Koneksi Antar Materi pada Modul 1.4 bagian 1.4.a.8 tentang Budaya Positif oleh Isma Rachmadani Siregar CGP Angkatan 6 Kota Banjarbaru - Kalimantan Selatan

 Pemahaman Konsep Budaya Positif serta Penyusunan Strategi dalam Perwujudannya

Oleh: Isma Rachmadani Siregar

SMK Telkom Banjarbaru

CGP Angkatan 6 Kota Banjarbaru - Kalimantan Selatan


Salam Guru Penggerak



Peran saya dalam menciptakan budaya positif di sekolah

Bertemu dan menyapa murid di sekolah membuat saya bersemangat untuk segera berbagi ilmu dan pengalaman baik kepada mereka. Karena saya mengajar pada jenjang SMK atau Vokasi, maka perlu adanya pendekatan serta langkah yang memotivasi dan menginspirasi mereka untuk terus meningkatkan potensi diri dan menuntun laku murid sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya. 

Murid yang saya bimbing merupakan manusia yang senantiasa perlu diberikan perhatian dan pendampingan agar mereka dapat menemukan kebermaknaan pembelajaran dan disiplin positif untuk mendukung masa depannya. Di awal kedatangan mereka, saya menyambut dengan senyuman salam sehingga murid bersemangat untuk belajar dari pagi hingga sore. Pada saat pembelajaran di kelas, saya mengajak murid untuk membuat kesepakatan pembelajaran yang mereka sampaikan dan disepakati bersama sehingga apabila ada temannya yang melakukan kesalahan, mereka akan saling menegur. Saya sebagai guru memposisikan diri sebagai manajer sesuai dengan posisi kontrol dan segitiga restitusi. Dengan sesama guru, saya juga memberikan contoh budaya positif pada setiap berpendapat dan melakukan tindakan. Saya memahami bahwa kebutuhan dasar manusia itu beragam. Dengan keyakinan kelas yang senantiasa diterapkan, maka saya dapat menciptakan pembelajaran yang bermakna dan berkualitas agar para murid merasa aman dalam belajar. Mengingatkan pada konsekuensi dalam bertingkah laku dan memberi penghargaan atas apa yang murid telah lakukan. Selalu menebarkan budaya positif baik pada saat pembelajaran dan di sekolah akan menjadikan sekolah sebagai sarana pengembangan karakter sesuai pada Profil Pelajar Pancasila. 

Dokumentasi Budaya Positif

Menyambut murid di depan sekolah


Menyusun Kesepakatan Kelas


Stabilize the Identity


Pemahaman Konsep Modul Budaya Positif

"Dimana ada kemerdekaan disitulah harus ada disiplin yang kuat. Sungguhpun disiplin itu bersifat selfdisiplin, yaitu kita sendiri mewajibkan dengan sekeras-kerasnya. Dan peraturan yang sedemikian itu harus ada didalam suasana yang merdeka," ucap Ki Hadjar Dewantara.

Tujuan dari disiplin positif adalah membantu anak mengembangkan rasa tanggung jawab untuk membuat keputusan yang baik dan penuh pertimbangan. Disiplin positif membantu anak belajar disiplin dengan motivasi dari dalam dirinya sendiri, bukan karena takut kepada orang lain.

Disiplin Positif

Disiplin positif adalah proses pembelajaran. Disiplin positif merupakan pendekatan mendidik anak untuk melakukan kontrol diri dan pembentukan kepercayaan diri. Disiplin berbeda sama sekali dengan hukuman meskipun disiplin sering diterapkan dengan menggunakan teknik hukuman.

Teori Kontrol 


Diane Gossen mengemukakan bahwa guru perlu meninjau kembali penerapan disiplin di dalam ruang-ruang kelas mereka selama ini. Apakah telah efektif, apakah berpusat, memerdekakan, dan memandirikan murid. Melalui serangkaian riset dan berdasarkan pada teori Kontrol Dr. William Glasser, Gossen berkesimpulan ada 5 posisi kontrol yang diterapkan seorang guru, orang tua ataupun atasan dalam melakukan kontrol. Kelima posisi kontrol tersebut adalah Penghukum, Pembuat Rasa Bersalah, Teman, Pemantau dan Manajer.

Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan

Diane Gossen menyatakan ada 3 alasan motivasi perilaku manusia yaitu:
1. Untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman
2. Untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain
3. Untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya

Sebelum suatu kegiatan dimulai maka perlu dirancang kesepakatan pembelajaran sehingga apabila murid melakukan kesalahan, maka mereka sudah memahami konsekuensi yang akan didapatkan.



