Buah Hati Cerminan Diri oleh Isma Rachmadani Siregar

 

BUAH HATI CERMINAN DIRI

Oleh: Isma Rachmadani Siregar

Dokumentasi milik pribadi

“Bunda, mengapa anak saya seperti ini ya? Saya tidak pernah mengajarinya berbuat begitu!”. Apa yang terlintas dalam pikiran bapak dan ibu tentang pertanyaan tersebut? Mungkin ada yang mengalami hal serupa atau sebaliknya? Berbagai macam pengakuan bahkan alasan yang sering sekali kita dengar. Tidak menutup kemungkinan, akan ada orangtua yang merasa benar dalam mendidik putra dan putrinya.

Mari sejenak kita renungkan makna dari Al Quran pada Surah Al Luqman ayat 13:”Dan (ingatlah) ketika Lukman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, "Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.".

Sangat jelas makna surah tersebut yang menggambarkan tentang bagaimana sebaiknya orangtua mendidik anaknya dengan cara yang baik dan menjelaskan konsekuensi jika anak melakukan kebenaran atau kesalahan. Tentu saja, sebagai orangtua, kita perlu melihat dan menyadari apakah kita sudah baik atau belum. Orangtua selayaknya guru yang memberikan ilmu pertama di rumah dan teman yang menyenangkan di kala anak merasa senang atau sedih.

Ketika kita melihat bagaimana cara mendidik anak dengan gaya orangtua jaman dulu, pastinya tidak dapat diterima oleh anak-anak jaman sekarang. Orangtua yang bersikap diktator, egois dan tanpa negosiasi dalam hal apapun. Mereka menganggap bahwa cara mereka sudah tepat dan akan membuat anak-anaknya patuh dan sukses. Hal ini bisa saja, karena pada waktu itu tidak mengalami perkembangan pada komunikasi, belum adanya pengaruh dari berbagai sumber dan anak sudah dirancang untuk takut kepada orangtua. Sebagian besar anak-anak yang pernah mencicipi pendidikan keras orangtuanya ini, kehidupan mereka terarah dan mandiri. Lalu bagaimana dengan cara didik orangtua jaman sekarang? Inilah yang menjadi daya tarik untuk calon orangtua yang segera memiliki anak. Lebih baik pelajari di awal agar nantinya tidak kaget ketika anak siap untuk menerima didikan pertama di rumah.

Penting untuk orangtua mempelajari cara-cara mendidik anak, menentukan peraturan dan menjelaskan konsekuensinya, apa yang seharusnya dilakukan, dan masih banyak hal lain yang menjadi tugas mulia orangtua. Ketika anak masih di dalam kandungan, ibu perlu mengembangkan sikap positif dengan memberi belaian dan asupan makanan yang sehat dan bergizi. Ketika lahir, ibu juga memberikan dekapan lembut dan mengajaknya berkomunikasi. Memasuki masa balita, anak menjadi lebih aktif sehingga orangtua perlu mengawasi dan mendampingi. Hingga pada saat anak memasuki jenjang sekolah dasar, orangtua sangat perlu menjalin komunikasi yang baik agar anak tidak salah mengartikan dan memahami secara perlahan tentang apa, bagaimana dan mengapa pada hal-hal yang belum pernah mereka pelajari bahkan alami. Seperti contoh kalimat berikut:”Kamu cengeng, jangan nangis!”. Berdasarkan ungkapan tersebut, apa yang bisa dipahami oleh anak? Pastinya anak menjadi kesal dan anak akan merasa bahwa apa yang dirasakan tidak dipahami dan tidak ditanggapi oleh orangtua. Apalagi jika ungkapan tersebut disampaikan pada anak di usia sekolah dasar. Bagi sebagian orangtua, ungkapan ini dinyatakan ampuh dalam mendiamkan anak. Tetapi faktanya, anak akan menangis lebih hingga sulit dikendalikan. Maka, kalimat seperti apa yang bisa disampaikan ke anak? Orangtua dapat menggunakan:Anak pintar kenapa menangis? Kalau sudah enggak jengkel atau kesal, bisa cerita sama ibu atau ayah ya.”. Makna kalimatnya cukup membuat anak dapat meredam tangisan dan perlahan cerita apa yang membuat anak sedih atau kesal. Anak lebih nyaman ketika orangtua bertanya dengan nada lembut pada saat mereka menangis daripada nada tinggi yang bisa membuat anak enggan untuk membuka diri menceritakan apa yang anak rasakan.

