Merefleksikan Pemikiran Ki Hadjar Dewantara Oleh: Isma Rachmadani Siregar

 

Merefleksikan Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

Oleh: Isma Rachmadani Siregar

                                                                                              Sumber: inews.id

Memilih berprofesi sebagai seorang pengajar, bukan hal mudah untuk penulis. Karena perlu kematangan berpikir, bertindak, dan menerima segala konsekuensi untuk siap berbagi dan mendampingi. Bukan karena materi yang diharapkan, bukan karena jabatan yang diinginkan, tetapi sebuah bentuk pengabdian diri kepada agama, masyarakat dan bangsa. Sebelumnya, penulis memiliki harapan untuk dapat berkontribusi melalui ilmu yang telah didapatkan semenjak sekolah hingga lanjut ke perguruan tinggi. Dan satu hal yang penulis yakini bahwa setiap aspek di negara ini, pasti akan muncul perubahan-perubahan yang meminta penulis untuk siap membuka diri, menerima hal baru dan berbagi kepada para pengajar lainnya. Dan perubahan itu datang tepat pada waktunya. Dunia pendidikan telah berkembang dan menunggu penulis dan pengajar lainnya untuk berpartisipasi dalam setiap program pengembangan profesi guru.

Masihkah kita mengingat sosok bapak Pendidikan Indonesia dengan semboyan yang melekat pada semua lembaga pendidikan? Ya, benar. Tut Wuri Handayani. Sebelumnya, mari kita mengingat kembali. "Ing ngarsa sung tuladha, Ing madya mangun karsa, Tut Wuri Handayani." Dengan arti, dari depan, seorang pendidik harus memberikan teladan yang baik, dari tengah, seorang pendidik harus dapat menciptakan prakarsa atau ide, dan dari belakang, seorang pendidik harus bisa memberi arahan. Semboyan ini benar-benar menjadi pedoman bagi para guru untuk mempersiapkan kemampuan diri sebelum mengajar. Karena guru bukan hanya sekedar mengajar akan tetapi perlu memahami bahwa mewujudkan karakter siswa yang memiliki budi pekerti dan adab yang baik akan menciptakan kepribadian siswa yang berkualitas.

Dalam beberapa kesempatan, pengamat pendidikan menyampaikan bahwa guru yang baik adalah guru yang selalu merefleksikan dirinya untuk senantiasa memperbaiki segala kekeliruan dan kekurangan selama melaksanakan kegiatan belajar dan mengajar. Karena tentu saja, guru perlu belajar lebih dari setiap perubahan yang terjadi. Karena zaman selalu menuntut guru untuk beradaptasi, mengembangkan potensi diri dan berkolaborasi dengan guru lainnya. Bukankah hal ini sudah pernah dilakukan oleh guru? Tentu saja sudah, namun pada hakikatnya pasti akan ada cerita sedih, kecewa dan marah karena harapan yang ada tidak sesuai dan tidak pernah terjadi. Dan tidak semua lembaga pendidikan mendukung para gurunya dalam berkembang dan justru mendiskriminasikan ide-ide yang dianggap resah dan terlalu berlebihan. Dan ketika perubahan itu datang, maka semua pihak yang terlibat, suka tidak suka harus melaksanakan dan terlibat di dalamnya.

Setelah mendengar banyaknya keluhan yang bermunculan, maka satu pernyataan yang selalu dijadikan alasan. Banyaknya kegagalan yang terjadi disebabkan oleh satu pihak yaitu siswa. Sedangkan guru menganggap bahwa usaha yang dilakukan sudah maksimal tetapi siswa dianggap tidak berkompeten. Dan ini banyak terjadi di berbagai jenjang pendidikan di Indonesia. Tak perlu menutup mata, karena semua hal yang terjadi sesuai fakta dan semua guru pernah mengalaminya. Tetapi, apakah ini benar-benar salah siswa? Apakah guru benar-benar melaksanakan tugasnya dengan ikhlas? Dan apakah sekolah sudah benar menerapkan kebijakan yang tidak berat sebelah? Setelah dianalisa, pendidikan saat ini sangat jauh dari pemikiran Ki Hajar Dewantara. Perlu refleksi hingga memahami mengapa pendidikan di Indonesia sangat begitu miris dan perlu dievaluasi.

