Refleksi: Semangat Berkarya di Masa Pandemi, Pantang Mengeluh dan Tetap Berkreasi oleh Isma Rachmadani Siregar
Semangat Berkarya di Masa Pandemi, Pantang Mengeluh dan Tetap Berkreasi
Isma
Rachmadani Siregar
“Apa
itu Covid-19? Apakah mungkin menyerang ke negara kita? Lalu, apa yang harus
kita lakukan?”. Pertanyaan seperti ini menjadi berita nomor satu di setiap
media sosial. Dan juga, menjadi perbincangan pada setiap kesempatan baik di
rumah, di kantor, dan di lingkungan tempat tinggal. Seperti yang telah
diketahui bahwa virus ini mulai menyebar di beberapa negara Asia lalu menyusul
ke Eropa. Aktivitas masih berjalan normal, pemerintahan belum membuat keputusan
apapun terkait dengan wabah corona tersebut. Semua aspek seperti perdagangan,
pariwisata, transportasi, pendidikan dan aspek lainnya tidak mengalami hambatan
apapun. Dan, ketika semuanya berubah, cerita inilah yang menjadi pengalaman
baru untuk saya, kami dan kita.
Suasana
pada saat itu begitu menyenangkan. Kegiatan yang dilakukan tanpa ada pembatasan
bahkan larangan apapun. Semua orang masih bebas melakukan pekerjaan dari waktu
ke waktu dan dari satu tempat ke tempat lainnya. Walaupun kondisi perekonomian
negara kurang begitu mendukung namun setidaknya tidak membuat orang lain harus
menerima kenyataan untuk melepaskan sumber rezekinya. Saya dan keluarga masih
bisa melakukan perjalanan ke luar kota, bertemu dengan teman-teman, mengunjungi
pusat perbelanjaan demi mendapatkan potongan harga menjelang hari raya dan
melakukan pemeriksaan kesehatan pada klinik dan rumah sakit. Karena saya
tinggal di perantauan, maka saya memiliki program untuk pulang ke kampung
halaman sesuai dengan pengajuan izin ke tempat saya bekerja. Mengurus berkas
administrasi, mengantar anak ke sekolah, mengikuti kegiatan warga di lingkungan
tempat tinggal dan menghadiri acara pernikahan, seminar dan mengunjungi teman
yang sedang sakit. Masa-masa seperti ini telah menjadi scenario kehidupan yang
selalu berubah dan satu hal yang saya senangi yaitu dapat berkomunikasi
langsung dengan orang yang dituju tanpa merasa khawatir dan curiga. Dan saya
merasa apa yang saya lakukan juga dilakukan oleh orang lain.
Suatu
ketika, saya melihat tayangan di televisi. Penyiar menyampaikan bahwa dunia
saat ini sedang tidak baik. Munculnya sebuah virus yang menyerang bagian
pernapasan hingga mengakibatkan kematian secara massal. Antibiotik dan vaksin
belum ditemukan dan seluruh warga dunia diarahkan untuk melindungi diri dengan
cara menggunakan masker medis, mencuci tangan dan menjauhi keramaian. Hal ini
dikarenakan virus mematikan ini telah membunuh banyak orang dari tempat asalnya
yaitu China. Dengan penyebaran melalui udara, bersentuhan tangan dan fasilitas
umum yang digunakan secara bergantian, maka ini menjadi hal yang sangat
menakutkan. Terlebih lagi ketika Badan Kesehatan Dunia mengumumkan informasi
terkait dengan virus Corona atau Covid-19 ini. Tentu saja, negara saya,
Indonesia tidak bisa tinggal diam. Dengan sigap pemimpin negara berkoordinasi
dengan pemangku kepentingan untuk segera memutuskan langkah-langkah pencegahan
dan pengobatan. Saya tidak pernah menyangka bahwa kondisi seperti ini akan saya
alami dan akhirnya saya meyakini bahwa pandemi ini telah menjadi ketentuan dari
Tuhan Yang Maha Esa. Lantas, apa yang sebaiknya dilakukan? Apakah kita menurut
pada kebijakan pemerintah atau mengabaikan pandemi? Bukan saatnya untuk
membantah karena kenyataan yang ada seharusnya kita terima demi kebaikan dan
mulai merancang hal-hal yang dapat dilakukan saat semua harapan sirna dan
keceriaan berubah menjadi kedukaan dan prihatin.
Pada
saat kebijakan ditetapkan oleh pemerintah, semua orang terkejut termasuk saya.
Sejenak saya bingung dengan begitu cepatnya perubahan. Saya merasa belum siap
dan perlu memahami lebih banyak lagi tentang virus tersebut. Kebijakan yang
diterapkan harus diterima dan rasa terpaksa menjadi bayangan yang menakutkan.
