Inspirasi Dosis Tinggi Oleh: Isma Rachmadani Siregar
Inspirasi
Dosis Tinggi
Oleh:
Isma Rachmadani Siregar
“Kalo dia bisa, kenapa saya tidak!”. Pernyataan ini selalu
muncul ketika seseorang mengukur dan membandingkan kemampuannya dengan orang
lain. Sebaiknya bukan hanya pernyataan saja tetapi perlu adanya tindakan
sehingga mampu memotivasi diri. Meskipun tidak semudah membalikkan telapak
tangan, namun perlu untuk menyadari potensi dan refleksi diri untuk terus
melakukan perubahan dan perbaikan.
Melihat begitu banyaknya informasi
tentang pencapaian prestasi seseorang, muncul rasa ingin mengikuti jejaknya.
Mendengar cerita bagaimana seseorang belajar, berusaha dan pada akhirnya
berhasil sesuai dengan apa yang diharapkan. Tentu saja dengan cara yang
maksimal untuk dapat mewujudkannya. Berpacu dengan waktu, berbagai tugas yang
menunggu, dan pikiran yang terkuras. Banyak bidang yang dapat dicapai seperti
budaya, sosial, olahraga, religi, teknologi, edukasi dan lainnya. Hanya perlu
fokus dan belajar menata hati serta pikiran agar mampu menyeimbangkan segala
hal pada diri.
Seiring
dengan begitu cepatnya perubahan dan perkembangan zaman, terdapat hal-hal yang
memberi energi positif baik kepada penulis maupun orang lain. Sebenarnya hal
sederhana tetapi maknanya cukup besar. Dapat dikatakan sebagai evaluasi diri
dan target untuk mencapai suatu prestasi. Tidak hanya bersumber dari tempat
yang jauh tetapi di lingkungan sekitar cukup banyak memberi motivasi dan sudut
pandang yang luar biasa manfaatnya. Penulis akhirnya mencoba merangkum, hal-hal
apa saja yang berpengaruh baik kepada diri sendiri dan juga dapat disebarkan kepada
orang lain. Tidak perlu mewah, cukup sederhana dan bermakna.
Berprofesi
sebagai seorang pengajar, membuat penulis harus mampu mempersiapkan segala
sesuatu untuk memberikan yang terbaik kepada muridnya. Bukan hanya sekedar
mengajar tetapi juga membimbing mereka untuk mencapai tujuan belajar yang
diharapkan. Ketika sebuah perubahan terjadi dikarenakan kondisi pandemi
melanda, seketika itu juga banyak kebijakan yang berubah dan wajib untuk
diikuti oleh semua masyarakat termasuk warga sekolah. Harus bisa keluar dari
zona nyaman untuk tidak terpaku pada sistem lama. Bersiap menerima perubahan
dan membuka pikiran agar tidak tertinggal dengan mereka yang sudah melaksanakan
kebijakan baru. Bukan tanpa keluhan, alasan dan tantangan, penulis harus mampu
beranjak dari kebijakan lama. Apakah hanya penulis sendirian? Tentu tidak.
Semua orang harus terlibat dalam perubahan tersebut.
Ada hal
yang disukai dan tidak. Pada dasarnya tergantung pada bagaimana menyikapi dan
memikirkan apa saja yang akan didapatkan jika melakukan sesuatu. Menulis. Ya,
menulis. Banyak yang menyukai kegiatan ini dan pastinya banyak yang kurang
menyenangi. Bahkan jika penulis yang baru memulai saja, mereka harus bisa
mengendalikan perasaan dan pikiran untuk tetap menuangkan ide kedalam tulisan.
Sebenarnya, kita semua sudah menulis sejak huruf pertama kita kenal. Dan hingga
saat ini, menulis bukanlah hal yang membosankan. Terbukti ketika semua pengguna
telepon genggam dapat menulis pesan dan bahkan membagikannya di media sosial
masing-masing. Awalnya, penulis merasa kurang menyenangi dan bahkan enggan
menulis karena takut tulisan yang dihasilkan jelek, kurang diminati dan bahkan
takut dengan komentar pembacanya. Tetapi, pada saat gerakan literasi dikuatkan,
pada saat itulah, penulis menemukan solusinya. Penulis bukanlah orang yang
memiliki kemudahan dalam menyampaikan pesan secara lisan. Meskipun demikian,
penulis memiliki cara yaitu dengan menulis. Tidak ada hal yang perlu ditakutkan
ketika menulis. Karena dengan prinsip,”tulislah
yang anda lakukan dan lakukan yang anda tulis.”. Semua kegiatan yang
dianggap penting untuk diabadikan agar dapat dikenang pada suatu saat nanti.
