Cerpen: Pelangi untuk Alesha oleh Isma Rachmadani Siregar

 Pelangi untuk Alesha

Oleh: Isma Rachmadani Siregar

source.teahub.io

Hujan yang memecah rasa rindu. Menitikkan setiap tetesan yang mewakili jutaan air mata. Tiada henti layaknya detak jantung yang berpacu dengan waktu. Kursi ini masih hangat dan dia enggan beranjak karena masih ingin memeluk kerinduan yang tak tahu sampai kapan bisa melepaskannya. Lalu, dalam hati dia berguman,” aku terjebak lagi dan lagi.”

“Mama, berikan Alesha kebebasan untuk memilih. Alesha tau mana yang benar dan salah. Sekali lagi ini saja ma, tolong,” lirihnya dengan memegang erat tangan seorang ibu yang memandangnya dengan amarah.

Beranjak meninggalkannya dengan memegang bara api memanas. Dan Alesha tertunduk menangis hingga memegang dadanya yang seakan menahan sesaknya kehidupan.

“Apa aku harus pergi dengan cara yang aku sendiripun tak sanggup melakukannya? Sial! Hidupku penuh drama, aku benci diriku!” gumamnya sambil membanting pintu kamar.

Pagi ini, matahari serasa ingin membakar kulitnya. Kicauan burung saling bersahutan dan meramaikan loteng kamarnya.

“Semoga aku sanggup menatap matanya hari ini. Jika tidak, bisa mati aku!” Alesha yang sedang bersiap-siap berangkat kerja.

Tidak seperti biasa, mama Arlies tidak keluar dari kamarnya. Hanya meletakkan gelas sisa minum semalam di atas meja makan. Hanya terdengar suara televisi dari kamar mamanya.

“Apa aku buka pintu kamarnya saja? Nanti kalo aku masuk, bakalan dicuekin. Tapi,…,” pikirnya dengan mengenggam kunci mobil.

“Ma, Lesha berangkat kerja dulu,” seraya berlalu. Dan, tidak ada jawaban apapun dari mamanya.

“Jika hidupmu terasa sulit, maka lepaskan perlahan beban-beban yang kamu simpan dipundak, hati dan pikiran. Nikmati dan bersyukurlah,” suara yang berasal dari radio mobil. Suara yang menjadi favoritnya Alesha setiap kali berangkat ke kantor. Siapa lagi, Merry Riana, sang motivator yang Alesha selalu ikuti kelasnya.

“Gila ya, temanya kok pas bener sama hatiku. Nyesek banget!” ucapnya.

Sesampainya di kantor, Alesha menerima paket. Ukurannya gak terlalu besar dan dibungkus dengan kertas kado berwarna coklat kesukaannya. Tidak ada nama pengirim.

“Cie, yang dapat paket. Senang tuh. Buka dong, penasaran nih,” desak Kiki. Kiki teman sedivisi Alesha. Kiki yang dunianya penuh dengan rasa penasaran, ketawa paling ngakak, tukang ngemil dan pengertian banget sama Alesha.  

“Ntar dulu, aku mau buat moccacino. Kamu ada roti? Biasanya kamu punya banyak stok makanan di laci kerja, bagi satu ya,” Alesha menghampiri meja kerja Kiki dan buka laci kerjanya.

Suasana kantor sesekali berubah dengan hadirnya orang-orang baru. Dan Alesha senang karena kantor jadi berwarna. Ketika pada ngumpul di dapur, Alesha sering masak dan teman lainnya yang suka merekamnya lalu dijadikan video buat nambahin konten promosi perusahaannya. Dan keseharian mereka berkaitan dengan jurnalistik. Alesha paling jago dalam membuat berita dan content creator adalah sisi lainnya.

“Halo semuanya, ini Tomi. Dia bakalan bergabung sama tim kita. Dia photographer yang baru saja lulus. Silahkan kenalan masing-masing ya,” ucap bang Widdi. Dia pimpinan redaksi di perusahaan. Bang Widdi merupakan cowok idaman Alesha tapi sayangnya sudah menikah. Tipikal cowok yang punya wibawa tinggi, si pembuat keputusan yang cerdas, wajah manis mengalahkan gula putih, hobinya lari dan yang paling penting, istrinya cemburuan banget. Alesha mundur seribu langkah.