Hal terpenting dalam mendidik anak adalah diawali dari cara orangtua bersikap, berbicara dan berpikir. Orangtua sebaiknya memahami betul bahwa mendidik anak bukan hanya sebatas membesarkan, memberi makan, memberikan pendidikan formal, dan melengkapi fasilitas apapun yang membuat anak senang. Hal ini sudah menjadi kewajiban bagi setiap orangtua dalam menyediakan kebutuhan selama orangtua mampu. Akan tetapi, ada hal lain yang perlu orangtua sadari bahwa seorang ayah dan ibu menjadi panutan atau guru pertama bagi anak di rumah. Anak akan meniru cara ayah atau ibu ketika melakukan hal-hal di dalam rumah. Misalnya ayah yang sedang mencuci mobil. Anak memperhatikan apa yang dilakukan ayahnya dari awal hingga akhir. Lalu anak akan bermain air dengan selang yang digunakan ayahnya untuk menyiram. Dan ketika ibu yang sedang merapikan pakaian di lemari, anak melihat dan meniru gerakan ibu dari mulai melipat hingga menyusun pakaian. Hal-hal seperti ini akan sangat mudah ditiru karena anak akan selalu melihat kegiatan orangtuanya yang dilakukan secara berulang. Dan bagaimana jika orangtua melakukan kegiatan negatif. Misalnya ayah yang merokok di dalam rumah, ibu yang suka ngomel dan terkadang bisa bertengkar di depan anak. Anak juga merekam apa yang dilakukan orangtuanya dan bisa menirunya. Sangat memprihatinkan.

Meluangkan waktu bersama anak di sela kesibukan orangtua menjadi hal yang paling diinginkan oleh anak. Anak pastinya menunggu momen kedua orangtuanya untuk berada di rumah dan menghabiskan waktu bersama. Aktifitas yang bisa dilakukan bersama anak yaitu bermain di halaman, mengunjungi tempat umum seperti kebun binatang, melakukan gotong royong di rumah dan jalan-jalan berkeliling kota. Anak akan merasa mendapat haknya untuk bisa bahagia meskipun singkat. Anak merasa kesepian karena jika salah satu orangtua atau bahkan kedua orangtuanya bekerja, maka kesempatan bersama sangat tipis. Anak hanya mendapat keluhan lelah dari orangtua sedangkan anak merasa kerinduan karena ditinggalkan seharian kerja. Jika seperti ini, maka buatlah kesepakatan agar anak tidak merasa sendirian dan mendapat kasih sayang yang utuh dari orangtua.

Orangtua sebaiknya tidak memberi janji kepada anak. Hal ini akan sangat menyedihkan bagi anak karena jika orangtua tidak bisa menepati, maka mereka berpikir bahwa orangtuanya berbohong dan sulit dipercaya. Jika tidak dapat terlaksana, maka segera minta maaf dan jelaskan. Akan lebih, jika ingin memberi tidak selalu dengan janji, tetapi berikan ungkapan yang membuat anak semakin terpacu untuk melakukan hal baik. Janji orangtua untuk merayu anak agar keinginan orangtua dilaksanakan akan menimbulkan pemikiran anak yang kurang baik kedepannya.

Kesabaran orangtua memang diuji pada saat anak melakukan sesuatu yang keliru. Orangtua sangat mudah marah dan lupa bahwa anak perlu diberikan penjelasan mengapa itu salah dan benar. Karena anak sedang memasuki proses belajar, pastinya menyita waktu, pikiran dan tenaga orangtua. Disini orangtua sebaiknya tidak boleh menyerah. Orangtua memberikan waktu ke anak untuk berproses. Bukan mengambil alih apa yang dilakukan anak. Ini menimbulkan pemikiran bahwa ketika anak mengalami kesulitan, mereka tidak perlu menyelesaikan tetapi orangtua yang akan menghadapinya. Anak merasa tidak siap dengan tantangan, tidak mandiri, takut dan menganggap setiap masalah tidak perlu diselesaikan olehnya. Karena ada orangtua yang selalu membantu dan menyerahkan semuanya kepada mereka. Hal ini tidak disarankan karena mempengaruhi kehidupan anak di masa depan.