Sebagai
bentuk keseriusan, penulis memberanikan diri untuk mengikuti beberapa pelatihan
yang bertujuan untuk mengasah bakat menulisnya. Selain itu, bergabung dengan
komunitas sesama penulis, membuat suasana baru untuk berdiskusi dengan penulis
lainnya. Dan juga, penulis memanfaatkan blog
untuk berbagi tulisan secara online
sehingga bisa diakses oleh siapa saja dan kapan saja. Karena penulis juga
seorang pengajar, maka penulis mengajak rekan sejawat untuk berbagi praktik
baik melalui tulisan. Dan tak lupa, penulis mengajar para murid untuk
membagikan pengalaman mereka ke dalam tulisan. Tentu saja tidak semuanya
menyenangi kegiatan menulis. Tetapi, penulis memiliki cara lain agar mereka
tertarik untuk mengolah kata menjadi kalimat. Murid dilatih untuk menulis
sebuah judul, mengamati sebuah gambar atau peristiwa yang terjadi di
lingkungannya lalu menceritakannya ke dalam sebuah tulisan. Penulis juga
menyarankan untuk mulai menulis melalui media sosial. Namun, ada satu hal yang
perlu mereka ingat bahwa ketika menulis mereka juga harus bisa membaca
informasi dan situasi. Hal ini agar seimbang sehingga informasi yang
disampaikan memiliki dasar dan bukan asal-asalan.
Ada hal
yang unik dari para murid ketika mereka mulai menulis yaitu ketertarikan pada
hal visual. Ketika mereka melihat gambar, mereka menyampaikan bahwa gambar
cukup mewakili kata-kata. Tidak perlu menulis dengan banyak paragraf cukup
gambar saja. Lalu, penulis menjelaskan bahwa gambar hanya bisa menceritakan
tentang apa yang tercantum di dalamnya. Sedangkan menulis dapat dikembangkan
lebih luas, dapat mencantumkan sumber-sumber yang dianggap perlu untuk ditulis
dan semua perasaan tertuang jelas dalam setiap goresan pena. Dalam pembelajaran
bahasa, murid telah diajarkan bagaimana membuat tulisan diawali dari judul,
pembukaan, inti, dan penutupan. Dan disesuaikan juga dengan jenis tulisan yang
diinginkan. Apakah tulisan yang bertujuan mendeskripsikan suatu benda, orang,
tulisan yang menceritakan pengalaman masa lalu, tulisan yang berkaitan dengan
berita, dan jenis tulisan lainnya. Untuk para pengajar, biasanya mereka
menyukai tulisan yang nantinya digabung dengan tulisan lainnya hingga menjadi
sebuah antologi. Dan bahkan penulis sendiri mendapat tawaran menulis pada platform khusus dan mendapat apresiasi
karya berupa materi. Namun, bukan ini yang diinginkan oleh penulis. Konsistensi
dalam membagikan tulisan yang ditujukan untuk mengajak orang lain menyenangi
literasi. Karena hal ini menjadi poin penting agar kita semua dapat memahami
bahwa suatu informasi dengan diawali membaca dapat membuat kita semakin cerdas.
Puncak rasa
bahagia bagi para penulis adalah ketika tulisannya mendapat komentar dari para
pembacanya. Terlebih lagi ketika tulisan kita dimuat menjadi sebuah buku atau
diunggah pada website komunitas.
Penulis pernah mengikuti kompetisi menulis yang diikuti oleh berbagai jenjang
yang berbeda. Merasa pesimis diawal karena tulisan masih dirasa kurang. Tetapi,
ketika yakin bahwa pernah melewati berbagai pengalaman, maka penulis merasa
percaya diri. Dengan bermodalkan nasihat dari penulis senior, komentar tajam
dari pembaca, dan kemurnian tulisan tanpa menyadur atau mengambil milik penulis
lainnya, akhirnya tulisan tersebut dikirimkan dan kemudian tulisan terpilih dan
diterbitkan menjadi sebuah buku antologi bersama penulis lainnya. Rasa syukur
yang teramat dirasakan karena ketika menulis melibatkan kenikmatan yang
diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Dan satu hal yang perlu diingat, jangan
berhenti hanya karena satu kali terpilih tetapi tetap tingkatkan semangat
menulis dan konsisten dalam memberi yang terbaik.
