Cerpen: Dasi Biru Oleh: Isma Rachmadani Siregar
Dasi Biru
Oleh: Isma Rachmadani Siregar
“kamu kemana saja? Terlalu lama
bersembunyi itu bukan jawaban yang berkelas, bro. Sudahlah, hadapi saja.
Kenyataan bahwa kamu itu bukan untuk wanita yang kastanya tak sepadan denganmu.
Masih banyak yang lain kok!” tegas Bayu seraya menepuk
pundaknya.
32 tahun yang
lalu, kota ini tidak mengalami perubahan apapun. Masih sama. Sama ramenya, sama
berisiknya, dan pastinya mengungkit cerita lama. Keluargaku sama seperti
keluarga lainnya. Melakukan aktifitas yang dilakukan oleh orang kebanyakan.
Meskipun terkesan keras, papa bukan berlatarbelakang tentara. Dia hanya
meneruskan cara berpikir kakek yang dulunya seorang Kolonel di Kesatuan Kodim
IV Sumatra Utara. Walaupun kakek kecewa karena papa tidak bisa meneruskan
keinginan kakek, tapi pada akhirnya semua berjalan dengan aman. Satu hal yang
perlu diingat, tidak semua hal bisa dipaksakan.
“selamat pagi pak
Eka. Hari ini bapak punya jadwal untuk rapat bersama tim marketing dan
logistik. Rapat diagendakan jam 10 pagi hari ini. Dan selanjutnya, bapak punya
pertemuan dengan calon investor kita dari Singapura di restoran Padang Rimbun
jam 1 siang. Demikian pak.” tutup Astri sekretaris
andalannya.
Rutinitas yang
selalu dilewati olehnya tidak pernah sedikitpun berakhir dengan gagal. Eka
benar-benar melakukan pekerjaannya dengan baik dan nyaris sempurna. Bakat yang
diteruskan dari papanya bukan bakat yang dia pelajari dari sekolah. Dibalik
kesuksesan, pasti terselip hal-hal menyedihkan yang tidak tampak. Mamanya sudah
pulang. Kanker ganas yang mengalahkan kekuatan hidup, tak bisa dihindari.
Begitu cerianya, pendengar yang baik, masakan yang hangat dan enak, hingga
dokter keluarga yang lemah lembut. Eka mengenang sosok mamanya dengan setangkai
mawar putih yang dia bawa ke pusara mama tercinta.
“Eka, mama bangga
memiliki anak seperti kamu. Kamulah yang membuat mama selalu tersenyum dan mama
akan membawa cerita ini kepada Tuhan. Jika papa sendirian, berikan dia baju
yang biasa mama pakai. Dan, Tiara selalu ingin dibuatkan coklat panas. Eka bisa
lakukan itu untuk mama?” pinta terakhir mama
Weni di hadapan Eka. Eka berusaha tegar, tapi airmata tak bisa ditahan. Tangis
yang pecah di saat mamanya berkata, “maafkan mama yang tak bisa menemani
Eka, papa dan Tiara sampai akhir. Mama pulang ya nak.”.
Sesaat Eka
tersadar. Pikirannya masih berada di masa lalu. Dan di hadapannya, banyak orang
yang bergantung hidup dan mengabdikan diri pada perusahaan yang dia kelola
selepas papanya memutuskan untuk mundur. Perjuangan keras untuk Eka agar bisa
mendapat kepercayaan mengurus aset keluarga. Karyawan yang selalu solid dan
mendukung Eka membuatnya merasa yakin bahwa apa yang dia lakukan benar-benar
bisa diterima. Eka terlihat gagah dengan setelan berwarna krem dan dasi keramat
pemberian dari mamanya.
