Rinduku pada Ruang Kelas Biru oleh Isma Rachmadani Siregar
RINDUKU PADA RUANG KELAS BIRU
Oleh: Isma Rachmadani Siregar
Langit
begitu cerah. Hilir mudik kendaraan tiada henti. Masih terngiang lelucon kita
pada saat itu. Masa dimana kita menghabiskan waktu dalam setiap kebersamaan.
Tawa, tangis dan kecewa mewarnai cerita yang tidak akan pernah terhapus sampai
kapanpun. Namun, kali ini aku mengakui, aku rindu.
Mengayunkan
sepeda motor menuju sebuah tempat penuh kenangan. Aku sadar, semua tidak akan
mungkin terulang kembali. Waktu tidak mengizinkan untuk merakit benang-benang
persahabatan yang telah kita bina 2 tahun yang lalu. Dan kini, kita melangkah
menuju tempat berikutnya.
“Selamat
pagi anak-anak. Kami sampaikan bahwa pengambilan ijazah akan diinformasikan
melalui grup Angkatan. Terima kasih atas pengertiannya. Semoga kalian sehat dan
sukses selalu.” tutup wakil kepala sekolah bidang kurikulum pada pertemuan
online.
“Inilah
akhir penantian dari 3 tahun belajar meskipun tidak seperti dulu lagi.
Teman-teman, kita tetap saling berkomunikasi ya. See you on top!” ucap
mantan ketua OSIS pada rapat perpisahan siswa melalui online meeting.
Mengapa
tiba-tiba aku pengen menangis? Belum sempurna cerita masa-masa sekolah, kini
harus berpisah. Jarak yang memisahkan, kesibukan yang dimiliki dan cita-cita
yang ingin diwujudkan, membuat kita semakin mengerti arti dari sebuah hubungan
baik persahabatan.
Saat
ini, aku sudah merencanakan untuk melanjutkan pendidikan S1 di pulau Jawa.
Jurusan yang aku pilih adalah jurusan komunikasi. Hal ini karena suatu ketika,
aku bertanya dengan seorang guru. Beliau suka memanggilku dengan Arsya. Karena
nama lengkapku adalah Arsya Pradipta.
“Ibu,
menurut pengalaman ibu, sebaiknya jurusan apa yang saya pilih untuk kuliah
nanti?” tanya Arsya.
“Menurut
ibu, Arsya memiliki bakat komunikasi yang baik. Itu menjadi modal yang harusnya
ditingkatkan lagi dengan jurusan yang sama. Ibu melihat Arsya suka sekali
berpidato, menjadi pembawa acara saat upacara di sekolah, suka berorganisasi,
dan membuat video sendiri. Jadi, jurusan komunikasi tepat buat Arsya.” jawab
ibu Renata sambil melangkah ke kantin.
Percakapan
siang itu dipenuhi dengan konsultasi Arsya yang ingin memantapkan kuliah di
jurusan komunikasi. Ibu Renata merupakan guru yang membuat Arsya memahami bahwa
kehidupan itu harus dilalui dengan keyakinan, usaha yang optimal dan selalu
berbuat baik. Ibu Renata mengajar mata pelajaran bimbingan konseling. Beliau
banyak menangani siswa yang memiliki kendala belajar, hubungan keluarga yang
kurang harmonis, masalah remaja, dan masalah umum lainnya.
Di
sekolah, Arsya memiliki 2 orang teman. Mereka bernama Dimas Wardhana dan Fauzan
Nugraha. Mereka bertiga sangat akrab diawal masuk sekolah. Diantara mereka
bertiga, Arsya yang sangat menonjol dalam prestasi belajar. Arsya terkenal
dengan siswa yang rajin, disiplin dan suka bergaul. Dia juga bergabung pada
organisasi dan ekskul di sekolahnya. Dimas dan Fauzan memiliki hobi yang sama
yaitu bola basket. Mereka berdua tergolong siswa yang secara non akademik lebih
unggul.
Suatu
ketika, Dimas menghampiri Fauzan. Wajah mereka terlihat murung dan khawatir.
Arsya yang tidak sengaja melihat mereka berdua, lalu menghampirinya.
“Kok
pada begitu wajah kalian? Ada masalah apa? Cerita dong. Siapa tau aku bisa
bantu.” ucap Arsya sambil duduk di antara Dimas dan Fauzan.
