Loyalitas
Tanpa Batas, Pengabdian Tak Berbekas
Oleh:
Isma Rachmadani Siregar
“semenjak
pandemi, guru jadi repot ya. Harus bisa operasikan komputer belum lagi dengan
aplikasinya,” keluh dari salah satu guru yang pernah saya dengar. Jika dibayangkan,
memang terasa sulit, berat dan jadi beban. Namun, setelah mengikuti banyak
webinar dengan topik yang sesuai dengan kondisi, sebenarnya dapat menjadi lebih
ringan dan mudah. Dan ini bagian dari pengalaman penulis sendiri.
Sedikit mundur pada kondisi sebelum
wabah covid-19 meluas di berbagai wilayah Indonesia termasuk kota penulis,
Banjarbaru. Banyaknya berita viral dengan menyajikan asumsi tidak tepat
sehingga membuat ketakutan yang luar biasa dan dunia pendidikan berubah dengan
cepat. Pemerintah membuat keputusan tentang mekanisme belajar di semua tingkat
sekolah hingga rancangan pembelajaran berubah status menjadi darurat dan 1
halaman. Dari sinilah, serentak guru-guru Indonesia terdiam dan bertanya-tanya
dalam hati, apa, bagaimana dan kapan sistem ini akan diberlakukan.
Di sisi lain, banyak organisasi
saling berlomba untuk menawarkan topik yang berkaitan dengan keputusan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim. Melalui webinar dengan jenis lokal,
nasional hingga internasional, narasumber dari segala bidang, pelatihan dengan
menawarkan e-sertifikat dengan puluhan jam dan bahan ajar yang dapat diakses
secara online. Para guru dapat memilih webinar yang ingin diikuti serta
menyesuaikan dengan waktunya agar tidak menganggu jadwal mengajar online.
Banyak yang benar-benar berhasil dan menerapkan, ada yang hanya ingin
e-sertifikat dan hanya mengisi waktu luang. Padahal, jika diikuti dengan baik
pasti akan mendapat manfaatnya dan dapat menjadi nilai tambah bagi seorang
guru.
Sejenak
kita melihat para guru yang berada di daerah minim koneksi internet, alat
perangkat keras yang kurang maksimal dan jauh dari perkotaan. Penulis sering
melihat keluhan dari para guru ketika mereka mengikuti webinar. Hal ini
menyiratkan adanya langkah-langkah yang harus diambil oleh pemerintah untuk
dapat mengatasi masalah tersebut. Dan tidak jarang juga, banyak guru yang
bertugas di daerah terpencil yang berhasil dalam menerapkan sistem dari
pemerintah walaupun dengan keterbatasan yang ada. Dan hal seperti ini yang
seharusnya menjadi inspirasi bagi guru di perkotaan yang fasilitasnya cukup dan
dapat mengakses informasi apapun dengan mudah. Pemerintah memberikan
penghargaan kepada para guru yang dengan maksimal mengajar di daerah terpencil.
Bukankah hal ini merupakan tamparan keras buat kita?
Melihat hal lain pada
sekolah-sekolah yang saling bersaing dalam menawarkan sistem pendidikan dengan
mengangkat metode ajar yang disesuaikan dengan kondisi saat ini. Sekolah dengan
fasilitas yang memadai, guru yang berlisensi ramah teknologi dan visi misi
untuk menjadikan peserta didiknya menjadi lulusan yang kritis pada pemikiran,
berakhlak mulia dan mandiri. Tentu saja, hal ini menjadi daya tarik dan pilihan
bagi siswa yang ingin mendaftar. Pemerintah daerah dalam hal ini Dinas
Pendidikan dan Kebudayaan kota, harus bersinergi dengan pemerintah pusat bahwa kondisi
yang ada pada saat ini, mewajibkan peserta didik dan pihak sekolah untuk
melaksanakan pembelajaran dari rumah atau School from home. Tidak dapat
dipastikan kapan dapat melaksanakan pembelajaran secara tatap muka. Akan
tetapi, pernyataan yang sering disampaikan bahwa peserta didik dapat belajar
secara tatap muka secara bergilir, sesuai kondisi zona daerah dan setelah
mendapat vaksinasi dari setiap fasilitas kesehatan pada setiap domisilinya.
