Jangan Menjadi Guru yang Dipaksa atau Terpaksa Oleh: Isma Rachmadani Siregar

 Jangan Menjadi Guru yang Dipaksa atau Terpaksa

Oleh: Isma Rachmadani Siregar

“Bagaimana caranya ya agar mereka bisa memahami apa yang saya sampaikan di kelas? Apakah saya mengajarnya terlalu cepat atau kurang menarik?”. Pertanyaan tersebut selalu muncul di kala saya sedang dalam posisi akan dan sedang bersiap untuk mengajar. Belum lagi tugas lain yang selalu datang dan membuat saya merasa semakin kerepotan. Kondisi seperti itu membuat saya mengajar seperti biasa dan enggan untuk membuat hal baru dalam pembelajaran. Dan ketika kondisi pandemi Covid 19 menyebar, maka bertambah juga kebingungan saya dalam menyajikan pembelajaran.

Saya mengajar pada jenjang SMK dengan mata pelajaran Bahasa Inggris. Tantangan yang saya hadapi kala itu adalah ketidakmampuan saya dalam mengoperasikan media teknologi dan digital. Dan hanya menggunakan metodi konvensional tanpa ada kegiatan belajar yang menarik dan bersifat kolonial. Saya hanya menjalankan rutinitas mengajar seperti biasa dan begitu juga dengan rekan sejawat saya. Tanpa ada refleksi tentang apa yang belum, kurang dan salah dalam mengajar para murid. Dan ketika pembelajaran terintegrasi dengan teknologi dan media digital digaungkan, saat itulah saya berpikir bahwa saya harus berubah.

Pada suatu ketika, saya mengikuti webinar pendidikan. Saya menyimak tentang beberapa pengalaman para guru yang memiliki pengalaman mengajar. Ada beberapa poin penting yang saya catat bahwa sebenarnya guru harus berubah karena era pendidikan saat ini tidak lagi sama seperti dulu. Banyak teknologi dan media digital yang sudah berkembang. Guru harus bisa menerima kondisi tersebut dan siap untuk berubah. Termasuk saya, yang awalnya kurang bisa mengoperasikan beberapa perangkat komputer dan ditambah lagi dengan beberapa aplikasi pembelajaran yang serba canggih. Menjadi hal yang perlu saya ingat bahwa metode pembelajaran juga berpengaruh terhadap suksesnya pembelajaran di ruang kelas.

Setelah beberapa waktu saya pelajari tentang Kurikulum Merdeka yang saat ini menjadi kurikulum yang berpusat pada murid dan memberikan pembelajaran berdampak serta bermakna, saya akhirnya menyadari bahwa mengajar bukan hanya sekedar mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi bagaimana guru memanusiakan murid untuk belajar atas kesadarannya dan bagaimana mengelola pemikiran kritis agar murid mampu memiliki karakter sebagai profil pelajar Pancasila. Selain saya mengikuti beberapa webinar, pelatihan hingga melakukan praktik baik melalui Platform Merdeka Mengajar, saya mengikuti Program Pendidikan Guru Penggerak. Saya banyak mendapat wejangan pendidikan serta menyadari bahwa selama ini ada hal yang sudah dan belum saya lakukan dalam mengajar. Kemudian saya mengikuti Atlaz sebagai salah satu sumber referensi saya untuk pengembangan pembelajaran Bahasa Inggris.

Agar menjadi lebih bermanfaat, saya melakukan berbagi aksi nyata kepada kelompok belajar di sekolah saya serta pada komunitas belajar seperti MGMP Bahasa Inggris tingkat kota. Respon dari rekan-rekan guru sangat positif dan saya turut menggerakkan mereka agar melakukan refleksi diri seperti saya. Berpikir bahwa mengajar itu harus menyesuaikan dengan kondisi murid. Dan ketika perubahan terjadi, jangan merasa bahwa sebagai guru harus dipaksa atau terpaksa untuk berubah hanya karena tujuan tertentu. Tetapi berubah agar cara mengajar kita menjadi lebih baik dan murid merasa senang karena mudah memahami pembelajaran.

Pada kesimpulannya, upaya saya untuk terus bertumbuh sebagai guru adalah refleksi diri dan berkolaborasi bersama rekan sejawat. Semangat ini jangan sampai padam karena murid kita adalah penerus bangsa Indonesia. 

Comments

Popular posts from this blog

Presentasi Dinamis, Melatih Kemampuan Murid untuk Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris Oleh: Isma Rachmadani Siregar

Make a profit from waste cables and metal left over from practical learning at Vocational School Telkom Banjarbaru By: Isma Rachmadani Siregar