“Nilai
raportku memerah, Sya. Aku takut sama orangtuaku. Aku merasa bersalah dengan
ini.” jawab Dimas sambil memperlihatkan e-raport melalui smartphonenya.
Arsya
yang melihatnya pun terkejut. Karena memang tidak bisa dihindari bahwa
pembelajaran yang berbasis online saat ini tidak sepenuhnya bisa diikuti oleh
Dimas. Faktornya adalah Dimas tidak senantiasa diawasi oleh orangtuanya, karena
selalu sibuk bekerja. Yang akhirnya membuat Dimas terlena dan tidak
bersemangat.
“Arsya,
Dimas. Aku mungkin tidak akan bisa melanjutkan sekolah lagi! Karena mustahil
bagiku untuk melunaskan semua tagihan sekolah, karena sekarang orangtuaku sudah
kehilangan pekerjaan mereka.” ucap Fauzan sambil menahan tangis.
Mendengar
pernyataan kedua temannya, hati Arsya seketika hancur. Hal yang diimpikan Arsya
adalah lulus sekolah bersama. Meskipun pada kondisi pandemik Covid-19 seperti
ini, Arsya berusaha untuk tetap pada tujuannya yaitu lulus dan sukses bersama
teman-temannya. Masalah yang dihadapi oleh Dimas dan Fauzan sudah mendapat
perhatian khusus dari sekolah. Arsya berharap dia dapat membantu lebih
teman-temannya. Dia tidak ingin melihat Dimas dan Fauzan mundur dan salah dalam
mengambil keputusan.
“Selamat
pagi ibu. Saya ingin menanyakan tentang Dimas dan Fauzan, teman saya. Bagaimana
dengan mereka, ibu?” tanya Fauzan. Ibu Renata mengambil catatan dan
membacakannya dihadapan Arsya.
“Intinya,
ibu sudah mengupayakan agar mereka tetap sekolah hingga lulus nanti. Kita
doakan agar selalu ada jalan untuk mereka berdua.” jawab ibu Renata dengan
senyum khasnya.
Mendengar
pernyataan ibu Renata, Arsya merasa lega dan senang. Arsya yang dengan sengaja
ke sekolah untuk menyampaikan keluhan kedua temannya.
Waktu
berlalu begitu cepat. Pembelajaran masih menggunakan sistem online. Aku
berpikir bagaimana ruang kelasku, bagaimana dengan kegiatan sekolah, kantin
yang selalu ramai, lapangan bola basket tempat ngumpulnya siswa yang diberi
hukuman, ruang laboratorium, dan aula sekolah. Menyusuri setapak demi setapak
jalan menuju kelas. Terasa hening, terngiang teriakan teman-teman dari lantai
tiga ke satu dan ruang praktik yang selalu ramai jika presentasi menjadi agenda
belajar wajib.
Aku
menatap setiap pintu kelas, papan nama, rak sepatu, dan tanaman hias yang menggantung
tanpa ada kehidupan apapun. Dengan meminta izin memasuki ruangan awal dimana
aku mulai belajar di sekolah ini. Kursi dan meja sebagai saksi perjalanan awal
aku merencanakan kesuksesan. Papan tulis yang masih terlihat bekas goresan
jawaban Matematika. Majalah dinding kelas yang mulai usang warnanya. Sungguh,
ini sangat membuat rindu. Rindu akan kelas ini. Rindu akan aroma kelucuan,
keramaian, pertengkaran dan tangisan.
Aku
mulai menuruni tangga menuju lantai 2. Kelas yang hanya sesaat belajar lalu terhenti
karena situasi pandemik yang tidak kunjung henti. Malah semakin memburuk dan
mengharuskan pembelajaran jarak jauh. Semua guru bekerja keras untuk memberikan
pembelajaran yang terbaik. Namun, tetap saja. Tidak akan seindah dan seramai
belajar langsung di kelas. Pembelajaran berlangsung dari waktu ke waktu. Siswa
naik kelas dan menunggu hingga lulus nanti.
Dan
akhirnya, aku sampai di lantai 1. Kelas yang tidak pernah sama sekali aku
datangi. Kelas yang seharusnya menjadi tempat akhir mengumpulkan kenangan manis
bersama teman-teman. Hanya bisa menatap ke setiap sisi ruang kelas yang
berwarna biru muda. Pajangan hasil karya teman-teman, foto-foto ala band
terkenal dan buku tulis goresan tangan yang katanya mirip tulisan dokter.