Namun perlu diingat, wabah covid-19 ini dapat menyerang siapa saja sesuai
dengan informasi yang diterbitkan oleh dinas kesehatan. Hal-hal yang
disampaikan oleh penulis tersebut, merupakan kondisi yang dirasakan dan
dialami.
Pada kesempatan lain, penulis
memulai pengalaman baru di awal tahun 2021. Setelah sebelumnya di tahun 2020,
banyak hal yang membuat penulis harus melakukan gerak cepat dalam melaksanakan
kegiatan belajar mengajar secara online di sekolah. Berbekal pengalaman dan
informasi yang didapatkan baik dari sekolah, organisasi keguruan, komunitas
guru dan dari sumber lain, penulis mulai mempersiapkan pembelajaran interaktif
dan menarik. Didukung dengan fasilitas sekolah, rekan guru yang inovatif dan inisiatif,
maka penulis mengaplikasikan ilmu yang didapatkan ketika mengikuti pelatihan.
Penulis menyiapkan RPP atau Rancangan Pembelajaran Pengajaran Darurat atau 1
lembar, lalu disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran online dengan
memperhitungkan durasi belajar, sumber, media dan penilaian. Di sini, penulis
belajar penilaian dengan mengikuti pelatihan AKM atau Asesmen Kompetensi
Minimum dan survei karakter peserta didik. Awalnya terkesan ribet, tetapi
setelah dijalani, maka hasilnya tidak begitu sulit. Bersama sekolah, penulis
dengan para guru membuat kesepakatan dengan orangtua atau wali siswa untuk
bersepakat dalam mengikuti sistem belajar sekolah. Membangun komunikasi yang
baik agar tidak salah pengertian dan saling koordinasi sehingga informasi
terbaru dapat disesuaikan dengan kondisi. Dengan adanya kesepakatan bersama,
maka bisa mengurangi masalah dan pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Para
guru dipersiapkan dengan dibekali pemahaman teknologi sehingga variasi
pembelajaran menjadi menarik dan peserta didik tidak merasa bosan. Untuk
mengetahui perkembangan pembelajaran selama pandemi, sekolah selalu mengajak
para guru untuk menyampaikan evaluasi pembelajaran secara online. Hal ini
dilakukan untuk menganalisis masalah yang didapatkan dan solusi yang ditawarkan
agar peserta didik dan orangtua mendapatkan pelayanan yang baik.
Perkembangan sistem pembelajaran
berjalan dengan sangat cepat. Bagi sebagian guru, hal ini menjadi kelemahan
karena banyak persiapan yang harus dilaksanakan. Salah satu contohnya adalah
penulis ini. Diawali dengan menyiapkan RPP kurikulum darurat atau satu lembar,
mengenal LMS (Learning Management System), pemanfaatan aplikasi untuk membuat
slide yang menarik, video pembelajaran dengan model diri sendiri, permainan
edukasi (game for education), pengunggahan buku secara online, kelas virtual
menggunakan video conference dan penilaian yang berstandarkan perilaku dan
pemikiran. Cukup banyak untuk dilaksanakan, namun seiring waktu, akhirnya
penulis dapat mengaplikasikannya dengan bertahap. Sesuai dengan pernyataan yang
disampaikan oleh para pakar pendidikan,” guru yang hebat adalah guru yang mau
belajar kapanpun, dimanapun dan tidak pernah mengeluh untuk mendidik peserta
didiknya agar menjadi manusia yang berakhlak mulia, berpikiran kritis dan
mandiri”. Dan pernyataan tersebut, benar-benar menguatkan penulis untuk terus
meningkatkan potensi diri, berpikir inovatif dan kreatif.