Karena saya mengabdi pada dunia pendidikan, dampak keterbatasan ini benar-benar
menjadi tantangan terbesar pada pekerjaan dan pada hal lainnya. Saya telah
memiliki berbagai program bersama peserta didik dan pekerjaan lainnya. Agenda
pembelajaran tatap muka telah disusun dengan baik dan sekejap saja harus
dibatalkan. Begitu banyaknya tugas baru untuk para guru, keluhan silih berganti
terus terngiang di telinga dan pikiran. Di sisi lain, putri saya yang masih
belajar di tingkat sekolah dasar juga harus menerima kenyataan bahwa proses
belajar dilakukan dari rumah sampai waktu yang tidak dapat ditentukan.
Pembelajaran terkesan kurang efektif, materi pembelajaran yang kurang bisa
dipahami, tugas dari sekolah yang bertambah dari waktu ke waktu. Belajar telah
dialihkan dari tatap muka menjadi daring atau dalam jaringan yang menggunakan
teknologi serta jaringan internet. Demikian juga dengan saya, mengajar dengan
sistem daring harus dilaksanakan baik suka atau tidak. Mampu atau tidak, para
guru harus belajar untuk meningkatkan kemampuan dalam teknologi, digital dan
literasi.
Menjalin
komunikasi di saat pandemi seperti ini sangatlah penting. Hal ini untuk
mengurangi kesalahpahaman antara guru dengan orangtua, peserta didik,
organisasi maupun instansi lain. Setiap daerah, pemerintah melalui pejabat
setempat telah mengumumkan peraturan pembelajaran pada setiap kabupaten dengan
status tertentu. Jika satu kota dengan status merah, maka pemerintahan,
pendidikan dan aspek lainnya dihimbau untuk tidak melakukan kegiatan dengan
melibatkan orang banyak. Sekolah saya yang berkaitan dengan kompetensi kejuruan
harus menerima kenyataan bahwa peserta didiknya tidak diperkenankan datang ke
sekolah. Bahkan untuk praktik pembelajaran kejuruan saja harus dibatasi. Para
guru diwajibkan untuk menerima dua vaksin pada waktu yang berbeda untuk
mencegah penyebaran virus corona ini. Aktivitas sekolah ditiadakan secara tatap
muka namun dialihkan dengan virtual meeting. Untuk menciptakan
pembelajaran daring yang menarik, para guru disarankan untuk mengikuti kegiatan
pelatihan secara online dengan memilih topik yang sesuai untuk mengembangkan
kemampuan mengajarnya. Tentu saja menjadi pengeluaran tambahan karena harus
menyediakan kuota atau jaringan nirkabel di rumah. Pemerintah bersama sekolah
memberikan solusi yaitu pembagian kuota belajar dan mengatur jam belajar daring
dengan memanfaatkan akun Learning Management System (LMS) dari Google
Workspace for Education. Akan tetapi,
seiring dengan berjalannya waktu dari minggu, bulan dan tahun, kondisi pandemi
seperti ini telah dapat diterima dan menjadi peringatan untuk kita semua bahwa
virus ini benar adanya, tidak mengenal usia, dan dapat terjangkit meskipun
dinyatakan sehat. Dan para guru harus bisa beranjak dari zona nyaman ke zona
penuh tantangan.
Pada
kesempatan lain, saya memiliki pengalaman menarik dan menjadi awal yang baik
untuk memulai segala sesuatu yang belum pernah saya lakukan sebelumnya. Setelah
menuntaskan kewajiban saya sebagai seorang guru, saya juga melanjutkan
pekerjaan lainnya. Ada rasa khawatir pada diri saya ketika putri saya yang
berumur 8 tahun harus belajar mandiri di rumah dengan menggunakan gawai. Lebih
dari itu, saya harus membagi waktu antara pekerjaan dan mengurus kewajiban di
rumah. Di awal saya sempat takut, apakah saya bisa menghadapi kondisi ini. Dan
terjawablah sudah segala kebimbangan. Saya memberikan pengarahan kepada
keluarga khususnya pada orangtua dan anak saya. Ibu saya yang telah memasuki
usia 71 tahun, tidak dapat bergerak bebas lagi di luar rumah dan mengurangi
interaksi langsung dengan orang lain. Karena usianya cukup rentan dengan virus
ini. Saya memberikan solusi yaitu dengan mengelola halaman rumah menjadi taman
bunga, lalu memelihara ayam dan ikan dan menjahit. Beliau juga memahami bahwa
kondisinya tidak bisa seperti dulu lagi. Kemudian saya memberikan arahan kepada
putri saya. Pembelajaran daring diutamakan sebelum melakukan aktivitas lainnya.
Saya memberikan pengertian cara penggunaan gawai untuk belajar, bagaimana cara
berkomunikasi yang baik, mengisi waktu di rumah dengan aktivitas yang dia
senangi. Karena saya juga harus bekerja di luar rumah. Saya mengajak putri saya
untuk terlibat dalam beberapa konten yang dapat dilakukan secara online.