“Hai Tomi, aku Alesha. Selamat bergabung ya,” ucap Alesha dengan tatapan mata tajam. Bahasa tubuh Tomi menunjukkan bahwa dia sudah bertemu dengan Alesha. Dan tepat, Alesha di depannya, memperhatikannya dan membalas jabat tangan Alesha.

“Aku Kiki. Kamu kan photographer, pasti bisa ambil foto yang bagus dong,” Kiki langsung menarik tangan Alesha dan menjabat tangan Tomi. Tomi menjawab dengan anggukan namun matanya masih menatap Alesha yang sudah kembali ke meja kerjanya.

Hari itu benar-benar membuat semuanya larut dalam pembicaraan antara Paris ke Bandung. Namun, masih terus tatapan itu tidak lepas kepada Alesha.

-----

Pagi kembali menyapa. Mama Arlies sudah berkeliling melihat tanaman hijaunya. Susunan pot tertata rapi dan segarnya dedaunan yang tersapu angin. Alesha hanya menatap dari jendela kamar.

“Ma, aku minta maaf. Aku gak akan mengulangi kesalahan kemarin. Maafin Lesha ya ma,” Alesha memeluk mamanya dari belakang sambil mencium punggungnya dengan tarikan nafas yang panjang. 

“Oke, dengan satu syarat,” tegas mamanya dengan membawakan secangkir teh hangat.

“Syarat apa ma? Kok pake syarat segala sih. Biasanya juga minta dibeliin jajanan;” jawabnya bingung.

“Mama tidak suka dia. Apapun  itu, mama tidak akan  memberikan restu. Jika kamu masih dekat dengan dia, mama akan pergi!” tegasnya mama Arlies dengan bola mata yang melotot ke Alesha.  

“Oke ma. Demi mama, Lesha mengalah. Sampai kapanpun Lesha akan sendiri sampai mama dapatkan seseorang yang menurut mama baik buat Lesha,”jawabnya dengan tertunduk lemah.

Percakapan pagi ini terasa kering bak gurun pasir yang panas. Dua orang yang memiliki watak yang keras. Namun akhirnya Alesha harus mengalah karena keyakinan akan mencapai surga itu terletak pada keputusan mamanya.

Tujuan ke kantor harus terhenti di tengah jalan. Alesha menatap paket yang belum dia buka.

“Apa aku harus buka sekarang ya? Penasaran sih tapi aku takut.” Alesha lalu memalingkan wajah dan menyetel radio.

“I just wanna say it straight from my heart, I miss you..,” lagu yang tiba-tiba muncul di radio dan Alesha pun larut dalam alunan lagu Westlife, boyband yang disukai pada jamannya.

Hari ini kantor sedang ramai. Ada tamu yang datang dari sebuah perusahaan alat berat yang ingin mengajak kerjasama jurnalistik. Alesha diminta bang Widdi untuk menemaninya saat pertemuan itu berlangsung. Bukan tanpa alasan bang Widdi memilihnya. Alesha terkenal cerdas dalam melobi dengan rangkaian kata maut penuh penasaran akut.

“Baik pak. Kita akan jadwalkan pertemuan berikutnya. Dan kami berharap bapak dan rekan dapat berkunjung ke kantor kami nanti,” tutup pak Wiyo selaku manajer.

“Bang, kok mereka bisa milih kantor kita ya buat kerjasama? Bukannya tim redaksi di perusahaan mereka juga pada pinter-pinter kan?” tanya Alesha sambil merapikan meja rapat. Bang Widdi hanya tersenyum dan berjalan keluar ruangan.

Jam dinding menunjukkan pertanda bahwa usus beserta keluarga lambung harus menerima jatah premannya. Alesha dan teman-temannya pergi makan di seberang kantor. Tampak dari kejauhan, Tomi sedang mengambil foto di sekitar kantor.

“Woi, Tomi. Sini! Makan disini!” teriak Kiki melambaikan tangan ke arah Tomi.

Di tengah-tengah menikmati makanan, hp Alesha berbunyi. Ada nomor yang tidak dia kenal namun mengirimkan foto saat dia sedang rapat tadi. Foto yang menunjukkan betapa profesionalnya Alesha saat menjelaskan sesuatu. Tentu saja, Alesha kaget dan terdiam selama dua menit. Lalu, menyendokkan makanan dan mematikan hpnya.

-----

Tidak seperti biasanya, mama Arlies memasak makanan kesukaan Alesha. Telur dadar pedas dengan potongan cabe yang besar, nasi goreng kampung dan kerupuk merah putih.