------
“mas, bukannya
aku gak mau berjuang. Tapi kamu lihat sendiri seperti apa kondisiku. Aku sangat
berbeda dari wanita lain. Mereka yang selalu melakukan perawatan, punya
teman-teman kaya. Aku apa? Untuk makan saja aku susah. Apalagi harus berdandan
dan berlakon seperti seorang ratu buat kamu. Sudahlah, lupakan saja. Kita
memang tidak akan pernah berjodoh!” ucap seorang wanita
dengan isakan tangis yang dalam. Eka terbangun dan melihat di sekitar ruang
tidurnya. Ternyata, ini mimpi kesekian kalinya. Mata tak dapat terpejam dan dia
memutuskan untuk membasahi tubuhnya dengan air hangat.
Tepat pukul 3
pagi, Eka tidak kembali ke ranjangnya. Sepanjang malam, dia berpikir dan
mencoba untuk menenangkan hati. Melihat suasana pagi yang masih gelap dari
balik jendela kamar lantai 2 rumahnya. Dia masih tidak mengerti, mengapa dia
tidak bisa melupakan sosok wanita yang telah membuat dia membuka mata dan
telinga. Kesalahan terbesar apa yang telah dia lakukan sehingga setiap malam
dia selalu memimpikannya dan tidak pernah mendapat jawaban apapun atas
pertanyaan yang disampaikan 2 tahun yang lalu. Satu hal yang Eka rasakan, dia
begitu merindukan wanita yang dia sayangi.
Pagi ini menjadi
pagi yang cerah setelah semalaman diguyur hujan deras. Tanaman hias di
pekarangan rumah Eka basah dan aroma embun begitu segar. Eka tergerak untuk
keluar rumah dan menikmati pagi dengan memainkan bola basket koleksinya.
Olahraga kesukaannya ini telah membawa namanya hingga ke turnamen nasional.
Bersama tim basket, Eka mendapat kesempatan untuk bergabung dengan tim basket
nasional. Mewakili sekolah dalam ajang kompetisi si bola bundar ini, telah
menjadi prestasi abadi hingga Eka lulus dari sekolahnya. Tentu saja, banyak
gadis yang mengelu-elukan namanya. Eka begitu terlihat sempurna kala itu.
“Eka, hari ini
ada rencana apa?” tanya papanya. Papa Doni yang khas akan kumis tipis bak
aktor Hollywood terlihat begitu bugar setelah selesai ngegym. “Mas, adek mau
deh diajak jalan hari ini. Kita udah lama juga kan gak jalan-jalan.” Ucap
Tiara, si adek yang super manja tapi perhatian ke mas nya. Eka hanya tersenyum
dan mengangguk pertanda setuju untuk jalan-jalan di hari Minggu.
Setengah
perjalanan, mereka mengunjungi sebuah tempat kesukaan mama. Tempat itu penuh
dengan kenangan saat mamanya membeli sebuket bunga mawar merah dan putih untuk
hiasan di rumah. Eka membeli beberapa kuntum dan meminta penjual untuk
membungkusnya dengan sampul plastik kesukaan mama. Namun, tiba-tiba, “mulai
hari ini, kamu tidak perlu datang lagi kesini. Kami sudah mencari pengganti
kamu yang baru!” teriak seorang pria paruh baya kepada seorang wanita. Eka
hanya bisa melihat wanita itu keluar dari toko bunga dan mengendarai
sepedanya. Setelah selesai transaksi, Eka keluar dan kembali ke
mobil.
Selama dalam
perjalanan, pikiran Eka tertuju pada wanita yang diusir oleh pemilik toko
bunga. Papa dan Tiara merencanakan untuk pergi liburan ke luar negeri. Mereka
sedang memilih tempat tujuan melalui gawai pintar papa Doni. Dan Eka, masih
diam dan pikirannya melayang.
“mengapa wanita
itu begitu keras kepadaku. Apa salahku? Apakah aku tidak berhak membuat dia
bahagia? Perasaan macam apa ini!” gumam Eka sambal terus
menyetir. Tiba di pemakaman mama, mereka bertiga segera menuju ke pusara mama
dan Tiara menghias kuburan mama dengan bunga mawar. Dalam diam, mereka bertiga
berdoa. Dan papa, “ma, gimana disana? Sepi atau gimana? Papa boleh gak
ikut?”. Kalimat itu sontak membuat Eka dan Tiara terkejut. “Papa kenapa
bicaranya begitu sih?” tanya Tiara. Eka memeluk papa dan membisikkan ke
telinga papa, “pa, please jangan biarkan Eka sendiri menghadapi hidup. Masih
banyak hal yang Eka belum pelajari dari papa. Kami perlu papa untuk selalu
menguatkan.” ucap Eka dengan lirih. Siang itu, suasana berubah menjadi
sendu dan tangisan diantara mereka pun pecah.