Sungguh, aku rindu kelas biru, aku rindu teman-temanku.
Tiba
di hari yang istimewa bagiku dan pastinya bagi semua teman-teman. Penantian
panjang setelah belajar online. Sarapan pagi di depan komputer, tatapan tajam
ke arah smartphone, materi e-book, soal latihan hingga tugas yang
selalu menghiasi halaman LMS (Learning Management System), kamera yang
selalu dinonaktifkan, pesan yang selalu masuk ke grup kelas melalui aplikasi Whatsapp
dan presentasi tugas di media sosial. Semuanya telah dikerjakan dan menjadi
hasil evaluasi belajarku. Wabah virus covid-19 ini sungguh tidak bersahabat.
Semua kegiatan sekolah harus dihentikan. Tiada lagi merasakan nikmatnya makan
bersama di kantin, menjadi petugas keamanan parkir, kegiatan hari Jum’at
bersih, takwa, sehat dan sedekah. Semuanya hanya bisa kusimpan menjadi kenangan
manis dalam hati.
“Saya
berharap kepada alumni, tetap menjadi kesehatan, lanjutkan pendidikan dan
jangan lupakan sekolah ya. Kami memohon maaf atas segala kekurangan selama
memberikan pelayanan pembelajaran. Dan kami juga berterima kasih karena alumni
telah percaya dan menuntaskan pendidikan hingga akhir. Selamat melanjutkan
langkah berikutnya dan semoga sukses.” tutup kepala sekolah ketika menyampaikan
pidato secara virtual.
Ucapan
ini begitu menyedihkan bagiku. Karena seharusnya momen ini menjadi momen
berjabat tangan sambil membagikan dokumen secara langsung kepada alumni. Tapi,
apa boleh buat, semuanya demi kebaikan bersama.
Aku
mencari Dimas dan Fauzan untuk foto virtual bersama. Dan, betapa terkejutnya
aku. Mereka yang selama ini mengeluhkan kondisi kehidupan, ternyata mereka
berhasil melewatinya dengan prestasi yang tidak pernah aku bayangkan. Fauzan
berhasil diterima sebagai Bintara Kepolisian Republik Indonesia. Sedangkan
Dimas lulus SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) yang sama
denganku. Namun Dimas memilih universitas di daerah tempat tinggalnya.
Sedangkan aku memilih untuk kuliah di Jawa. Apapun itu, kami bertiga merasa
bersyukur dan bahagia.
“Dimas,
Fauzan. Ini bukan pertemuan terakhir untuk kita. Tetapi ini langkah awal untuk
meraih masa depan. Aku harap kita tetap berkomunikasi meskipun kita terpisah,
bertemu dengan teman baru dan lebih dari ini, kita bertiga adalah saudara. Jaga
kesehatan dan lanjutkan perjalanan hidup.” ucap Arsya. Langkah ini begitu berat
namun harus tetap dilakukan. Mereka berpisah di depan sekolah setelah mengambil
ijazah bersama. Terima kasih teman, terima kasih sekolah. Sampai bertemu di
momen bahagia lainnya.
Biodata Penulis
Perkenalkan nama saya Isma Rachmadani Siregar, S.S,
M.Pd. Saat ini saya berdomisili di kota Banjarbaru-Kalimantan Selatan.
Keseharian saya adalah seorang guru Bahasa Inggris di SMK Telkom Banjarbaru.
Saya juga mengajar beberapa sekolah tinggi, bimbingan belajar dan aktif dalam
kegiatan menulis. Saya juga bergabung pada beberapa komunitas guru baik lokal
maupun nasional. Saya tertarik menulis karena ide, pengalaman dan pemikiran
dapat disalurkan melalui satu karya tulis. Saya memiliki blog pribadi: https://ismasiregar.blogspot.com/. Dapat juga saling berkenalan
melalui Instagram saya di: @ismasiregar05, Facebook: https://www.facebook.com/isma.siregar.562. Dengan nomor Whatsapp: 0813
51085886. Untuk kolaborasi, bisa e-mail: ismasiregar05@gmail.com. Ekspresikan diri dengan menulis.
Salam literasi!
Comments
Post a Comment