Pada hal
berikutnya, penulis mengajak para murid untuk mengikuti kompetisi menulis
khususnya dengan bahasa asing. Penulis meyakinkan bahwa dengan niat yang tulus,
semangat serta selalu berusaha, murid mampu menulis artikel dan cerita pendek
dalam bahasa asing. Sebelumnya, murid dibekali dengan menentukan konsep tulisan
dan observasi masalah yang terjadi. Dengan berkolaborasi dengan pengajar atau
mengundang penulis lainnya, para murid merasa beruntung karena difasilitasi
dengan baik. Bahkan sekarang, para murid selalu berlomba untuk menjadi anggota
jurnalistik di sekolah. Bukankah semangat seperti ini yang diinginkan oleh para
pengajar? Tentu saja. Dan sebagai bukti apresiasi kepada murid, maka tulisan
mereka dimuat pada website sekolah
atau ikut kompetisi menulis. Memang bukan hal yang mudah untuk mempertahankan
semangat menulis daripada memulainya. Tetapi karena literasi ini sangat
penting, maka banyak cara yang dapat dilakukan. Selalu berkonsultasi dan
membuka diri untuk menerima kritik serta saran untuk perbaikan kedepannya.
Tulisan yang memberikan semangat pastinya telah melewati
masa-masa yang panjang. Ketika tulisan seseorang dinikmati oleh pembacanya dan
tergerak untuk ikut menulis, pada saat itu penulis telah memberi motivasi dan
menjadi inspirasi bagi pembacanya. Dari semua tulisan yang tercipta, akan
muncul banyak cerita-cerita menarik dan pada akhirnya penulis akan
berkesempatan untuk memberikan pengalaman kepada orang lain. Karena menulis
adalah bagian dari eksistensi diri dan menjadikan tulisan tersebut sebagai
rekam jejak bagi penulisnya. Meskipun sebagian orang mengatakan bahwa menulis
adalah kegemaran, tetapi tidak semuanya konsisten dengan menulis dan hanya
dilakukan pada waktu tertentu saja. Tetapi cukup dimaklumi karena tantangan
dalam menulis yang sebenarnya adalah diri sendiri. Bukan karena waktu, pekerjaan,
masalah pribadi dan lainnya. Tetapi, diri sendiri. Terlalu banyak alasan untuk
menghindari menulis.
Festival literasi merupakan sebuah ajang bagi semua penulis
untuk menciptakan tulisan yang berbobot, murni dan jelas. Bahkan pada
kesempatan ini, penulis beda jenjang tak segan-segan untuk berpartisipasi dan
membuat tulisan yang sedap untuk dinikmati oleh para pembaca. Untuk menuangkan
tulisan, para penulis dapat menemukan cara-cara terbaik versi mereka. Mereka
bisa memanfaatkan perpustakaan yang ada di daerahnya, di sekolah, di kantor, di
ruang kamar yang nyaman dan bahkan di tempat lain yang dianggap nyaman untuk
menulis. Banyak komunitas penulis membuka perekrutan anggota agar nantinya bisa
bersama-sama mengembangkan potensi menulis dengan baik. Bagi para murid, mereka
dapat menulis berdasarkan imajinasinya, para mahasiswa yang belajar menulis
artikel, para guru yang bersemangat menulis refleksi dan masyarakat umum yang
menulis cerita pendek atau novel. Siapa saja yang tertarik menulis dapat
menjadikan tulisannya sebagai portofolio pencapaian prestasi diri. Senang
rasanya penulis dapat berbagi pada tulisan ini. Lagi dan lagi, menulis itu
menyenangkan dan mudah. Tetap melakukan yang terbaik bagi dunia literasi,
karena cerita bahagia dimulai dari menulis. Sangat menyenangkan ketika bisa
memotivasi dan jangan lelah karena inspirasi dosis tinggi itu terbukti.
Biodata
Penulis
Salam Literasi! Perkenalkan nama saya, Isma Rachmadani Siregar. Saya lahir di kota Medan, 10 Mei 1986. Berdomisili di Loktabat Utara - Banjarbaru, membuat saya bangga karena Banjarbaru mendapat julukan sebagai kota pendidikan. Saya menyukai kegiatan yang bersifat literasi seperti menulis, membaca, membuat konten pendidikan, Public Speaking dan berorganisasi.
Merupakan suatu hal yang luar biasa karena seorang ibu dan
anak perempuan saya telah menjadi motivasi dan inspirasi saya dalam mengasah
bidang literasi. Semangat literasi ini saya teruskan di SMK Telkom Banjarbaru
sebagai tempat saya mengabdikan diri pada dunia pendidikan. Dan saya juga
menularkan semangat literasi ini kepada komunitas guru dan beberapa lembaga
pendidikan lainnya.
Mari berteman dan saya persilakan untuk teman-teman yang
ingin berkolaborasi pada nomor Whatsapp: 0813-51085886, email: ismasiregar05@gmail.com, Instagram: @ismasiregar05 dan berkunjung ke blog saya: https://ismasiregar.blogspot.com/. Terima
kasih. Semangat menulis teman-teman.

Comments
Post a Comment