------
Senin itu
benar-benar sibuk. Eka sendiri hampir tidak punya waktu untuk menikmati makan
siangnya. Dia larut dengan tumpukan berkas kerja sama. Untungnya Astri, asisten
yang lucu sering mengingatkan Eka untuk istirahat dengan menanyakan, “untuk
siang ini, bapak mau makan apa?”. Astri sudah mendapat amanah dari papa
Doni untuk memantau Eka pada setiap harinya di kantor. Eka hanya menjawab,”bisa
pesankan saya es kopi dan sandwich isi tuna ya.”.
“es kopi
buatan kamu pas rasanya. Kita bisa buka usaha nih.” kenang Eka sambil minum
es kopi pesanannya. Pikirannya melayang kembali dan dia membuka satu file di
komputer yang didalamnya terdapat foto kenangan. Beberapa foto di dalamnya tak
sengaja dia ambil ketika sosok wanita yang dia rindukan sedang membuat es kopi,
merangkai bunga, dan menulis. Eka mengabadikan momen itu karena sejuta cerita
dibaliknya mengubah sudut pandang dia dalam memahami perasaan dan cinta. “mengapa
kamu begitu keras kepadaku dek. Mas hanya ingin kamu bahagia. Aku rindu kamu.”
gumam Eka seraya menatap foto-fotonya.
—---
Tepat 2 tahun
mama tiada, malam itu papa dan Tiara mengajak Eka untuk makan bersama. Papa
masak makanan kesukaan Eka dan Tiara. Pemandangan yang cukup menyedihkan saat
itu. Papa sengaja menyiapkan satu kursi dengan setangkai mawar merah dan
pakaian yang mama Weni biasa pakai. Suasana terasa sunyi. Mereka bertiga
mengobrol sambil memandangi kursi kosong dengan tersenyum. Entah mengapa, papa
Doni begitu rindu dan tak dapat dibendung lagi hingga sikapnya begitu. Di
tengah-tengah menikmati makan malam, Tiara berucap, “mas Eka, Tiara pengen
suatu saat rumah kita ini menjadi rame. Tidak sesepi ini. Akan banyak orang
tertawa. Dan kita gak sedih lagi.”. Eka yang kala itu sedang berusaha menelan
makanan menjadi diam dan tertunduk. Papa Doni mengelus kepala Tiara dan
berkata, “pasti akan rame nak. Karena nanti mas Eka akan membawa seseorang
ke rumah kita dan akan ada tangisan bayi yang buat rame rumah kita.”. Dan
lagi, Eka hanya bisa diam dan tertunduk. Di hadapan Eka, papa dan Tiara seperti
terlihat berbeda.
Pada dasarnya,
Eka memiliki hati yang rapuh. Takut ditinggalkan karena begitu besar trauma
yang dia hadapi kala itu. Menjadi seorang pria yang dikagumi bukanlah hal yang
dapat membuat dia arogan. Sedari Eka kecil, keluarga harmonis ini telah banyak
melewati hal-hal yang lebih menyakitkan. Tapi, entah darimana kekuatan itu
datang. Eka hanya bisa mereka-reka. Eka pernah merasakan hal-hal yang kurang
menyenangkan. Dia pernah menghadapi situasi tersulit bersama keluarga. Saat
itu, papa Doni belum memiliki pekerjaan tetap. Setelah lulus sekolah, papa Doni
diminta kakek mendaftar menjadi taruna. Untuk melanjutkan darah tentara, kakek
memaksa papa. Karena tidak sepemikiran, papa menolak dan memilih untuk bekerja.