“Lesha, ini mau dimakan di rumah atau jadi bekal?” tanya mama.

“Jadi bekal aja ma, biar siang aku makan di kantor,” sahutnya sambil merapikan jilbab coklatnya. Kartu nama yang dikalungkan memperlihatkan Alesha begitu keren dan terkesan rajin.

Perjalanan menuju kantor tidak sepanjang jalan kenangan. Alesha menikmati setiap menitnya sambil membayangkan hal-hal menyenangkan yang bisa dia lakukan di weekend nanti. Yang dia inginkan hanyalah kepercayaan dari mamanya. Rasa percaya untuk bisa menentukan siapa yang tepat. Namun sangat disayangkan, muncul masalah lain yang membuat Alesha dilema.

“Lesha sayang mas, tapi mas juga harus bisa yakinin keluarga Lesha juga. Bukan hanya Lesha yang harus ngertiin mas. Mas egois!’ tutupnya mengakhiri telpon siang itu.

“Aku sudah berusaha Lesha, tapi aku bisa apa! Setiap kali aku berusaha ngeyakinin yang ada kamu juga tidak membantuku. Aku sadar, aku gak bisa seperti yang kalian mau. Maaf!” Kata-kata terakhir yang masih terngiang di benak Alesha.

Rindu tak berujung. Sayang tak dapat diraih. Airmata menjadi pelipur lara dan senyum membalut luka. Sesaat terjebak dalam masa lalu dan meninggalkan bekas kenangan. Biarlah malam melarutkan duka dan berharap mimpi menjadi penyembuh luka.

Bang Widdi, Alesha dan Tomi menuju perusahaan alat berat. Menuntaskan Kerjasama tempo lalu.

“Lesha, sudah disiapkan slidenya?” tanya bang Widdi.

“Sudah bang. Penjelasan dan contohnya sudah Lesha siapkan,” jawabnya

“Tomi, kamu nanti ambil dokumentasinya yang pas ya biar kita siap posting setelah ini,” pinta bang Widdi.

“Siap bang, kamera sudah oke.” sahut Tomi sambil memeriksa handphonenya.

Perusahaan alat berat terbesar yang mendukung pertambangan daerah. Perusahaan yang sebelumnya menjadi target Alesha untuk menempati posisi sebagai IT support. Tetapi pada kenyataan, bukan Alesha yang masuk tetapi dia.

“Mas, cari pekerjaan yang gajinya banyakan dong. Biar biaya nikah kita bisa tertutupi. Lagian nantinya kita bakalan punya keperluan banyak setelahnya,” ungkap Alesha dengan memijat bahu dia.

“Iya pasti mas cari. Tapi janji ya nemenin mas sampai berhasil,” sahutnya.

“Lesha selalu ada buat mas. Mas nanti menghadap ke keluarga ya biar hubungan kita mendapat restu juga,” pinta Alesha.

Ketika mobil berhenti, Alesha terkejut. Lamunannya buyar ketika pundaknya ditepuk bang Widdi. Bergegas masuk ke kantor dengan diarahkan petugas menuju ruang manajer.

Sesampainya di dalam ruangan, pak Wiyo mengajak bang Widdi, Alesha dan Tomi menikmati hidangan. Karena pada saat mereka tiba, perusahaan sedang mengadakan syukuran. Tiba pada waktu presentasi, Alesha dan tim masuk ke sebuah aula besar. Disana semua karyawan sudah berkumpul. Bak lautan manusia, Alesha pun bergegas menyiapkan presentasi sebaik mungkin dan Tomi disibukkan dengan jepret sana sini.

“Hari ini kita akan mendapat materi jurnalistik dari bang Widdi dan kawan-kawan. Saya harap teman-teman bisa menyimak dan setelahnya bisa mempraktikkan masing-masing.” ucap pak Wiyo sambil membuka sesi presentasi.

“Baik bapak dan ibu, saya harap materi tadi bisa bermanfaat dan dapat diterapkan. Kami akan memilih 3 terbaik yang nantinya akan dimuat di berita online dan juga koran. Semangat ya pak bu,” tutup Alesha. Semangatnya masih berkobar seperti mengajar di kelas.

Presentasi selesai, bang Widdi, Alesha dan Tomi bersiap-siap pulang. Tiba-tiba, seorang petugas kantor memberikan bingkisan kepada Alesha. Alesha tersenyum dan menerima bingkisan dengan balutan warna coklat. Dan segera meninggalkan kota itu.