Begitu banyaknya program pengembangan dan peningkatan profesi guru, satu program yang luar biasa dan menjadi titik balik bagi para guru untuk meninjau kembali apa yang sudah dilakukan, diberikan dan disampaikan kepada siswa. Program ini didukung sepenuhnya oleh pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Pendidikan Guru Penggerak merupakan program pemahaman pendidikan yang bersumber dari Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara. Dari beliau, semua guru termasuk saya akhirnya memahami bahwa kekeliruan selama ini tidak dapat diteruskan dan perlu perbaikan untuk mencapai tujuan belajar yang sebenarnya. Dari program ini, penulis berkenalan dengan para guru dari jenjang pendidikan yang berbeda, sekolah yang berbeda dan menemukan inspirasi pendidikan yang luar biasa. Dengan belajar bersama serta memanfaatkan teknologi digital, penulis belajar dari satu modul ke modul lain dengan seksama dan fokus dengan apa yang menjadi tujuan bersama.

Penulis melihat siswa merupakan sosok anak-anak yang dititipkan oleh orang tua mereka ke sekolah, lalu membahas materi pembelajaran, memberikan tugas, dan memberikan penilaian. Selain itu, pembelajaran yang diberikan bersifat konvensional, tanya jawab, praktik, dan ujian. Dan kegiatan ini terus menerus dilaksanakan tanpa ada penyegaran. Dan ketika berbicara tentang pelanggaran aturan di sekolah, begitu banyak poin-poin yang harus disetujui oleh siswa dan tidak ada toleransi. Bahkan, jika siswa melakukan kesalahan, mereka tidak mendapat hak untuk melakukan pembelaan serta tidak didengarkan. Inilah yang penulis dapati dan terjadi berulang-ulang. Dengan tujuan mendisiplinkan siswa dengan cara yang tegas dan tanpa kompromi. Sungguh, ini kekeliruan yang menyedihkan dan perlu ditelaah kembali.

Setelah penulis mengikuti Pendidikan Guru Penggerak melalui pertemuan online dan offline, membaca modul pembelajaran, berdiskusi dan melakukan aksi nyata, penulis merasa perlu untuk merefleksikan diri dengan apa yang sudah dilakukan sebelumnya. Pada modul yang dipelajari melalui LMS (Learning Management System) yang disediakan, penulis belajar analisa, menemukan solusi dan mengembangkan hal-hal yang perlu diterapkan pada proses pembelajaran dan sistem pendidikan di sekolahnya. Selain itu, melalui komunitas, penulis dapat bercerita betapa pendidikan yang menginspirasi itu harus memahami arti dari kata menuntun, dimulai dari diri, kodrat alam dan kodrat zaman, serta bagaimana guru memahami bahwa keikhlasan dalam mendampingi siswa itu penuh dengan kebahagiaan. Penulis merasa perlu melakukan perubahan yang memberi dampak bermakna baik kepada siswa, guru, sekolah dan komunitas profesi lainnya. Kesadaran bahwa guru menghamba kepada siswa bukan mengalihkan menghamba kepada Sang Maha Pencipta. Akan tetapi, menghamba bagaimana siswa tersebut dapat dituntun, diajari, dibimbing dan dido’akan agar menjadi pribadi yang memiliki budi pekerti dan adab yang mulia kepada gurunya.

Setelah penulis memahami bahwa begitu luar biasanya sosok Ki Hajar Dewantara dengan pemikiran yang lembut, mencintai pendidikan dan memeluk erat para siswa, penulis ingin melaksanakan apa yang menjadi harapan beliau. Dimulai dari diri, penulis melaksanakan kegiatan belajar dan mengajar dengan menyertakan siswa agar mendapat banyak masukan dan menyampaikan ide untuk pengembangan pembelajaran, menuntun siswa dalam memberikan saran dan mendengarkan keluhan mereka, memanfaatkan teknologi digital dengan sebaik dan semaksimal mungkin untuk belajar, penulis memahami kodrat alam dan kodrat zaman siswa, tidak memaksakan kehendak, belajar untuk menerima hal-hal baru, dan ikhlas dalam memberikan ilmu dan wawasan demi menjadikan siswa sebagai manusia yang berbudi pekerti dan beradab. Terima kasih, Ki Hajar Dewantara, bapak adalah sosok panutan pendidikan Indonesia yang mengagumkan dan menginspirasi penulis.

Comments

Popular posts from this blog

Presentasi Dinamis, Melatih Kemampuan Murid untuk Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris Oleh: Isma Rachmadani Siregar

Make a profit from waste cables and metal left over from practical learning at Vocational School Telkom Banjarbaru By: Isma Rachmadani Siregar