Bertemu dengan mama Weni bukanlah disengaja. Mama Weni bekerja di toko bunga
milik tetangga. Tak heran jika mama Weni pintar merangkai bunga dan sangat suka
bunga. Dan kala itu papa bekerja sebagai kurir pengantar barang. 2 insan
manusia bertemu karena Tuhan. Sungguh indah.
Di usia 24 tahun,
Eka sudah lulus S1 dari Kyoto
University di Jepang. Jurusan yang Eka pilih yaitu ekonomi bisnis. Dia begitu
tertarik karena memiliki minat pada bisnis dan ekonomi. Eka bisa lulus karena
beasiswa yang dia peroleh semenjak SMA. Di samping itu, Eka memiliki prestasi
banyak pada beberapa bidang seperti olahraga, organisasi, ilmiah dan akademik.
Betapa bahagia papa Doni dan mama Weni. Mereka tidak pernah terpikirkan bahwa
Eka bisa menaikkan derajat mereka yang hanya bekerja sebagai kurir dan asisten
toko. Orangtua Eka tidak memiliki apapun termasuk rumah. Mereka hanya mampu
mengontrak dan itupun sering menunggak pembayaran. Namun semangat untuk hidup
lebih baik semakin berkobar setiap waktu.
Hidup berubah setelah Tiara lahir. Papa Doni
diberi kepercayaan untuk mengurus perusahaan yang saat itu terancam bangkrut.
Teman papa Doni yang juga lulus dari sekolah yang sama yang biasa dipanggil om
Hans, tidak mampu mengurus perusahaannya karena terlilit hutang yang cukup
besar. Ketika papa Doni mendengar kisah dari para karyawan, dia merasa iba.
Karena seluruh karyawan menggantungkan hidupnya disana. Dan keajaiban terjadi
setelah papa Doni berusaha mencari investor dan membuat perusahaan itu hidup
kembali. Mama Weni yang saat itu bekerja diminta papa Doni untuk berhenti dan
fokus menjadi ibu rumah tangga dan merawat Tiara. Pindah ke rumah baru yang
sampai sekarang didiami, menjadi saksi atas jeri payah mereka dalam meyakinkan
orangtua bahwa percaya kepada anak dan mendukung mereka merupakan nilai mahal.
Dan yakin bahwa Tuhan itu Maha Adil dalam setiap perlakuan yang kita lakukan.
Mengeluh tidak mengubah keadaan. Tetapi berusaha keras tidak akan
sia-sia.
—--
Jum’at siang setelah menyelesaikan kewajiban di
masjid dekat kantor, Eka mampir ke coffee shop. Eka memang suka minum es kopi.
Ketika tiba di depan meja kasir, Eka mendengar suara yang sangat tidak asing
baginya. Namun karena begitu rame, suara itu perlahan tidak terdengar lagi. Eka
suka menghabiskan waktu di tempat itu. Dia memilih kursi di sudut dengan
pemandangan mengarah ke jalan umum. Mengenang saat-saat pendidikan di Tokyo,
hal yang sama dia lakukan sambil menunggu kelas dimulai. Beberapa mahasiswi
menyukai Eka karena wajahnya yang rupawan, senyum manis yang bikin meleleh,
cerdas dalam berpikir dan cara bicara yang sopan serta lembut. Tidak dapat
dipungkiri, Eka diakui mampu meluluhkan hati kaum hawa dan menjadi leader buat
di setiap organisasi. Memang, papa Doni dan mama Weni merupakan perpaduan bak dewa
dan dewi.
Melanjutkan pekerjaan, Eka memimpin pertemuan
dengan sejumlah investor. Salah satu investor merupakan teman lamanya. Panggil
saja Edo. Beda sebelas duabelas dari Eka, Edo merupakan putra tunggal pewaris
perusahaan besar. Terlahir dari keluarga yang cukup kaya, Edo memiliki saham
yang banyak dan mampu menduduki peringkat top 1 untuk bidang perusahaan
terbesar di Indonesia. Menilik ke belakang, Edo sempat iri dengan Eka karena
kehidupan Eka cukup menyenangkan karena keluarga yang utuh dan harmonis. Selain
itu, pergaulan dan sikap Eka membuat siapapun yang berteman dengannya senang
dan percaya. Inilah yang membuat Edo penasaran dan ingin mencari tau lebih
tentang Eka.
