Cerpen: Pelangi untuk Alesha oleh Isma Rachmadani Siregar
Pelangi untuk Alesha
Oleh:
Isma Rachmadani Siregar
Hujan
yang memecah rasa rindu. Menitikkan setiap tetesan yang mewakili jutaan air mata.
Tiada henti layaknya detak jantung yang berpacu dengan waktu. Kursi ini masih
hangat dan dia enggan beranjak karena masih ingin memeluk kerinduan yang tak
tahu sampai kapan bisa melepaskannya. Lalu, dalam hati dia berguman,” aku
terjebak lagi dan lagi.”
“Mama,
berikan Alesha kebebasan untuk memilih. Alesha tau mana yang benar dan salah.
Sekali lagi ini saja ma, tolong,” lirihnya dengan memegang erat tangan seorang
ibu yang memandangnya dengan amarah.
Beranjak
meninggalkannya dengan memegang bara api memanas. Dan Alesha tertunduk menangis
hingga memegang dadanya yang seakan menahan sesaknya kehidupan.
“Apa
aku harus pergi dengan cara yang aku sendiripun tak sanggup melakukannya? Sial!
Hidupku penuh drama, aku benci diriku!” gumamnya sambil membanting pintu kamar.
Pagi
ini, matahari serasa ingin membakar kulitnya. Kicauan burung saling bersahutan
dan meramaikan loteng kamarnya.
“Semoga
aku sanggup menatap matanya hari ini. Jika tidak, bisa mati aku!” Alesha yang
sedang bersiap-siap berangkat kerja.
Tidak
seperti biasa, mama Arlies tidak keluar dari kamarnya. Hanya meletakkan gelas
sisa minum semalam di atas meja makan. Hanya terdengar suara televisi dari
kamar mamanya.
“Apa
aku buka pintu kamarnya saja? Nanti kalo aku masuk, bakalan dicuekin. Tapi,…,” pikirnya
dengan mengenggam kunci mobil.
“Ma,
Lesha berangkat kerja dulu,” seraya berlalu. Dan, tidak ada jawaban apapun dari
mamanya.
“Jika
hidupmu terasa sulit, maka lepaskan perlahan beban-beban yang kamu simpan
dipundak, hati dan pikiran. Nikmati dan bersyukurlah,” suara yang berasal dari
radio mobil. Suara yang menjadi favoritnya Alesha setiap kali berangkat ke
kantor. Siapa lagi, Merry Riana, sang motivator yang Alesha selalu ikuti
kelasnya.
“Gila
ya, temanya kok pas bener sama hatiku. Nyesek banget!” ucapnya.
Sesampainya
di kantor, Alesha menerima paket. Ukurannya gak terlalu besar dan dibungkus dengan
kertas kado berwarna coklat kesukaannya. Tidak ada nama pengirim.
“Cie,
yang dapat paket. Senang tuh. Buka dong, penasaran nih,” desak Kiki. Kiki teman
sedivisi Alesha. Kiki yang dunianya penuh dengan rasa penasaran, ketawa paling
ngakak, tukang ngemil dan pengertian banget sama Alesha.
“Ntar
dulu, aku mau buat moccacino. Kamu ada roti? Biasanya kamu punya banyak stok
makanan di laci kerja, bagi satu ya,” Alesha menghampiri meja kerja Kiki dan
buka laci kerjanya.
Suasana
kantor sesekali berubah dengan hadirnya orang-orang baru. Dan Alesha senang
karena kantor jadi berwarna. Ketika pada ngumpul di dapur, Alesha sering masak
dan teman lainnya yang suka merekamnya lalu dijadikan video buat nambahin
konten promosi perusahaannya. Dan keseharian mereka berkaitan dengan
jurnalistik. Alesha paling jago dalam membuat berita dan content creator adalah
sisi lainnya.
“Halo
semuanya, ini Tomi. Dia bakalan bergabung sama tim kita. Dia photographer yang
baru saja lulus. Silahkan kenalan masing-masing ya,” ucap bang Widdi. Dia
pimpinan redaksi di perusahaan. Bang Widdi merupakan cowok idaman Alesha tapi
sayangnya sudah menikah. Tipikal cowok yang punya wibawa tinggi, si pembuat
keputusan yang cerdas, wajah manis mengalahkan gula putih, hobinya lari dan
yang paling penting, istrinya cemburuan banget. Alesha mundur seribu langkah.
“Hai
Tomi, aku Alesha. Selamat bergabung ya,” ucap Alesha dengan tatapan mata tajam.