-----

Akhir pekan merupakan hari kebebasan untuk Alesha. Seperti list kegiatan yang sudah dia tulis, dia konsisten buat mengerjakan. Dia suka bedah kamar, membuat cemilan dan berlama-lama di depan komputer.

Mata Alesha tertuju pada 2 benda. Sama-sama berlapis kertas berwarna coklat.

“Kali ini aku harus berani membukanya. Siapa tau isinya sesuatu yang aku sukai,” gumam Alesha sambil membuka perlahan kertas pembungkusnya. Dan tiba-tiba,

“Lesha, ini ada teman kamu,” mama memanggilnya dengan gaya khasnya.

“Tomi, kok kamu tau rumah Lesha?”, tanyanya sambil mengajak Tomi masuk.

“Iya, tanya-tanya sama mba Kiki. Aku ganggu ya?” tanya Tomi.

“Gak ganggu, santai aja. Aku juga lagi santai di kamar. Mau minum apaan nih? Manis, pahit, panas atau dingin?” tanyanya Alesha dengan gurauan khasnya.

Mama Arlies diam-diam menyimak percakapan mereka. Ingin bergabung tapi momennya kurang tepat. Tetapi Tomi sudah bisa menangkap bahasa tubuh mamanya Alesha yang ingin mengenal jauh tentang dirinya.

“Kalo kamu gak sibuk, ikut aku keluar sebentar. Bisa?” pinta Tomi setelah menenguk segelas air.

“bisa. Bentar aku izin ke mama ya,” sahutnya.

Setelah melewati proses perizinan yang lumayan alot, akhirnya mama ngebolehin asal tidak pulang larut malam.

Selama perjalanan, Tomi berusaha untuk mendekati Alesha. Namun dia tidak memiliki keberanian untuk bertanya lebih lanjut. Takut Alesha menjauh dan membatasi diri.

Tiba-tiba, Alesha meminta Tomi untuk mengarahkan setirnya menuju sebuah café langganannya. Entah mengapa tiba-tiba dia ingin mengulang masa itu. Masa dimana Alesha dan dia sering menghabiskan waktu berdua. Membahas masa depan dan yakin pada satu keputusan.

“Selamat datang. Silahkan pilih tempat favoritnya.” sapa seorang pria dengan ramah yang membuka pintu untuk Alesha dan Tomi.

Alesha memilih tempat yang dulu. Tempat penuh kenangan namun tidak semanis kenyataan. Tomi yang mengikutinya, hanya bisa terdiam memandangi wajah Alesha yang berubah.

“Wanita ini membuat aku penasaran. Tapi tak mengapa, aku harus bisa kali ini.”gumam Tomi.

“Yang, kamu udah siapkan buat hidup bersamaku? Aku serius. Aku akan buktikan bahwa aku layak menjadi pendampingmu. Sabar ya saying, selangkah lagi.” ucapan seseorang yang membuat warna buat Alesha kala itu.

“Siap 100 persen dong sayangku. Aku siap. Siap buat menjadikan kamu raja dan aku ratunya. Kek bener aja deh, hihihi.” jawab Alesha.

Lagi dan lagi, Alesha hanyut dengan masa lalunya. Semakin teringat, semakin sesak. Beribu bahkan jutaan doa telah dia panjatkan, tetapi keputusan akhir harus dia terima. Bukan dengan pil pahit tapi tajamnya pedang menusuk dan merobek jantung.

“Lesha, aku ingin bertanya. Semoga kamu tidak marah. Karena aku tidak berniat menyakiti bahkan melukai perasaan kamu.” tanya Tomi penuh harap.

“Ya tanya aja Tom. Jika sanggup, Lesha akan jawab. Jika tidak….,” gelengan kepala Alesha serasa menolak untuk berkomentar.

Wajah Alesha memerah. Bukan merasakan panasnya amarah tapi menimbun kerinduan tak berkesudahan yang terbalut selimut kekecewaan. Entah sampai kapan, tetapi Alesha berharap masih ada secercah harapan di ujung doa.

“Lesha masih berharap buat bisa mengulang masa itu. Karena semakin Lesha menjauh, semakin sesak rasa ini. Kenyataan mau tidak mau, harus Lesha terima. Sekali lagi, untuk menyelesaikan jalan cerita yang mengambang. Dan setelah itu, Lesha ingin berjalan jauh.” jawabnya dengan tatapan memelas.