Kegiatan yang paling Eka senangi setelah sampai
di rumah adalah memeluk papa, mencium Tiara dan mandi dengan air hangat.
Setelahnya, mereka berkumpul di ruang tengah sambil menikmati makanan. “mas
Eka, papa mau berangkat haji. Papa sudah mendaftar lama dan 3 bulan lagi papa
berangkat. mas Eka dan Tiara gak apa-apa kan?” tanya papa. Percakapan itu
cukup membuat Eka dan Tiara terkejut karena papa tidak pernah membicarakan hal
itu sebelumnya. “gak apa-apa pa. Eka malah senang karena papa bisa berangkat
apalagi ini haji pertama papa dan fokus untuk ibadah.” jawabnya.
Tanpa terasa, bulan demi bulan berlalu. Papa
Doni sudah mempersiapkan segala sesuatu dengan rapi. Setiap hari Tiara semakin
manja dengan papa. Namun tidak bagi Eka. Karena tuntutan pekerjaan yang selalu
bertambah, Eka menjadi lembur dan jarang punya waktu untuk berkumpul. Tapi, di
suatu malam, ketika Eka sedang bekerja di kamarnya, papa menghampiri. Tak
seperti biasanya, kali ini papa memeluk Eka dengan sangat erat. “mas Eka.
Mas harus jadi laki-laki tangguh. Ingat prinsip yang papa ajarkan. Apa yang
papa miliki semuanya hanya titipan. Mas Eka harus menjadi pelindung buat Tiara.
Papa tidak tau apakah papa bisa menemani mas Eka sampai nanti. Mas Eka harus
sehat ya. Jangan lupa, mas Eka punya Tuhan!” ucap papa. Eka menitikkan
airmata dan tidur di pangkuan papa. Malam ini menjadi malam yang dingin dan
malam yang kelabu. Mampukah dirimu untuk kuat, Eka?
—--
“mas Eka dan Tiara, papa berangkat ya. Kalian
sehat-sehat dan saling menjaga. Papa akan kabari kalian setelah sampai disana.
Doakan papa ya agar bisa pulang dengan sehat dan selamat. Papa sayang kalian.” ucap papa berpamitan di ruang keberangkatan
Terminal 2 Polonia Airport. Eka dan Tiara melepas keberangkatan papa dengan
senyum dan janji tidak akan menangis. Momen ini menjadi momen terakhir karena
setelah sampai disana, papa Doni dinyatakan meninggal dunia dikarenakan sakit.
Papa dimakamkan di area pekuburan di sekitar masjidil Haram di Mekkah.
Mendengar berita saat itu, dunia Eka serasa kosong, gelap dan tercabik-cabik.
Sedangkan Tiara berusaha tegar karena sebelumnya papa pernah bercerita bahwa
kepergian seseorang itu bukanlah perpisahan yang tidak akan bertemu kembali,
tetapi sebaliknya akan dipersatukan kembali. Tiara yang meyakinkan kepada Eka,
bahwa kehidupan mereka akan baik-baik saja.
