapkan materi kejuruan. Setiap
jurusan saya menyiapkan kosakata yang terkait dengan teknologi dan digital. Hal
tersebut agar murid mengenal istilah baru serta paham cara mengucapkan dan
mendeskripsikan maknanya. Tentu saja dengan berkolaborasi, saya mendapat
informasi dan catatan dari para guru produktif tentang materi yang dipelajari
sehingga saya mampu mengikuti alurnya. Dan menjadi sebuah ilmu baru buat saya
karena bahasa Inggris untuk kejuruan sangat berbeda dengan istilah umum.
Saat
pembelajaran berlangsung, saya menyampaikan materi bahasa Inggris campuran.
Seperti contohnya, materi struktur bahasa Inggris umum dikombinasikan dengan
istilah kejuruan. Kemudian murid menerjemahkan hingga mempraktikkannya secara
lisan dan tertulis. Apabila belum bisa, maka cara lainnya yaitu saya menyiapkan
melalui LMS (Learning Management System) sekolah. Di dalamnya saya
cantumkan video rekaman penjelasan materi, kemudian dengan pesan singkat, voice
note hingga kuis. Hal tersebut sudah saya siapkan sebelumnya.
Pembelajaran
bahasa Inggris telah berlangsung dalam beberapa kali pertemuan. Mengingat bahwa
tujuan belajarnya adalah bahwa murid mampu memahami bahasa Inggris baik secara
lisan maupun tertulis, selanjutnya adalah meningkatkan rasa percaya diri mereka
pada presentasi projek. Saya mengagendakan projek untuk murid yaitu presentasi
dengan topik produk daur ulang. Para murid mengerjakan projek secara
berkelompok. Durasi pengerjaan selama tiga minggu dan minggu ke empatnya
dilakukan ujian presentasi. Saya memantau projek mereka secara berkala.
Tepat
pada minggu ke empat, para murid bersiap-siap untuk presentasi. “miss,
terima kasih ya sudah memberi kami tips dan triknya. Tapi, jika masih kurang,
mohon maaf ya miss. Kami berusaha agar tidak gugup dan lancar.” ucap
Debora. “miss bangga karena kalian mau berusaha dan saling membantu teman.
Kalian pasti bisa.” jawab saya. Minggu pertama ujian presentasi projek
diawali dari kelas XII Teknik Komputer dan Jaringan. Presentasi dalam seminggu
ini berjalan dengan baik, meskipun beberapa di antara murid masih belum lancar
bahasa Inggrisnya.
Catatan
setelah presentasi saya berikan agar para murid tetap berlatih. Dan yang
membuat saya terharu bahwa murid lainnya saling membantu temannya untuk praktik
bersama. Terdengar sesekali mereka latihan percakapan bahasa Inggris hingga
mereka berani untuk membuat konten dengan caption bahasa Inggris. Inilah
yang saya harapkan bahwa adanya empati di antara murid.
Pada
saat presentasi ujian blok kejuruan, para murid sudah tidak gugup dan lancar menggunakan
bahasa Inggris. Para guru yang menjadi penguji saat itu juga sangat bersyukur.
Meskipun tugas dan target belajar begitu padat, tapi para murid tidak menyerah
untuk mencoba. Karena mereka harus memilih di antara BMW
(Bekerja-Melanjutkan-Wirausaha). Dan semuanya pasti perlu pengalaman presentasi
dan bahasa Inggris sebagai nilai tambah pada soft skillnya.
Pada
dasarnya tidak ada murid yang tidak pintar. Mereka perlu dibimbing untuk
belajar hal baru dan memberikan pemahaman bahwa untuk sukses harus ada usaha
yang dilakukan. Guru perlu membangun interaksi yang baik agar murid merasa
didengar. Adanya kesepakatan, murid akan belajar untuk bertanggung jawab. Dengan
menyusun pembelajaran dengan konsep presentasi yang dinamis, maka guru dapat melatih
kemampuan murid untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris.

Comments
Post a Comment