Bahasa tubuh Tomi menunjukkan bahwa dia sudah bertemu dengan Alesha. Dan tepat,
Alesha di depannya, memperhatikannya dan membalas jabat tangan Alesha.
“Aku
Kiki. Kamu kan photographer, pasti bisa ambil foto yang bagus dong,” Kiki
langsung menarik tangan Alesha dan menjabat tangan Tomi. Tomi menjawab dengan
anggukan namun matanya masih menatap Alesha yang sudah kembali ke meja
kerjanya.
Hari
itu benar-benar membuat semuanya larut dalam pembicaraan antara Paris ke
Bandung. Namun, masih terus tatapan itu tidak lepas kepada Alesha.
-----
Pagi
kembali menyapa. Mama Arlies sudah berkeliling melihat tanaman hijaunya.
Susunan pot tertata rapi dan segarnya dedaunan yang tersapu angin. Alesha hanya
menatap dari jendela kamar.
“Ma,
aku minta maaf. Aku gak akan mengulangi kesalahan kemarin. Maafin Lesha ya ma,”
Alesha memeluk mamanya dari belakang sambil mencium punggungnya dengan tarikan
nafas yang panjang.
“Oke,
dengan satu syarat,” tegas mamanya dengan membawakan secangkir teh hangat.
“Syarat
apa ma? Kok pake syarat segala sih. Biasanya juga minta dibeliin jajanan;” jawabnya
bingung.
“Mama
tidak suka dia. Apapun itu, mama tidak
akan memberikan restu. Jika kamu masih
dekat dengan dia, mama akan pergi!” tegasnya mama Arlies dengan bola mata yang
melotot ke Alesha.
“Oke
ma. Demi mama, Lesha mengalah. Sampai kapanpun Lesha akan sendiri sampai mama
dapatkan seseorang yang menurut mama baik buat Lesha,”jawabnya dengan tertunduk
lemah.
Percakapan
pagi ini terasa kering bak gurun pasir yang panas. Dua orang yang memiliki
watak yang keras. Namun akhirnya Alesha harus mengalah karena keyakinan akan
mencapai surga itu terletak pada keputusan mamanya.
Tujuan
ke kantor harus terhenti di tengah jalan. Alesha menatap paket yang belum dia
buka.
“Apa
aku harus buka sekarang ya? Penasaran sih tapi aku takut.” Alesha lalu
memalingkan wajah dan menyetel radio.
“I
just wanna say it straight from my heart, I miss you..,” lagu yang tiba-tiba
muncul di radio dan Alesha pun larut dalam alunan lagu Westlife, boyband yang
disukai pada jamannya.
Hari
ini kantor sedang ramai. Ada tamu yang datang dari sebuah perusahaan alat berat
yang ingin mengajak kerjasama jurnalistik. Alesha diminta bang Widdi untuk
menemaninya saat pertemuan itu berlangsung. Bukan tanpa alasan bang Widdi
memilihnya. Alesha terkenal cerdas dalam melobi dengan rangkaian kata maut
penuh penasaran akut.
“Baik pak.
Kita akan jadwalkan pertemuan berikutnya. Dan kami berharap bapak dan rekan
dapat berkunjung ke kantor kami nanti,” tutup pak Wiyo selaku manajer.
“Bang,
kok mereka bisa milih kantor kita ya buat kerjasama? Bukannya tim redaksi di
perusahaan mereka juga pada pinter-pinter kan?” tanya Alesha sambil merapikan
meja rapat. Bang Widdi hanya tersenyum dan berjalan keluar ruangan.
Jam
dinding menunjukkan pertanda bahwa usus beserta keluarga lambung harus menerima
jatah premannya. Alesha dan teman-temannya pergi makan di seberang kantor.
Tampak dari kejauhan, Tomi sedang mengambil foto di sekitar kantor.
“Woi,
Tomi. Sini! Makan disini!” teriak Kiki melambaikan tangan ke arah Tomi.
Di
tengah-tengah menikmati makanan, hp Alesha berbunyi. Ada nomor yang tidak dia
kenal namun mengirimkan foto saat dia sedang rapat tadi. Foto yang menunjukkan
betapa profesionalnya Alesha saat menjelaskan sesuatu. Tentu saja, Alesha kaget
dan terdiam selama dua menit. Lalu, menyendokkan makanan dan mematikan hpnya.
