Koneksi Antar Materi pada Modul 2.1 Pembelajaran Berdiferensiasi oleh Isma Rachmadani Siregar

Koneksi Antar Materi pada Modul 2.1

Pembelajaran Berdiferensiasi

Oleh: Isma Rachmadani Siregar

SMK Telkom Banjarbaru

CGP Angkatan 6 Kota Banjarbaru


Mempelajari hal baru bagi saya merupakan pencapaian proses pembelajaran dan sebagai refleksi untuk hal-hal yang telah saya lakukan sebelumnya. Khususnya pada saat dimana saya mengasah kemampuan mengajar saya dan menganalisa apakah kegiatan yang sudah saya lakukan sudah sesuai atau keliru. Dari setiap modul pada LMS di CGP ini, saya selalu menemukan hal baru untuk perbaikan proses belajar dan mengajar di sekolah. Melalui modul 1 berseri hingga masuk pada modul 2, semua proses pembelajaran yang saya pelajari telah mengubah pemikiran saya yang semula kaku dan menjadi fleksibel serta berdasar pada suatu filosofi. Dan sejenak melihat kegiatan sebelumnya, apakah saya telah melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi atau belum. Dan pada modul ini, saya menemukan jawabannya.

            Awalnya saya bingung, apa yang dimaksud dengan pembelajaran berdiferensiasi? Lalu, pada modul ini saya menemukan jawabannya. Pembelajaran Berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Keputusan-keputusan yang dibuat tersebut adalah yang terkait dengan Kurikulum yang memiliki tujuan pembelajaran yang didefinisikan secara jelas. Pada tahap ini, saya mencari lebih banyak lagi hal-hal yang terkait didalamnya. Saya mengumpulkan informasi yang berkenaan dengan pembelajaran berdiferensiasi melalui modul serta diskusi dengan rekan sejawat. Pembelajaran Berdiferensiasi diperlukan karena murid yang berbeda memiliki kebutuhan yang berbeda. Pembelajaran berdiferensiasi dapat diartikan sebagai usaha guru untuk menyesuaikan proses pembelajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar individu murid. 

            Meskipun terdapat kendala pada pelaksanaannya, namun saya tetap tidak ingin menyerah dan tetap berusaha untuk melakukan kolaborasi dengan rekan sejawat dan senantiasa melayani murid dalam proses pembelajarannya. Ketika melakukan pembelajaran berdiferensiasi di kelas, ada beberapa hal yang perlu saya persiapkan. Dan poin-poinnya adalah sebagai berikut:

1.    Merumuskan tujuan pembelajaran,

2.    Memetakan kebutuhan belajar berdasarkan kesiapan belajar, minat, dan profil murid,

3.    Menciptakan suasana belajar yang kolaboratif dan positif,

4.    Melakukan penilaian yang berkelanjutan / on-going assessment,

5.    Melakukan diferensiasi konten, produk, dan proses.

Melalui pembelajaran berdiferensiasi tersebut, terdapat perubahan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan belajar murid. Perubahan yang dituju oleh penerapan pembelajaran berdiferensiasi adalah motivasi intrinsik murid meningkat. Peningkatan motivasi ini akan terlihat dari budaya positif murid. Salah satunya adalah murid menjadi lebih giat belajar. Diferensiasi konten yang diterapkan membuat murid menjadi siap untuk mengikuti pembelajaran. Pembelajaran berdiferensiasi terlebih dahulu mengidentifikasi kebutuhan murid yaitu dari kesiapan belajar murid (lambat-cepat, konkret-abstrak, mandiri-bantuan, minat murid, profil belajar murid yang meliputi gaya belajar, latar belakang, dan kecerdasan). Diferensiasi proses yang ditentukan dapat membuat murid lebih memahami alur pelaksanaan pembelajaran secara jelas dan tidak merujuk hanya pada guru saja. Diferensiasi produk yang diterapkan membuat murid tidak terbebani dengan tugas yang tidak sesuai dengan minatnya. 