Hal yang membuat anak senang ketika mereka melakukan suatu kebaikan adalah pujian dari orangtua. Pujian yang dimaksud adalah kalimat penyemangat atau hadiah kecil yang diberikan atas apa yang anak kerjakan. Misalnya anak sudah bisa merapikan mainan ke tempatnya, maka orangtua dapat memberikan pujian seperti:Terima kasih telah membantu ibu beresin mainan. Cara adik menyimpan mainan sudah rapi.”. Pujian seperti ini membuat anak berpikir bahwa cara yang mereka lakukan sudah benar. Di samping itu, orangtua juga bisa memberi pujian realistis kepada anak karena telah melakukan hal yang positif seperti memberi makan ikan di kolam, pujian bakat karena anak telah berhasil mencetak gol pada saat bermain sepak bola, dan bentuk pujian lainnya. Selama pujian itu diberikan dengan tepat, maka anak tidak akan merasa sombong. Perlu diingat juga, bahwa tidak setiap anak memiliki keistimewaan yang sama. Sehingga tidak disarankan untuk membandingkan kemampuan anak sendiri dengan anak lainnya. Anak tidak menyukai karena mereka berbeda dan pengakuan akan kemampuan itu sangat tidak menyenangkan bagi mereka jika dibandingkan dengan teman seusia mereka.

Perkataan orangtua yang bijak tidak akan mengandung paksaan, cacian dan hinaan. Bagi orangtua yang memahami ini, sangat tidak nyaman untuk didengar bahkan disampaikan kepada anak. Pada akhirnya, anak juga akan meniru meskipun mereka tidak paham apakah itu kata yang baik atau buruk. Karena setiap perkataan anak merupakan perkataan orangtua. Tindakan yang keras tidak dengan memukul secara fisik. Jika ada melakukan kesalahan, maka ajak mereka untuk berbicara, berikan waktu mereka untuk bercerita, dengarkan apa yang mereka rasakan dan berikan pandangan sebagai solusi dari masalah mereka. Karena orangtua juga merangkap sebagai guru pertama bagi anaknya, hal ini penting untuk dipahami bersama. Ketika anak merasa senang, orangtua dapat mengingatkan bahwa hasil kerja keras anak merupakan dukungan dari Tuhan Yang Maha Esa dan juga doa dari orangtua. Dan sebaliknya. Jika anak mengalami kegagalan, maka yakinkan mereka bahwa masa untuk mencapai keberhasilan dapat dilakukan dengan doa dan usaha yang baik. Bukan dengan menghina atau mencaci orang lain sebagai bentuk pelampiasan kemarahan. Karena sekali lagi, anak akan mudah meniru dengan apa yang orangtua lakukan dan ucapkan.

Jika pendidikan di rumah sudah terpenuhi maka selanjutnya anak siap menerima pendidikan dari sekolah. Kedua hal ini saling mendukung dalam perkembangan karakter anak. Lingkungan memang dapat mempengaruhi. Namun, selama didikan orangtua di rumah dengan cara yang baik, anak juga akan memahami bahwa hal yang baik dan buruk sama-sama mendapatkan hasilnya, entah itu kebaikan yang membawa anak berhasil atau keburukan yang akan membuat anak terpuruk. Jangan menyalahkan sepenuhnya kesalahan kepada anak, tetapi koreksi diri mengapa itu bisa terjadi. Anak memerlukan rasa aman dan nyaman. Anak memerlukan perlindungan, kasih sayang dan perhatian. Harta benda dapat habis namun harta yang selamanya abadi adalah anak. Anak sebagai pengganti dan penerus dari orangtuanya. Maka, jangan sia-siakan anak. Dampingilah mereka dalam menapaki kehidupan. Ciptakan semua momen kebersamaan yang akan menjadi cerita indah untuk dikenang. Tiada kata terlambat untuk mengucapkan maaf dan terima kasih kepada anak. Dan ingatlah, untuk semua orangtua, anak adalah titipan terbaik dari Tuhan. Rawatlah anak dengan sebaiknya, karena buah hati adalah cerminan diri. Terima kasih. Semoga bermanfaat.

Comments

Popular posts from this blog

Presentasi Dinamis, Melatih Kemampuan Murid untuk Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris Oleh: Isma Rachmadani Siregar

Make a profit from waste cables and metal left over from practical learning at Vocational School Telkom Banjarbaru By: Isma Rachmadani Siregar