-----
Tidak seperti
biasanya, mama Arlies memasak makanan kesukaan Alesha. Telur dadar pedas dengan
potongan cabe yang besar, nasi goreng kampung dan kerupuk merah putih.
“Lesha,
ini mau dimakan di rumah atau jadi bekal?” tanya mama.
“Jadi
bekal aja ma, biar siang aku makan di kantor,” sahutnya sambil merapikan jilbab
coklatnya. Kartu nama yang dikalungkan memperlihatkan Alesha begitu keren dan
terkesan rajin.
Perjalanan
menuju kantor tidak sepanjang jalan kenangan. Alesha menikmati setiap menitnya
sambil membayangkan hal-hal menyenangkan yang bisa dia lakukan di weekend
nanti. Yang dia inginkan hanyalah kepercayaan dari mamanya. Rasa percaya untuk
bisa menentukan siapa yang tepat. Namun sangat disayangkan, muncul masalah lain
yang membuat Alesha dilema.
“Lesha
sayang mas, tapi mas juga harus bisa yakinin keluarga Lesha juga. Bukan hanya
Lesha yang harus ngertiin mas. Mas egois!’ tutupnya mengakhiri telpon siang
itu.
“Aku
sudah berusaha Lesha, tapi aku bisa apa! Setiap kali aku berusaha ngeyakinin
yang ada kamu juga tidak membantuku. Aku sadar, aku gak bisa seperti yang
kalian mau. Maaf!” Kata-kata terakhir yang masih terngiang di benak Alesha.
Rindu
tak berujung. Sayang tak dapat diraih. Airmata menjadi pelipur lara dan senyum
membalut luka. Sesaat terjebak dalam masa lalu dan meninggalkan bekas kenangan.
Biarlah malam melarutkan duka dan berharap mimpi menjadi penyembuh luka.
Bang
Widdi, Alesha dan Tomi menuju perusahaan alat berat. Menuntaskan Kerjasama
tempo lalu.
“Lesha,
sudah disiapkan slidenya?” tanya bang Widdi.
“Sudah
bang. Penjelasan dan contohnya sudah Lesha siapkan,” jawabnya
“Tomi,
kamu nanti ambil dokumentasinya yang pas ya biar kita siap posting setelah
ini,” pinta bang Widdi.
“Siap
bang, kamera sudah oke.” sahut Tomi sambil memeriksa handphonenya.
Perusahaan
alat berat terbesar yang mendukung pertambangan daerah. Perusahaan yang
sebelumnya menjadi target Alesha untuk menempati posisi sebagai IT support.
Tetapi pada kenyataan, bukan Alesha yang masuk tetapi dia.
“Mas,
cari pekerjaan yang gajinya banyakan dong. Biar biaya nikah kita bisa
tertutupi. Lagian nantinya kita bakalan punya keperluan banyak setelahnya,” ungkap
Alesha dengan memijat bahu dia.
“Iya
pasti mas cari. Tapi janji ya nemenin mas sampai berhasil,” sahutnya.
“Lesha
selalu ada buat mas. Mas nanti menghadap ke keluarga ya biar hubungan kita
mendapat restu juga,” pinta Alesha.
Ketika
mobil berhenti, Alesha terkejut. Lamunannya buyar ketika pundaknya ditepuk bang
Widdi. Bergegas masuk ke kantor dengan diarahkan petugas menuju ruang manajer.
Sesampainya
di dalam ruangan, pak Wiyo mengajak bang Widdi, Alesha dan Tomi menikmati
hidangan. Karena pada saat mereka tiba, perusahaan sedang mengadakan syukuran.
Tiba pada waktu presentasi, Alesha dan tim masuk ke sebuah aula besar. Disana
semua karyawan sudah berkumpul. Bak lautan manusia, Alesha pun bergegas
menyiapkan presentasi sebaik mungkin dan Tomi disibukkan dengan jepret sana
sini.
“Hari
ini kita akan mendapat materi jurnalistik dari bang Widdi dan kawan-kawan. Saya
harap teman-teman bisa menyimak dan setelahnya bisa mempraktikkan
masing-masing.” ucap pak Wiyo sambil membuka sesi presentasi.
“Baik
bapak dan ibu, saya harap materi tadi bisa bermanfaat dan dapat diterapkan.
Kami akan memilih 3 terbaik yang nantinya akan dimuat di berita online dan juga
koran. Semangat ya pak bu,” tutup Alesha. Semangatnya masih berkobar seperti
mengajar di kelas.