Sebuah notifkasi masuk ke handphone Alesha. Percakapan siang ini meneteskan air mata. Tomi tidak sanggup meneruskan. Merasakan Alesha sebagai seorang perempuan yang berhak memiliki kebahagiaan. Tapi, terbatas antara ruang dan waktu. Memahami artinya kebebasan tetapi justru terikat dengan sakitnya keterpaksaan.

“Aku tidak bermaksud untuk membuka luka lama. Aku juga tidak ingin menghapus harapanmu. Aku hanya ingin memberi Pelangi. Hanya itu.” suara yang benar-benar melelehkan perasaan Alesha.

Alesha dan Tomi saling menatap. Membiarkan waktu terus berpacu dalam melodi kehidupan. Mencintai bukanlah kesalahan. Mencintai adalah pilihan. Alesha hanya membela apa yang menjadi inginnya. Dan Tomi hanya ingin berada disisinya.

-----

Malam begitu dingin. Bulan menyerang bumi dengan pantulan cahaya. Denting jam dinding memecahkan kesunyian. Alesha menatap langit penuh kerinduan. Sesekali mencuri pandang pada dua benda bersampul coklat. Keputusannya pada tahap melepaskan masih ditahan. Menanti kepastian setelah seseorang yang menempati relung hati selama 12 tahun lamanya, menghilang begitu saja. Tanpa bekas, tanpa kabar.

“Yudha, jika di kehidupan ini, kita tidak bisa bersama, maka aku berharap kita bisa bertemu di kehidupan selanjutnya. Entah itu kamu masih menjadikanku cinta abadimu atau melupakanku bagaikan debu. Semoga angin dapat menyampaikan isi hatiku.” ungkap Alesha menatap selembar foto yang terselip didalam dompetnya.

Yudha seorang lelaki yang benar-benar merubah Alesha menjadi wanita yang periang kala itu. Bukan seorang yang memiliki wajah tampan, hanya memiliki sepeda motor lawas. Tetapi istimewanya, dia paham lagu kesukaan Alesha, Westlife. Dari dia, Alesha belajar tentang komputer. Dan dari Alesha, dia mendapat kehidupan yang lebih baik.

“Sesederhana itu dalam mencintaimu. Apakah aku bodoh? Atau aku sudah terhipnotis dengan kepolosanmu? Hukuman macam apa ini? Sekali aku mencintai, sakitnya tak berujung.” Alesha menyeka air mata.

Perlahan tangan Alesha meraih 2 benda di hadapannya. Membuka setiap perekat dengan tajamnya pisau. Dan, ternyata.

Dear Alesha. Jika kamu sedang membaca ini, aku bersyukur. Setiap doa selalu kusebut namamu. Bisikan angin malam seperti biasa kamu ucapkan, selalu mampir dan memberiku rasa hangat. Aku selalu ingat tawamu, manjamu, cerewetnya kamu dan semua hal-hal indah bersamamu. Aku berharap aku bisa mengulangi masa indah itu. Tetapi, inilah aku. Seorang Yudha yang tak memiliki keberanian untuk meraih tanganmu. Aku tak bisa berhenti memikirkanmu walaupun itu hanya sedetik. Kamu selalu ada di hatiku sampai kapanpun. Maafkan. Yudha S.”

Alesha sekuat tenaga untuk tidak menangis. Namun, sekuat apapun wanita, jika dia patah hati, maka bukan hanya waktu sebagai penyembuh. Tetapi perlu hati baru yang benar-benar bisa merapikan kembali kepingan harapan yang hancur.

Selember kertas terselip diantara tumpukan foto-foto penanda kebersamaan. Dan satu foto yang membuat Alesha menyadari bahwa selama ini Yudha selalu memperhatikannya meskipun dia tak bisa menyapanya secara langsung. Benda kesukaan Alesha yang pernah dia minta dulu terbungkus rapi dalam plastik berpitakan merah jambu. Benda itu gelang kayu berukiran nama mereka berdua.

“Jika kamu bertemu dengannya, maka dia adalah aku. Dia orang yang dapat menjagamu lebih baik daripada aku. Dia yang bisa melindungimu bukan seperti aku. Dan dia lebih baik melebihi aku.” Rekaman suara yang penuh tangis dan enggan untuk mengucapkan salam perpisahan.