Kebutuhan Dasar Manusia


Pada hakikatnya, ketika manusia berupaya untuk mendapatkan apa yang mereka butuhkan untuk memenuhi kehidupan, maka sebenarnya manusia itu telah melakukan proses pencarian kebutuhan dasarnya dan ketika manusia mampu mendapatkan, maka sesungguhnya manusia telah mengenal apa saja yang mereka butuhkan dan apa yang tidak dibutuhkan.


Keyakinan Kelas

Ciri-ciri keyakinan kelas antara lain:

  1. Bersifat lebih abstrak daripada peraturan yang lebih rinci dan konkret.
  2. Keyakinan kelas berupa pernyataan-pernyataan universal yang dibuat dalam bentuk kalimat positif.
  3. Keyakinan kelas tidak dibuat dalam jumlah banyak sehingga mudah diingat dan dipahami oleh semua warga kelas.
  4. Keyakinan kelas merupakan sesuatu yang dapat diterapkan di lingkungan kelas tersebut.
  5. Pembuatan keyakinan melibatkan semua warga kelas melalui kegiatan curah pendapat.
  6. Keyakinan kelas ditinjau kembali dari waktu ke waktu.

Segitiga Restitusi 

Untuk menanamkan disiplin positif di sekolah, maka segitiga restitusi dapat diterapkan karena untuk langkah dan teori kontrolnya sudah jelas dan sesuai dengan kondisi di sekolah. 

 

Perubahan yang terjadi pada cara berpikir

Sebagai guru, saya memahami bahwa mengajar bukan hanya sebagai transfer ilmu saja akan tetapi saya mendampingi para murid untuk mencapai tujuan pembelajaran yang bermakna untuk kehidupan mereka. 
Dengan membangun komunikasi yang baik, saya menyampaikan bahwa pentingnya keyakinan kelas dibentuk untuk menciptakan budaya positif di kelas dan di sekolah. 
Dan ketika murid melakukan kesalahan, maka ingatkan kembali konsekuensi apa yang didapatkan dan saya memposisikan diri sebagai manajer untuk memberikan restitusi yang positif kepada murid. 

Pengalaman yang pernah dialami dalam penerapan konsep budaya positif

Praktik Segitiga Restitusi

Pengalaman yang saya alami ketika melakukan praktik segitiga restitusi adalah saya memahami alasan murid ketika mereka melakukan kesalahan, saya membersamai murid dalam mengarahkan dan menemukan solusi terbaik berdasarkan pada nilai kebajikan yang telah ada pada diri mereka. Saya tidak ingin membuat kesimpulan terlalu cepat karena hal itu akan membuat murid merasa tidak didengarkan dan membuat perasaan mereka menjadi serba salah dan enggan untuk bercerita. 

Posisi kontrol yang sering dipakai

Sebelumnya saya berada pada posisi penghukum dan pembuat merasa bersalah. Karena pada saat itu saya ingin menegaskan kepada murid bahwa peraturan saya harus mereka patuhi. Akan tetapi, setelah saya memahami dengan benar tentang Posisi Kontrol dan Segitiga Restitusi, maka saya merefleksikan diri saya dari awal hingga saya memposisikan diri saya sekarang sebagai manajer. Dan setelah saya memahami lebih dalam, saya merasa sedih dengan apa yang murid rasakan dan apa yang telah saya lakukan. Setelahnya, saya tidak memberikan hukuman tetapi lebih menguatkan kesepakatan dan berkomunikasi. Selain itu, saya memberi kesempatan kepada murid untuk menceritakan masalahnya dan bersama-sama mencari solusi hingga murid merasa terbantu dan terarah. Saya termotivasi untuk menerapkan budaya positif kepada murid, guru dan sekolah. Karena setiap sekolah pasti memiliki peraturan yang telah dibuat dan harus dipatuhi oleh murid. Namun perlu adanya tinjauan kembali apabila telah dinyatakan belum atau sudah berjalan dengan baik. Karena hal perlu yang diperbaiki adalah jalinan komunikasi dan pemahaman bahwa untuk mewujudkan karakter Profil Pelajar Pancasila, maka guru perlu memulai dari diri, menuntun laku murid, mengingat kembali tentang kodrat alam dan kodrat zaman para murid yang pastinya telah banyak mengalami perubahan, serta penyesuaian terhadap lingkungan. Alangkah baiknya jika semua guru menjadi manajer sebagai posisi kontrol agar berjalan komunikasi yang baik dan pembelajaran yang bermakna.


Rancangan Tindakan Aksi Nyata




Terima kasih







Comments

Popular posts from this blog

Presentasi Dinamis, Melatih Kemampuan Murid untuk Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris Oleh: Isma Rachmadani Siregar

Make a profit from waste cables and metal left over from practical learning at Vocational School Telkom Banjarbaru By: Isma Rachmadani Siregar