Kehilangan sosok panutan itu bukan hal yang
menyenangkan. Justru menyakitkan. Karena kehidupan yang semula terlihat
sempurna, mendadak berubah menjadi menyedihkan. Pagi disambut dengan kicauan
burung yang bertengger di dahan pepohonan di sekitar rumah. Eka berangkat ke
kantor ditemani pak Yono. Sebelum ke kantor, Eka mengantar Tiara ke sekolah
yang sama dengan sekolahnya dulu. “dek, pulang nanti sama pak Yono ya. mas
ada rapat di kantor. gak apa-apa kan?” tanya Eka. Tiara menjawab dengan
gaya khasnya yaitu acungan 2 jempolnya. Sesampai di kantor, Eka dihadapkan
dengan situasi genting. Beberapa investor menarik diri untuk tidak menanam
saham di perusahaannya. Belum diketahui pasti masalahnya, tapi Eka memiliki
firasat. Sesuatu hal terjadi karena seseorang telah mengudeta kerja sama dan ingin
melihat Eka jatuh dan hancur. “pak, Mr.Cheng dari Cina mengirim email. Pihak
mereka tidak ingin melanjutkan kerja sama dengan kita karena mereka mendapat
tawaran dengan keuntungan besar dari kompetitor kita. Apa langkah kita pak?”
tanya Astri dengan wajah paniknya. Eka dengan sigap membuka email, berkas dan
semua nota perjanjian. Mendadak, Eka mengumumkan rapat dengan semua kepala tim
untuk mengambil langkah menyikapi kondisi yang super kacau. “kenapa begini.
Kenapa tiba-tiba mereka menarik diri. Ada apa sebenarnya? Apa yang harus aku
lakukan?” gumam Eka.
Hari demi hari, jam demi jam, Eka berupaya agar
bisa menyelamatkan perusahaan dari orang yang ingin menghancurkan dia. Eka
membentuk tim untuk mencari tau akar permasalahan. Namun, setelah beberapa hari
investigasi, masih belum juga menemukan titik terang. Tetapi, entah mengapa Eka
merasa ada seseorang yang harus bertanggungjawab dibalik semua masalah ini. Dan
pikirnya adalah Edo. Tapi, apakah benar Edo? Siapa sebenarnya Edo? Apakah hanya
prasangka saja? Lalu, siapa lagi? Melihat sekilas ke masa lalu. Inilah dia Edo,
orang yang ingin menghancurkan Eka. Rasa irinya telah membutakan hati dan
pikiran. Dendam lama terkuak. Edo merasa Eka adalah saingan yang harus
dihancurkan. Alasan sederhananya adalah Eka memiliki kemampuan dalam melobi
sedangkan Edo tidak mampu. Di sekolah, Eka selalu meraih peringkat tertinggi di
sekolah, sedangkan Edo tidak. Hingga akhirnya, Edo dibandingkan dengan Eka kala
itu. Dan Edo tidak terima perlakuan dari orangtuanya.
Dalam masa masih berkabung dan juga masalah
yang masih bergulir, Eka jatuh sakit. Tubuhnya yang kekar menjadi lemah
terbaring di rumah sakit. Selama pengobatan, Tiara yang merawat. Tiara
benar-benar persis mamanya. Dokter yang lemah lembut namun terkadang bawel. Astri
yang datang menjenguk tidak berani mengatakan apa-apa tentang kondisi
perusahaan. Astri hanya menceritakan hal-hal baik meskipun matanya tidak bisa
menahan untuk menangis. Beberapa karyawan mengajukan untuk mengundurkan diri
dan beberapa lagi bertahan hingga Eka pulih. “mba Astri, saya paham. Tanpa
mba ceritakan saya tau kondisinya. Saya hanya sebentar disini. Tapi nanti saya
akan kembali dan membalas perbuatannya.” ucap Eka dengan percaya
diri.
Setelah keluar dari rumah sakit, Eka kembali
dihadapkan dengan situasi darurat. Dia harus menjual semua aset termasuk rumah
untuk membayar kerugian perusahaan dan gaji karyawan. Eka benar-benar
menyedihkan di titik ini. Tanpa sadar, Eka yang semula minum di tempat biasa,
tiba-tiba pingsan. “biar saya saja pak. Saya akan mengurusnya.” ucapnya.