Sejenak merenungkan kondisi yang
kita rasakan di masa pandemi ini, memang tidak dapat terlepas dari permasalahan
perekonomian yang melanda. Masyarakat umum dalam hal ini para guru dan peserta
didik, juga merasakan dampaknya. Sebagian guru mengalami permasalahan di kuota,
perangkat keras dan akses menuju sekolah yang sulit. Begitu juga dengan peserta
didik. Banyak orangtua mereka yang harus dirumahkan karena perusahaan mengalami
pemasukan yang berkurang, usaha dagang yang sepi dan sakit. Kondisi ini telah
disampaikan kepada pemerintah melalui laporan dari setiap daerah. Bahkan tidak
jarang, pada setiap webinar, hal ini menjadi pertanyaan dari perwakilan setiap
partisipannya. Solusi yang ditawarkan awalnya hanya bersifat teori. Tetapi,
setelah melihat banyaknya relawan yang terjun langsung ke lapangan, para guru
hebat yang menembus jalur berat telah membuka mata hati bagi banyak orang.
Banyak bantuan diberikan sebagai wujud keperdulian pada dunia pendidikan.
Bantuan yang diberikan seperti penyediaan android, jaringan internet, buku
pembelajaran hingga kuota. Ketika hal ini disampaikan langsung kepada
pemerintah pusat, maka dengan sigap pemerintah membuat keputusan yaitu
membagikan kuota gratis bagi guru dan peserta didik. Hal ini ditujukan agar
meringankan biaya yang muncul pada saat belajar online. Sekolah juga merancang
kegiatan belajar mengajar online dengan waktu yang dibatasi dan membuat LMS agar
peserta didik dapat belajar mandiri. Para guru juga diminta untuk berinovasi
dengan membuat video pembelajaran yang dapat diunggah pada channel online
Youtube sehingga peserta didik dapat mempelajarinya secara berulang. Satu
persatu permasalahan yang muncul dapat teratasi dengan bertahap karena
kerjasama yang baik.
Kemudahan yang didapatkan saat ini
dikarenakan sudah tersedianya terobosan baru dalam dunia pendidikan. Pemerintah
telah membuka kesempatan belajar bagi para guru untuk mengembangkan potensi
diri dan memunculkan ide kreatif dalam mendukung pembelajaran. Setiap jenjang
pendidikan, telah diberikan fasilitas ilmu yang telah disesuaikan dengan
kebutuhan. Para guru untuk jenjang Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama
(SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) atau Menengah Kejuruan (SMK) hingga Perguruan Tinggi (Universitas),
pemerintah telah menyediakan program belajar yang disesuaikan dengan kondisi
dan kebutuhan. Melihat begitu banyaknya ketertinggalan, pemerintah dengan sigap
bekerjasama dengan setiap Lembaga untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang
unggul. Adanya program seperti Merdeka Belajar, Guru Belajar, Guru Pembatik,
Rumah Belajar dan Kampus Merdeka, membuat para guru dan dosen saling bahu
membahu belajar dan mengaplikasikannya. Selain dapat mengikuti pelatihan secara
gratis ataupun berbayar, mendapat e-sertifikat, menambah teman sesama profesi,
ternyata dibalik hal tersebut, memang wawasan dan ilmu barulah yang menjadi
poin utama. Beberapa kali penulis mendapati para guru yang tadinya belum
memahami program pembelajaran tetapi sekarang merekalah yang menjadi pembicara
atau narasumber. Hal ini merupakan satu hal yang positif yang mendorong guru
lainnya untuk lebih banyak belajar dan berkarya. Para guru yang berdedikasi
lebih untuk daerahnya kini sudah mulai bermunculan. Mereka berbagi pengalaman
dan menjadi inspirasi. Selain itu, mereka juga mendapat dukungan baik moril dan
materil dari pemerintah daerah dan pusat. Merupakan prestasi yang luar biasa karena
dengan kondisi seperti saat ini, guru dituntut harus serba bisa dengan berbagai
keterbatasan. Mengurus keluarga, membuat perencanaan pembelajaran, kelas daring
yang berbatas pada durasi, target prestasi siswa dan lainnya. Dan benar saja,
seorang guru merupakan sosok model panutan yang berjiwa mulia.