Pembelajaran berdiferensiasi merupakan aplikasi nyata dari pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan seperti dijelaskan pada modul 1.1 Program Guru Penggerak yakni Refleksi Filosofi Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara. 

KHD menyatakan bahwa pendidikan yang dilaksanakan haruslah berpihak pada anak. Menurut KHD setiap anak mempunyai karakteristik tersendiri yang berbeda satu sama lain. Untuk itu perencanaan, pelaksanaan dan hasil yang diminta pada setiap anak haruslah disesuaikan dengan anak.

Karakteristik anak yang berbeda ini dipenuhi oleh pembelajaran berdiferensiasi melalui 3 aspek, yaitu kesiapan murid, minat belajar dan profil belajar murid. Peran guru ini selaras dengan peran guru di kelas sebagai pemimpin, dan inovator pembelajaran.  Modul 1.2 Pendidikan Guru Penggerak menyatakan bahwa setiap Guru penggerak memiliki peran sebagai pemimpin pembelajaran. Diharapkan dengan peran yang diterapkan guru di kelas guru dapat mewujudkan murid yang memiliki karakter sesuai dengan profil pelajar Pancasila.

Untuk mewujudkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas guru dapat merancang perubahan melalui model manajemen BAGJA seperti pada modul 1.3. Model ini sesuai dengan filosofi dan visi guru penggerak yaitu yang berpihak pada kepentingan murid. Melaksanakan pembelajaran berdiferensiasi merupakan sebuah wujud prakarsa perubahan yang dilakukan oleh seorang guru penggerak.

Kesiapan belajar murid atau readiness adalah kapasitas untuk mempelajari materi baru diibaratkan seperti "The Equalizer" dari yang bersifat mendasar menuju bersifat transformatif, konkret ke abstrak, sederhana ke kompleks, terstruktur ke terbuka (open-ended), tergantung ke mandiri, dan lambat menjadi cepat. Sedangkan dalam minat belajar maka terdapat "Cocokkan" yaitu mencari kecocokan antara minat murid dengan tujuan pembelajaran, "Koneksikan" berarti menunjukkan koneksi antar materi pembelajaran, "Jembatani" yaitu menjembatani pengetahuan awal dengan pengetahuan baru, dan "Memotivasi" yang memungkinkan tumbuhnya motivasi murid untuk belajar.

Tumbuhnya motivasi intrinsik siswa ini bersesuaian dengan modul 1.4 Program Guru Penggerak tentang Budaya Positif. Murid yang telah memiliki motivasi intrinsik akan berdampak jangka panjang, motivasi intrinsik tidak akan terpengaruh pada adanya hukuman atau hadiah. Mereka akan tetap berperilaku baik dan berlandaskan nilai-nilai kebajikan karena mereka ingin menjadi orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai yang mereka hargai, atau mencapai suatu tujuan mulia.

Profil belajar murid membuat guru perlu mengidentifikasi lingkungan belajar. Guru harus mengidentifikasi suhu ruangan belajar, tingkat kebisingan, jumlah cahaya. Selain itu seorang guru dapat pengetahui pengaruh budaya dari santai menjadi terstruktur, pendiam ke ekspresif, personal ke impersonal. Setiap siswa juga memiliki gaya belajar yang berbeda. Untuk itu guru harus dapat mengidentifikasi murid yang memiliki gaya belajar visual (belajar dengan melihat), auditori (belajar dengan mendengarkan), kinestetik (belajar sambil melakukan), kecerdasan majemuk (multiple intelegences), visual ke spasial, musical bodily kinestetik, logika matematika. Peran guru pada pembelajaran berdiferensiasi ini sesuai dengan nilai guru penggerak yang dinyatakan pada modul 1.3 yaitu berpihak pada murid.

Guru Penggerak

Tergerak, Bergerak, Menggerakkan





Comments

Popular posts from this blog

Presentasi Dinamis, Melatih Kemampuan Murid untuk Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris Oleh: Isma Rachmadani Siregar

Make a profit from waste cables and metal left over from practical learning at Vocational School Telkom Banjarbaru By: Isma Rachmadani Siregar