Ternyata benda pertama yang Alesha buka adalah sekumpulan dokumentasinya dengan Yudha saat mereka masih bersama. Barang-barang yang memiliki makna kuat bagi Alesha. Dan benda kedua cukup membuat Alesha terkejut.

Tuhan, hari ini persis dihadapanku. Dia Wanita yang luar biasa. Aku ingin mengenalnya. Banjarbaru, 2019.” Kalimat pertama di foto perdana.

“Tuhan, beri aku jalan agar aku bisa bersamanya. Aku ingin menjaganya dan melihat senyumnya. Day 2.” Kalimat pada foto kedua.

“Tuhan, hari ini dia begitu cantik. Dia menyerap energi cintaku. Dia membuatku lepas kendali. Day 3.” Kalimat pada foto ketiga.

“Tuhan, jangan biarkan dia menangis. Aku ingin menjadi Pelangi untuknya meskipun aku tau perasaannya bukanlah untukku. Day 4.” Kalimat pada foto keempat.

Semakin Alesha memperhatikan satu persatu foto tersebut, semakin hancur perasaannya. Bingkai foto yang terikat pita merah jambu itu membuatnya sadar. Ternyata seseorang di masa lalunya ingin Alesha bahagia dengan cara yang Alesha sendiri tak habis pikir.

“Mengapa dia? Kenapa harus dia yang kamu pilih untuk mengobati lukaku? Tidak bisakah kamu ucapkan selamat tinggal dan beri aku satu pelukan. Pelukan terakhir.” Alesha benar-benar tak bisa menahan lagi. Petir di malam itu saling bersahutan. Dan hujan turun sebagai teman penghapus air mata.

“Yudha. Jika kamu melihat hujan malam ini, aku ingin katakan. Sebanyak tetesan air hujan yang turun, sebanyak itu juga rasa sayangku kepadamu. Namun, jika hujan ini sebagai penanda perpisahan kita, aku hanya berharap, esok aku masih bisa melihat indahnya pelangi. Biarkan aku berdiri di bawah hujan ini. Karena tidak akan ada orang yang tau bahwa aku sedang menangisimu.”  Alesha membiarkan rambut dan tubuhnya basah diterpa hujan deras malam itu.

-----

Embun pagi terasa sejuk. Hari ini merupakan hari yang special untuk Alesha. Akhirnya dia terpilih dari kantor untuk mengikuti tur keliling negara Eropa setelah dia menjadi juara menulis berita online. Seperti biasa, Alesha selalu membalas kegagalan di masa lalu dengan prestasi. Alesha selalu berusaha agar segala permasalahan hatinya tidak perlu untuk ditunjukkan. Tetap tersenyum dan jalani hidup dengan bersyukur.

Mama Arlies yang mengantarkannya ke bandara, telah kembali pulang kerumahnya. Di ruang tunggu, Alesha sedang mendengarkan musik di handphonenya. Tiba-tiba, seseorang duduk di sebelahnya dan berkata,

“Aku temenin ya.” Tanya seorang pria berkacamata.

Alesha terkejut dan menjawab,

“Tomi? Loh kok? Kok kamu ada disini? Kok bisa?” tanya Alesha

Lalu Tomi meletakkan koper dan duduk di samping Alesha.

“Bisa dong. Karena aku punya tiket spesial.” jawabnya

“Tiket spesial? Maksudnya?” tanya Alesha

“Satu tiket tur dan satu tiket restu mamamu untukku” jawab Tomi.

Alesha menjawab dengan senyum lebar. Mereka menghabiskan waktu berkeliling Eropa hingga akhirnya, Dokumentasi perjalanan menjadi bagian dari pre wedding mereka. Lantas, apa yang membuat mama Arlies begitu mudahnya memberi restu kepada Tomi sedangkan tidak kepada Yudha. Alesha menyadari bahwa untuk melihat indahnya pelangi, maka nikmatilah hujan. Bukankah semua manusia pasti menemukan belahan hatinya? Jika belum, maka biarkan Tuhan menempatkan seseorang pada waktu yang tepat.

 

Pelangi untuk Alesha.

Comments

Popular posts from this blog

Presentasi Dinamis, Melatih Kemampuan Murid untuk Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris Oleh: Isma Rachmadani Siregar

Make a profit from waste cables and metal left over from practical learning at Vocational School Telkom Banjarbaru By: Isma Rachmadani Siregar