Kesan yang penulis rasakan setelah
melalui setahun school from home, penulis mendapatkan banyak pengalaman yang
menarik, wawasan yang baru dan mengembangkan
potensi diri khususnya pada teknologi. Penulis dapat berkarya dengan
membuat video pembelajaran, menulis pada blog, paham mengoperasikan platform
dan LMS, cara penilaian yang efektif dan mengikuti kompetensi guru. Dengan
harapan agar hal-hal baru dapat diaplikasikan kepada peserta didik dan kegiatan
belajar mengajar dapat terus berjalan.
Pesan penulis kepada pemerintah yaitu
penerapan kurikulum sebaiknya sejalan dengan kemampuan tenaga pendidik. Tidak
semua dapat memahami dengan cepat karena proses di lapangan berbeda. Guru
senior masih harus mengejar ketertinggalan dalam teknologi. Guru baru dapat
memahami dengan mudah karena mereka sudah difasilitasi ilmu teknologi yang
memadai. Didukung juga dengan fasilitas sekolah dan dukungan dari pimpinan
sekolah. Penulis berpesan kepada peserta didik yaitu meskipun pada saat ini
belajar online masih berjalan, tetaplah bersiap-siap karena prestasi akan
didapat jika konsisten dalam belajar, berpikir dan bertindak positif. Setiap
hal yang dilakukan sebaiknya berdasar pada akhlak dan budi pekerti yang luhur,
berpikir kritis dan mandiri. Jangan terbuai dengan tertundanya waktu belajar di
rumah terlebih lagi tanpa adanya pengawasan dari guru secara langsung. Guru
bekerjasama dengan orangtua bukan untuk meminta orangtua menjadi guru tapi
orangtua sebagai pemantau di rumah. Karena keterbatasan inilah, komunikasi
menjadi hal penting untuk dilaksanakan.
Dan, satu berita yang menjadi angin
segar bagi guru dan peserta didik yaitu pemerintah telah mempersiapkan vaksin
dan dijadwalkan sekolah dapat melakukan kelas tatap muka kembali. Meskipun nantinya
tetap waspada karena covid-19 masih ada, ada kemungkinan pemerintah mengambil
tindakan pencegahan lainnya pada zona yang dianggap membawa resiko penyebaran.
Setelah mendapat vaksin, setiap sekolah akan disemprot dengan desinfektan dan
penerapan protokol kesehatan seperti cek suhu tubuh, memakai masker, mencuci
tangan, menjaga jarak dan meningkatkan imunitas tubuh. Dinas kesehatan dapat
memeriksa setiap sekolah dan dinyatakan layak melaksanakan pembelajaran secara
tatap muka. Belajar di rumah yang pastinya membuat bosan peserta didik akan
berganti menjadi ceria dan para guru dapat melaksanakan pembelajaran secara
efektif dan efisien. Semangat melakukan perubahan dan berefleksilah.
Biografi Penulis
Isma
Rachmadani Siregar, S.S, M.Pd
Penulis
yang lahir di Medan, 10 Mei 1986 telah memutuskan melanjutkan karir sebagai
seorang guru pada salah satu sekolah kejuruan swasta di kota Banjarbaru.
Penulis yang merupakan lulusan fakultas Magister Pendidikan Bahasa Inggris ini sudah
mulai mengajar sejak 12 tahun yang lalu. Banyak perubahan dalam sistem
pendidikan yang sudah dilalui penulis sehingga pemikiran akan mengembangkan
potensi diri secara inovatif dan kreatif tidak henti untuk diwujudkan.
Penulis
yang mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris untuk tingkat SMK ini, juga
mengajar pada sekolah tinggi dengan jurusan kesehatan dan teknologi. Hal ini
membuat penulis tergerak untuk mengaplikasikan ilmu lebih khusus dengan
memberdayakan kemampuan dalam pemanfaatan teknologi secara berkesinambungan.
Dengan membuat video pembelajaran dan blog, penulis berharap agar dapat lebih
leluasa dalam berkarya untuk anak negeri dan bangsa Indonesia. Terima kasih.

Comments
Post a Comment