Suara ini tidak asing bagi Eka. Dia berusaha membuka matanya tapi masih terasa
berat dan pusing. Kepala Eka dikompres, suhu tubuhnya cukup tinggi dan sangat
lemah. “terima kasih sudah merawat saya. Siapapun kamu, aku sudah berhutang
budi 1 hidup. Biarkan aku membalas kebaikanmu.” ucap Eka yang berusaha
duduk. “tidak perlu. Bagiku membuatmu mampu bertahan dan kuat adalah doa
bagiku. Maafkan aku sudah berpikir buruk tentangmu. Aku menyesal.” ucap
Viola. Seorang gadis mandiri yang sudah terbiasa hidup menderita dan tahan
banting dalam ujian hidup. Ya, Viola. Wanita yang sekian lama Eka rindukan dan
cari, kini ada dihadapannya. Eka langsung memeluknya dan menangis.
—--
Pertemuan itu sangat penuh misteri. Terjadi
dengan kekuatan batin dan rasa yang tidak pernah berubah. Viola adalah wanita
yang diinginkan Eka. Karena sebelumnya Eka pernah mengalami kecelakaan dan
Viola lah yang mendonorkan darahnya. Eka kehabisan darah dan Viola sedang
mendonorkan darahnya. Sungguh beruntung, Eka masih bisa hidup dengan menerima
donor darah. Namun karena saat itu Viola mendengar banyak hal yang tidak baik
dari Eka, maka dia memutuskan untuk mundur teratur. Dia sadar bahwa Eka adalah
kasta bangsawan sedang Viola hanya rakyat jelata. Harus bekerja keras baru bisa
makan dan membayar biaya pendidikannya.
“kenapa kamu seperti ini? Aku tau kamu kuat.
Kamu bukan tipe laki-laki yang mudah menyerah. Jika ada yang bisa kulakukan
untuk membuatmu bangkit, aku akan lakukan itu.” ucap Viola. Mendengar ucapan Viola, Eka meraih
tangannya dan berkata,”cukup berada disampingku dan izinkan aku membuatmu
bahagia, itu yang kumau darimu.” jawabnya. Mereka akhirnya larut dalam
percakapan tentang masa lalu, sekarang dan masa yang akan datang.
Matahari menembuskan cahayanya dari awan putih.
Embun pagi membasahi tanaman hijau dan burung saling berkicau pagi ini. Eka
bergegas untuk berangkat ke kantor. Dia telah mempersiapkan strategi untuk
membalas kegagalan kemarin. Sesampainya di depan kamar Tiara, Eka melihat Tiara
tergeletak di atas lantai. Wajah panik Eka tidak dapat disembunyikan. Dia
benar-benar kalut dan takut kehilangan. Eka segera membawa Tiara ke rumah
sakit. Sesampainya disana, Tiara dibawa langsung ke UGD. Eka menunggu hasil
diagnosa dokter. Viola yang kala itu sedang bekerja dan mendapati kondisi Tiara
di UGD, segera menyusul ke rumah sakit. Dan ketika bertemu, Viola meminta Eka
untuk menyelesaikan masalah di kantor dan Viola yang menjaga Tiara.
Ketika sampai di kantor, Eka langsung memimpin
rapat darurat. Semua bukti yang telah dia kumpulkan disampaikan di dalam rapat
dan membuat semua tim bergerak cepat. Bukti yang menjadi kunci dari alasan
mengapa semua investor menarik diri. Eka sangat beruntung karena sahabat yang
dia percayai, Bayu bersedia membantunya. Sedikit mengulik, Eka dan Bayu adalah
sahabat baik selama mereka duduk di SMP hingga berlanjut ke SMA. Bayu yang juga
mengenal Edo, tidak menyukai sikapnya yang sombong karena kekayaan yang
orangtuanya miliki. Dan hebatnya, Bayu bisa mengetahui dalang dibalik masalah
ini adalah Edo. Karena sebelumnya Edo pernah berkata,”aku akan buat kamu
hancur dan menderita. Kamu tidak pantas untuk menjadi manusia sukses dan hanya
aku lebih baik.”. Pernyataan itu Edo sampaikan karena om Hans pernah
membanding-bandingkan Edo dengan Eka. Hal itu tidak disukai Edo.