Presentasi
selesai, bang Widdi, Alesha dan Tomi bersiap-siap pulang. Tiba-tiba, seorang
petugas kantor memberikan bingkisan kepada Alesha. Alesha tersenyum dan
menerima bingkisan dengan balutan warna coklat. Dan segera meninggalkan kota
itu.
-----
Akhir
pekan merupakan hari kebebasan untuk Alesha. Seperti list kegiatan yang sudah
dia tulis, dia konsisten buat mengerjakan. Dia suka bedah kamar, membuat
cemilan dan berlama-lama di depan komputer.
Mata
Alesha tertuju pada 2 benda. Sama-sama berlapis kertas berwarna coklat.
“Kali
ini aku harus berani membukanya. Siapa tau isinya sesuatu yang aku sukai,” gumam
Alesha sambil membuka perlahan kertas pembungkusnya. Dan tiba-tiba,
“Lesha,
ini ada teman kamu,” mama memanggilnya dengan gaya khasnya.
“Tomi,
kok kamu tau rumah Lesha?”, tanyanya sambil mengajak Tomi masuk.
“Iya,
tanya-tanya sama mba Kiki. Aku ganggu ya?” tanya Tomi.
“Gak
ganggu, santai aja. Aku juga lagi santai di kamar. Mau minum apaan nih? Manis,
pahit, panas atau dingin?” tanyanya Alesha dengan gurauan khasnya.
Mama
Arlies diam-diam menyimak percakapan mereka. Ingin bergabung tapi momennya
kurang tepat. Tetapi Tomi sudah bisa menangkap bahasa tubuh mamanya Alesha yang
ingin mengenal jauh tentang dirinya.
“Kalo
kamu gak sibuk, ikut aku keluar sebentar. Bisa?” pinta Tomi setelah menenguk
segelas air.
“bisa.
Bentar aku izin ke mama ya,” sahutnya.
Setelah
melewati proses perizinan yang lumayan alot, akhirnya mama ngebolehin asal
tidak pulang larut malam.
Selama
perjalanan, Tomi berusaha untuk mendekati Alesha. Namun dia tidak memiliki
keberanian untuk bertanya lebih lanjut. Takut Alesha menjauh dan membatasi
diri.
Tiba-tiba,
Alesha meminta Tomi untuk mengarahkan setirnya menuju sebuah café langganannya.
Entah mengapa tiba-tiba dia ingin mengulang masa itu. Masa dimana Alesha dan
dia sering menghabiskan waktu berdua. Membahas masa depan dan yakin pada satu
keputusan.
“Selamat
datang. Silahkan pilih tempat favoritnya.” sapa seorang pria dengan ramah yang
membuka pintu untuk Alesha dan Tomi.
Alesha
memilih tempat yang dulu. Tempat penuh kenangan namun tidak semanis kenyataan.
Tomi yang mengikutinya, hanya bisa terdiam memandangi wajah Alesha yang
berubah.
“Wanita
ini membuat aku penasaran. Tapi tak mengapa, aku harus bisa kali ini.”gumam
Tomi.
“Yang,
kamu udah siapkan buat hidup bersamaku? Aku serius. Aku akan buktikan bahwa aku
layak menjadi pendampingmu. Sabar ya saying, selangkah lagi.” ucapan seseorang
yang membuat warna buat Alesha kala itu.
“Siap
100 persen dong sayangku. Aku siap. Siap buat menjadikan kamu raja dan aku
ratunya. Kek bener aja deh, hihihi.” jawab Alesha.
Lagi
dan lagi, Alesha hanyut dengan masa lalunya. Semakin teringat, semakin sesak.
Beribu bahkan jutaan doa telah dia panjatkan, tetapi keputusan akhir harus dia
terima. Bukan dengan pil pahit tapi tajamnya pedang menusuk dan merobek
jantung.
“Lesha,
aku ingin bertanya. Semoga kamu tidak marah. Karena aku tidak berniat menyakiti
bahkan melukai perasaan kamu.” tanya Tomi penuh harap.
“Ya
tanya aja Tom. Jika sanggup, Lesha akan jawab. Jika tidak….,” gelengan kepala
Alesha serasa menolak untuk berkomentar.
Wajah
Alesha memerah. Bukan merasakan panasnya amarah tapi menimbun kerinduan tak
berkesudahan yang terbalut selimut kekecewaan. Entah sampai kapan, tetapi
Alesha berharap masih ada secercah harapan di ujung doa.