Seperti blog penulisan pengalaman dan pendapat, vlog cara membuat sesuatu,
membuat kreasi dengan bersumber dari Youtube dan belajar tambahan secara
online. Segala aktivitas yang dia lakukan akan menjadi cerita yang akan
didokumentasikan menjadi video, foto dan status di media sosial. Dan hal luar
biasa yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya adalah bahwa putri saya dapat
mengasah keterampilannya dalam mengolah kertas dan pewarna menjadi sticker yang
dia tawarkan kepada temannya dan dibeli. Sungguh hikmah di balik pandemi ini
adalah bagaimana mengolah pemikiran menjadi kritis, kreatif, inovatif dan
solutif. Dia juga menjadi peserta termuda dalam International Webinar di
tahun 2020. Dan pengalaman ini menjadi nyata untuk saya dan saya tergerak untuk
berbagi kepada teman-teman saya. Anak-anak mereka dapat diajak bekerjasama
untuk menghasilkan sesuatu secara sederhana. Manfaat lainnya adalah mengurangi
kecanduan dalam bermain online game yang pastinya akan menjadi masalah
di kemudian hari. Dan yang terpenting yaitu peran kita sebagai orangtua jangan
sampai tergantikan dengan gawai dan bimbingan hangat akan memberikan sentuhan
positif bagi anak.
Dan
hikmah pandemi yang saya rasakan adalah keberanian dalam menyampaikan
pengalaman, pendapat dan pemikiran melalui tulisan lalu diwujudkan menjadi buku
antologi bersama para guru dari berbagai wilayah di Indonesia, bergabung dan
belajar bersama komunitas guru maupun komunitas kreatif lainnya, mempelajari
aplikasi untuk membuat video, mewujudkan konten untuk mendukung pembelajaran
daring, membantu teman-teman pelaku usaha kecil menengah (UKM) dan membuat
hasil karya seperti bunga dari kertas dan bros dari kain perca. Dengan kegiatan
yang berbeda, membuat saya menjadi lebih produktif dan tetap bisa bekerja dari
rumah. Walaupun kita ketahui bersama bahwa di luar sana, masih banyak orang
yang perlu untuk bertahan hidup karena tidak memiliki pemasukan yang tetap,
sepi pembeli dan kurang sehat, saya bersama peserta didik ikut membantu
meringankan bebas dengan membuka donasi yaitu Sedekah Jum’at di sekolah. Sebisa
mungkin, tidak mengeluh dengan apapun kondisinya dan tetap bersyukur karena
dibalik kekurangan pasti ada kelebihan. Dan di balik musibah pasti tersimpan
banyak hikmah yang harus dipahami dan dikembangkan. Dengan berperilaku
bijaksana, kita telah membantu pemerintah dan orang lain untuk memutuskan mata
rantai penyebaran covid-19. Banyak kegiatan sosial yang bisa dilakukan secara
daring dan hasilnya dapat disumbangkan kepada yang membutuhkan. Komunikasi dan
silaturahmi tetap terjaga dengan sama-sama mengingatkan protokol Kesehatan
untuk kebaikan sesama. Menjaga jarak, menggunakan masker dua lapis, mencuci
tangan dengan sabun atau dioleskan hand sanitizer, memeriksa suhu tubuh
dan kesehatan secara berkala, mengonsumsi makanan dan minuman yang bersih dan
sehat, mengikuti anjuran pemerintah dengan vaksin dan melakukan aktivitas
positif di rumah. Jika harus dilakukan di luar rumah, maka sebaiknya
membersihkan diri setelah sampai di rumah agar tidak menularkan virus kepada
keluarga. Sejatinya, sehat itu berawal dari diri sendiri dan kesuksesan
merupakan usaha tiada batas. Bagikan semangat positif kepada siapa saja, karena
itu adalah kekayaan yang sebenarnya.
Perkenalkan
nama saya Isma Rachmadani Siregar, S.S, M.Pd. Saat ini saya berdomisili di kota
Banjarbaru-Kalimantan Selatan. Keseharian saya adalah seorang guru Bahasa
Inggris di SMK Telkom Banjarbaru. Saya juga mengajar beberapa sekolah tinggi,
bimbingan belajar dan aktif dalam kegiatan menulis. Saya juga bergabung pada
beberapa komunitas guru baik lokal maupun nasional. Saya tertarik menulis
karena ide, pengalaman dan pemikiran dapat disalurkan melalui satu karya tulis.
Saya memiliki blog pribadi: https://ismasiregar.blogspot.com/.
Dapat juga saling berkenalan melalui Instagram saya di: @ismasiregar05, Facebook:
https://www.facebook.com/isma.siregar.562.
Dengan nomor Whatsapp: 0813 51085886. Untuk kolaborasi, bisa e-mail: ismasiregar05@gmail.com.
Ekspresikan diri dengan menulis. Salam literasi!
Comments
Post a Comment