Tantangan yang Mendewasakan dalam Merdeka Belajar Oleh: Isma Rachmadani Siregar

 

Tantangan yang Mendewasakan dalam Merdeka Belajar

Oleh: Isma Rachmadani Siregar

Dokumentasi milik pribadi


“apa yang sebaiknya saya lakukan untuk mewujudkan kebijakan ini? Apakah ini akan mempermudah atau menyulitkan untuk saya? Lalu, bagaimana apabila saya tidak sanggup melakukannya?”. Beberapa pertanyaan menjadi awal dari semua kekhawatiran saya ketika kebijakan ditetapkan oleh pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Dan akhirnya, program yang menjadi topik utama yaitu Merdeka Belajar. Program ini memberi tanda tanya kepada semua warga negara. Apa tujuannya, lalu bagaimana melaksanakannya serta apa yang didapatkan jika program ini telah dilaksanakan. Saya sebagai guru yang mengajar pada jenjang sekolah kejuruan tidak ingin tertinggal dengan perkembangan dari Merdeka Belajar. Perlahan, saya menemukan jawaban dan inilah prosesnya.

Pertanyaan yang muncul adalah apa yang dimaksud dengan Merdeka Belajar? Menurut Bapak Nadiem Makarim selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, Merdeka Belajar adalah sebuah konsep belajar bagi para guru, dosen, dan peserta didik untuk melaksanakan pembelajaran dengan mengakses ilmu pengetahuan secara bebas, di mana saja, kapan saja, siapa saja dan apa saja untuk memenuhi pendidikan yang berkarakter dan unggul. Setiap sekolah dan universitas diberikan kebebasan untuk mengembangkan pembelajaran yang terintegrasi dengan teknologi digital dan literasi. Dan orangtua diharapkan dapat berpartisipasi dalam memantau perkembangan belajar anak-anaknya. Tujuan dari Merdeka Belajar adalah menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, memiliki semangat kompetisi, dan mencapai tujuan bersama. Guru tidak perlu bersusah payah dalam membuat perangkat persiapan pembelajaran karena telah disederhanakan dari sebelumnya. Pemerintah dan institusi lain memberikan dukungan pembelajaran kepada guru melalui webinar dan pelatihan secara online yang bisa dipilih sesuai topik dan kebutuhan. Dan tantangan bagi guru adalah beranjak dari zona nyaman ke zona belajar. Para guru harus mampu meningkatkan kemampuan dalam mengoperasikan teknologi digital seperti perangkat IT (informatika teknologi), dan media aplikasi untuk pendukung pembelajaran daring. Ketika kondisi pandemi yang mengharuskan semua aktivitas dilakukan di rumah termasuk belajar, maka guru, orangtua dan siswa harus menerima kenyataan bahwa pembelajaran yang semula tatap muka di kelas telah berubah menjadi online atau daring (dalam jaringan).

Pada Merdeka Belajar, terdapat beberapa terobosan yang telah diprogramkan oleh bapak Nadiem Makarim. Karena jenjang pendidikan berbeda, maka disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan. Saya menemukan beberapa kebijakan yang sangat membantu para guru dan sekolah. Untuk jenjang sekolah tinggi atau universitas, terobosan yang dibuat juga mendukung para dosen dan mahasiswa dalam meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing pada setiap bidangnya. Terobosan yang diterapkan pada sekolah seperti menghapus USBN (Ujian Sekolah Berstandar Nasional), mengganti UN (Ujian Nasional) menjadi AN (Asesmen Nasional), RPP (Rencana Persiapan Pembelajaran) yang disederhanakan, PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) yang disesuaikan, dan SMK sebagai sekolah pusat unggulan. Hal ini membuat saya dan para guru lainnya merasa sangat terbantu dalam proses pembelajaran daring. Di samping itu, pemerintah juga mempersiapkan terobosan lain untuk meningkatkan kemampuan sekolah dan para guru seperti program organisasi penggerak, guru penggerak, sekolah penggerak dan bantuan dana pendidikan.

Kemudian, model pembelajaran yang digunakan pada Merdeka Belajar yaitu Blended Learning (Pembelajaran Campuran). Model ini dilakukan secara Synchronous (dilakukan secara real time atau online melalui platform) dan Asynchronous (dilakukan dengan menggunakan media perantara yang dapat diakses setiap saat). Kedua cara campuran tersebut lalu dijelaskan kepada para guru melalui tayangan pada saluran Youtube milik KEMENDIKBUD RI dan dipergunakan kembali pada saat para guru mengikuti pelatihan peningkatan kompetensi yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia yaitu Portal Guru Belajar dan Guru Berbagi. Setelah mengikuti pelatihan, para guru dapat menerapkannya pada pembelajaran daring dan mengoptimalkan ilmu yang didapat untuk menghasilkan karya seperti konten pembelajaran berupa video, podcast dan flyer. Materi pembelajaran tidak harus disampaikan secara keseluruhan melalui live streaming pada zoom atau google meet. Namun dapat dibuat dengan cara yang menarik. Misalnya guru membuat flyer materi pembelajaran atau dibuatkan dalam bentuk video yang bisa diakses kapan saja dan dimana saja. Selain itu, guru juga dapat berkolaborasi dengan guru lainnya untuk dapat mengisi konten pembelajaran yang menarik dan interaktif. Banyak karya yang bisa dihasilkan dan dapat dibukukan menjadi Best Practice guru.