“Lesha
masih berharap buat bisa mengulang masa itu. Karena semakin Lesha menjauh,
semakin sesak rasa ini. Kenyataan mau tidak mau, harus Lesha terima. Sekali
lagi, untuk menyelesaikan jalan cerita yang mengambang. Dan setelah itu, Lesha
ingin berjalan jauh.” jawabnya dengan tatapan memelas.
Sebuah
notifkasi masuk ke handphone Alesha. Percakapan siang ini meneteskan air mata.
Tomi tidak sanggup meneruskan. Merasakan Alesha sebagai seorang perempuan yang
berhak memiliki kebahagiaan. Tapi, terbatas antara ruang dan waktu. Memahami
artinya kebebasan tetapi justru terikat dengan sakitnya keterpaksaan.
“Aku
tidak bermaksud untuk membuka luka lama. Aku juga tidak ingin menghapus
harapanmu. Aku hanya ingin memberi Pelangi. Hanya itu.” suara yang benar-benar
melelehkan perasaan Alesha.
Alesha
dan Tomi saling menatap. Membiarkan waktu terus berpacu dalam melodi kehidupan.
Mencintai bukanlah kesalahan. Mencintai adalah pilihan. Alesha hanya membela
apa yang menjadi inginnya. Dan Tomi hanya ingin berada disisinya.
-----
Malam
begitu dingin. Bulan menyerang bumi dengan pantulan cahaya. Denting jam dinding
memecahkan kesunyian. Alesha menatap langit penuh kerinduan. Sesekali mencuri
pandang pada dua benda bersampul coklat. Keputusannya pada tahap melepaskan
masih ditahan. Menanti kepastian setelah seseorang yang menempati relung hati
selama 12 tahun lamanya, menghilang begitu saja. Tanpa bekas, tanpa kabar.
“Yudha,
jika di kehidupan ini, kita tidak bisa bersama, maka aku berharap kita bisa
bertemu di kehidupan selanjutnya. Entah itu kamu masih menjadikanku cinta
abadimu atau melupakanku bagaikan debu. Semoga angin dapat menyampaikan isi
hatiku.” ungkap Alesha menatap selembar foto yang terselip didalam dompetnya.
Yudha
seorang lelaki yang benar-benar merubah Alesha menjadi wanita yang periang kala
itu. Bukan seorang yang memiliki wajah tampan, hanya memiliki sepeda motor
lawas. Tetapi istimewanya, dia paham lagu kesukaan Alesha, Westlife. Dari dia,
Alesha belajar tentang komputer. Dan dari Alesha, dia mendapat kehidupan yang
lebih baik.
“Sesederhana
itu dalam mencintaimu. Apakah aku bodoh? Atau aku sudah terhipnotis dengan
kepolosanmu? Hukuman macam apa ini? Sekali aku mencintai, sakitnya tak
berujung.” Alesha menyeka air mata.
Perlahan
tangan Alesha meraih 2 benda di hadapannya. Membuka setiap perekat dengan
tajamnya pisau. Dan, ternyata.
“Dear
Alesha. Jika kamu sedang membaca ini, aku bersyukur. Setiap doa selalu kusebut
namamu. Bisikan angin malam seperti biasa kamu ucapkan, selalu mampir dan
memberiku rasa hangat. Aku selalu ingat tawamu, manjamu, cerewetnya kamu dan
semua hal-hal indah bersamamu. Aku berharap aku bisa mengulangi masa indah itu.
Tetapi, inilah aku. Seorang Yudha yang tak memiliki keberanian untuk meraih
tanganmu. Aku tak bisa berhenti memikirkanmu walaupun itu hanya sedetik. Kamu
selalu ada di hatiku sampai kapanpun. Maafkan. Yudha S.”
Alesha
sekuat tenaga untuk tidak menangis. Namun, sekuat apapun wanita, jika dia patah
hati, maka bukan hanya waktu sebagai penyembuh. Tetapi perlu hati baru yang
benar-benar bisa merapikan kembali kepingan harapan yang hancur.
Selember
kertas terselip diantara tumpukan foto-foto penanda kebersamaan. Dan satu foto
yang membuat Alesha menyadari bahwa selama ini Yudha selalu memperhatikannya
meskipun dia tak bisa menyapanya secara langsung. Benda kesukaan Alesha yang
pernah dia minta dulu terbungkus rapi dalam plastik berpitakan merah jambu.
Benda itu gelang kayu berukiran nama mereka berdua.