Selepas pembicaraan itu, Bayu berpamitan dengan
Eka. Mereka berjanji untuk saling menjaga dan mendukung satu sama lain. Eka
segera menuju ke rumah sakit. Di sana, Viola duduk menunggu sambil memegang
amplop berwarna coklat. “Viola, terima kasih ya. Kamu sudah jaga Tiara. Aku
bawakan makanan kesukaan kamu nih. Sekarang aku yang jaga Tiara.” ucapnya.
Viola hanya duduk terdiam tanpa bisa berkata-kata. Dia menyerahkan amplop
coklat dan segera Eka membukanya. “Tuhan, cobaan apalagi ini?” lirih Eka
sambil membaca hasil diagnosa dokter. Tertera di dalam diagnosa itu bahwa Tiara
mengidap Leukimia. Selama ini Eka tidak memperhatikan dengan kondisi Tiara. Eka
fokus kepada masalah yang dia hadapi di kantor. Tangisannya menjadi-jadi tatkala
mengingat mama, papa dan Tiara. “aku harus bagaimana, Tuhan?”
gumamnya.
Sebulan telah berlalu. Tiada suara rame
di rumah ini. Sepi. Hujan sudah turun selama seminggu. Bunga di pekarangan layu
dan perlahan mati. Eka sendiri di ruang makan. Sesekali matanya tertuju kepada
foto keluarga di ruang tengah. Teringat masa-masa ketika papa, mama dan Tiara
berkumpul di ruang itu. Separuh hidupnya hanya untuk pekerjaan dan separuhnya,
sendiri. Sejak Tiara tiada, Eka lebih memilih diam di rumah dan pekerjaannya
hanya melalui komputer dan online. “Tiara. Kamu pasti senangkan? Sudah
ketemu papa sama mama. Mas disini sendiri dek. Mas gak punya teman ngobrol.
Biasanya sekarang kita ngumpul, makan bersama dan jalan-jalan. Sekarang sudah
tidak lagi.” tangis Eka pecah saat memandang foto keluarga. Bahkan, orang
yang dicintai Eka, Viola pun pergi begitu saja. Entah apa sebabnya, Viola tidak
meninggalkan kabar apapun bahkan tidak pernah menghubunginya.
Hari-hari Eka hanya diisi dengan pekerjaan dan
ngobrol dengan Bayu. “Ka, jujur. Aku tuh bingung dengan Viola. Sepertinya
dia punya masalah yang dia sendiri gak mau cerita ke kamu dan mungkin dengan
caranya dia tidak mau membebanimu.” ucap Bayu. Percakapan di telepon hari
itu sangat panjang. Bayu berusaha meyakinkan Eka bahwa semuanya akan baik-baik
saja. “kamu kan tau kalo Viola itu punya watak keras. Jika memang kalian
berjodoh, sepatutnya dia bisa berpikir lebih realistis. Bahkan jika kamu
terjatuh seperti inipun, dia harusnya ada di samping kamu. Bukan pergi menjauh
atau menghindar. Kamu sering-sering keluarlah. Lihat dunia. Diammu bukan
jawaban. Ingat! Masih banyak wanita baik. Wanita yang sepadan denganmu, yang
punya kelas dan pastinya punya sikap. Maaf, bukannya aku bermaksud untuk kasar
ke kamu. Tapi kamu harus buka mata dan telinga. Gak perlu sembunyi. Hadapi!”
tegas Bayu kepada Eka. Kata-kata yang membuat Eka bangkit dari rasa terpuruk.
Dan benar saja, Eka mencoba memulai kembali hidupnya dan mencari hal-hal yang
menyenangkan.
Kembali ke kantor, Eka melangkahkan kaki dengan
mantap. Astri menyambut dengan senyuman. Semua karyawan bertepuk tangan atas
kembalinya Eka. Benar-benar menyenangkan. Siang hari, Eka menuju tempat biasa
dia beli es kopi. Setelah memesan minuman, Eka menuju kursi kesukaannya. Sambil
melihat berita di tabletnya, seseorang menghampiri. “maaf mas, es kopinya
kemanisan.” ucapnya.
Sekian
Comments
Post a Comment