Para praktisi pendidikan saling berbagi pengalaman dengan saling mengisi pelatihan baik dengan tema teknologi, literasi dan karakter. Para guru dapat memilih sesuai dengan kesediaan dan disarankan tidak menganggu jam mengajar daringnya. E-certificate yang didapat juga dapat menunjang prestasi belajar dan bekerja guru pada instansi tempat mereka mengabdi. Ketika mengikuti kompetisi unjuk kemampuan guru, maka ilmu yang telah dipelajari dapat dimanfaatkan. Selain itu, pemerintah juga tidak akan mengabaikan begitu saja karena mereka akan memberikan penghargaan kepada para guru berprestasi yang telah memberikan ide kreatif dan inovatifnya untuk dunia pendidikan.

Sejenak mari renungkan. Perubahan yang mendesak pendidikan untuk lebih maju, para guru dituntut lebih banyak belajar, para siswa yang harus lebih kritis dalam berpikir dan orangtua yang suka tidak suka menerima keadaan. Apapun yang telah ditetapkan segalanya demi satu tujuan yaitu kebaikan bersama. Karena kita belum pernah melalui kondisi sekritis ini, sehingga harus ada kebijakan yang diambil. Tidak ada kekuatan apapun yang dapat memperbaiki kondisi ini kecuali kesadaran kita bersama. Merdeka Belajar seharusnya bukan menjadi penghalang dalam memberi dan menerima ilmu dengan segala keterbatasan. Kemerdekaan dalam mendapatkan apa yang menjadi hak dan melaksanakan apa yang menjadi kewajiban.

Sesungguhnya, para guru bukan lelah dalam mengajar. Akan tetapi, harus bisa membuka diri dalam menerima segala perubahan. Mengeluh pun bukan solusi yang tepat. Keterbatasan dalam berpikir telah dicerahkan oleh banyaknya program guru belajar dan berbagi, terbatasnya perangkat maka bisa disiasati dengan perangkat lain dan jika tidak mampu sendiri maka berkolaborasilah dengan guru lain. Merdeka Belajar bukan tidak melakukan sesuatu. Tetapi bagaimana sesuatu menjadi hal yang luar biasa, yang orang lain belum dapat mewujudkannya. Kesulitan yang ada akan menjadi mudah jika guru dapat ikhlas membuka diri. Sekolah juga harus lebih banyak belajar dengan sekolah lain agar sama-sama maju. Pendidikan tinggi menciptakan sumber daya manusia yang berkarakter, kreatif dan inovatif. Setiap pemelajar dibebaskan untuk belajar apa saja selagi itu positif dan memberi kebaikan bagi orang lain. Tersedianya ilmu yang dapat dipelajari secara gratis, pendidikan yang bersaing secara global dan sumber lainnya yang bisa diakses dan dikembangkan lebih luas lagi. Sesuatu yang belum pernah dilakukan dan belum dapat terwujud, maka saat ini semuanya bisa dilakukan. Pandemi memang menjadi pembatas dalam interaksi secara langsung namun tidak menghalangi komunikasi secara online. Jika guru sebelumnya tidak bisa menulis, maka saat ini guru dapat menulis dengan menuangkan segala ide dan perasaan. Bersama komunitas, mendapat banyak pendapat dan saran untuk mengembangkan kemampuan menulis. Guru yang tidak bisa mengajar di depan kamera, maka sekarang sudah bisa melatih diri dan bahkan dapat membuat video pembelajaran yang menarik dan mendapat banyak dukungan. Demikian juga siswa. Mereka dapat mengembangkan potensi dan menunjukkan kemampuan yang bisa dibagikan melalui media sosial dan dapat dilombakan. Semua hal yang mustahil menjadi mungkin saat ini. Musibah juga memberikan hikmah belajar yang luar biasa manfaatnya. Manfaat yang ada di sekeliling kita karena kita tidak akan pernah mengetahui seberapa besar dampaknya bagi sesama. Dan menyadari bahwa Merdeka Belajar bukan menyulitkan namun menantang kesanggupan untuk belajar dan menerima segala perubahan.  Jangan jadikan beban namun jadikan sebagai tantangan bahwa dengan Merdeka Belajar sesuatu yang nothing will turn to be something.

Comments

Popular posts from this blog

Presentasi Dinamis, Melatih Kemampuan Murid untuk Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris Oleh: Isma Rachmadani Siregar

Make a profit from waste cables and metal left over from practical learning at Vocational School Telkom Banjarbaru By: Isma Rachmadani Siregar