“Jika
kamu bertemu dengannya, maka dia adalah aku. Dia orang yang dapat menjagamu
lebih baik daripada aku. Dia yang bisa melindungimu bukan seperti aku. Dan dia
lebih baik melebihi aku.” Rekaman suara yang penuh tangis dan
enggan untuk mengucapkan salam perpisahan.
Ternyata
benda pertama yang Alesha buka adalah sekumpulan dokumentasinya dengan Yudha
saat mereka masih bersama. Barang-barang yang memiliki makna kuat bagi Alesha.
Dan benda kedua cukup membuat Alesha terkejut.
“Tuhan,
hari ini persis dihadapanku. Dia Wanita yang luar biasa. Aku ingin mengenalnya.
Banjarbaru, 2019.” Kalimat pertama di foto perdana.
“Tuhan,
beri aku jalan agar aku bisa bersamanya. Aku ingin menjaganya dan melihat
senyumnya. Day 2.” Kalimat pada foto kedua.
“Tuhan,
hari ini dia begitu cantik. Dia menyerap energi cintaku. Dia membuatku lepas
kendali. Day 3.” Kalimat pada foto ketiga.
“Tuhan,
jangan biarkan dia menangis. Aku ingin menjadi Pelangi untuknya meskipun aku
tau perasaannya bukanlah untukku. Day 4.” Kalimat pada foto
keempat.
Semakin
Alesha memperhatikan satu persatu foto tersebut, semakin hancur perasaannya.
Bingkai foto yang terikat pita merah jambu itu membuatnya sadar. Ternyata
seseorang di masa lalunya ingin Alesha bahagia dengan cara yang Alesha sendiri
tak habis pikir.
“Mengapa
dia? Kenapa harus dia yang kamu pilih untuk mengobati lukaku? Tidak bisakah
kamu ucapkan selamat tinggal dan beri aku satu pelukan. Pelukan terakhir.”
Alesha benar-benar tak bisa menahan lagi. Petir di malam itu saling bersahutan.
Dan hujan turun sebagai teman penghapus air mata.
“Yudha.
Jika kamu melihat hujan malam ini, aku ingin katakan. Sebanyak tetesan air
hujan yang turun, sebanyak itu juga rasa sayangku kepadamu. Namun, jika hujan
ini sebagai penanda perpisahan kita, aku hanya berharap, esok aku masih bisa
melihat indahnya pelangi. Biarkan aku berdiri di bawah hujan ini. Karena tidak
akan ada orang yang tau bahwa aku sedang menangisimu.” Alesha membiarkan rambut dan tubuhnya basah
diterpa hujan deras malam itu.
-----
Embun
pagi terasa sejuk. Hari ini merupakan hari yang special untuk Alesha. Akhirnya
dia terpilih dari kantor untuk mengikuti tur keliling negara Eropa setelah dia
menjadi juara menulis berita online. Seperti biasa, Alesha selalu membalas
kegagalan di masa lalu dengan prestasi. Alesha selalu berusaha agar segala
permasalahan hatinya tidak perlu untuk ditunjukkan. Tetap tersenyum dan jalani
hidup dengan bersyukur.
Mama
Arlies yang mengantarkannya ke bandara, telah kembali pulang kerumahnya. Di
ruang tunggu, Alesha sedang mendengarkan musik di handphonenya. Tiba-tiba,
seseorang duduk di sebelahnya dan berkata,
“Aku
temenin ya.” Tanya seorang pria berkacamata.
Alesha
terkejut dan menjawab,
“Tomi?
Loh kok? Kok kamu ada disini? Kok bisa?” tanya Alesha
Lalu
Tomi meletakkan koper dan duduk di samping Alesha.
“Bisa
dong. Karena aku punya tiket spesial.” jawabnya
“Tiket
spesial? Maksudnya?” tanya Alesha
“Satu
tiket tur dan satu tiket restu mamamu untukku” jawab Tomi.
Alesha
menjawab dengan senyum lebar. Mereka menghabiskan waktu berkeliling Eropa
hingga akhirnya, Dokumentasi perjalanan menjadi bagian dari pre wedding mereka.
Lantas, apa yang membuat mama Arlies begitu mudahnya memberi restu kepada Tomi
sedangkan tidak kepada Yudha. Alesha menyadari bahwa untuk melihat indahnya
pelangi, maka nikmatilah hujan. Bukankah semua manusia pasti menemukan belahan
hatinya? Jika belum, maka biarkan Tuhan menempatkan seseorang pada waktu yang
tepat.
Pelangi
untuk Alesha.
Comments
Post a Comment