Doa Sepertiga Malam by Isma Rachmadani Siregar

 Do'a Sepertiga Malam

Oleh: Isma Rachmadani Siregar

“Ma, kenapa mereka begitu jahat padaku? Apa salahku ma? Tanpa ada penjelasan apapun, mereka menyakiti perasaanku.” sambil menyeka airmata, pelukan mama begitu hangat. Sore ini setelah hujan reda, kusampaikan perasaanku setelah pulang dari kantor. Segelas teh hangat meredakan kesedihan dan kekecewaan yang kupendam selama ini. Dan bersyukurnya aku karena mama masih ada di hadapanku dan mendengarkan keluh kesahku.

Malam berganti pagi. Rasanya masih enggan beranjak dari kasur empuk dan selimut yang terus kupeluk. Kicauan burung pagi ini begitu berisik hingga melanjutkan mimpi saja terasa sulit. Kuputuskan untuk segera berbenah dan seperti biasa, berangkat kerja. “Dengan perasaan seperti ini, apakah aku bisa fokus kerja? Atau apakah lebih baik aku mundur saja?” pikirku sambil merapikan hijab biru seragam kantor. “Mama, aku berangkat ya.” pamitku.

“Tumben kamu terlambat, bangun kesiangan ya? tanya Niken, rekan kerjaku. Aku hanya bisa menganggukkan kepala dan segera melanjutkan pekerjaan. Entah kenapa hari ini aku memilih untuk diam dan hanya fokus bekerja. Tetapi tetap saja tidak bisa, karena Niken selalu ngajak ngobrol dan Pasha rekan kerjaku sekaligus sudah kuanggap sebagai kakak di kantor ini. Baru saja ingin fokus mengerjakan dokumen kemarin, mereka berdua malah asik ngobrol di depanku.

Saatnya makan siang. Teman-teman lainnya menuju ke kantin, sedangkan aku masih duduk dan lanjut bekerja. Bekal makanan yang disiapkan oleh mama masih belum kubuka sama sekali. Niken dan Pasha mengajakku ke kantin. Namun kutolak dengan alasan bawa bekal. Ketika mengetahui hal tersebut, Niken memutuskan untuk menemaniku di ruang kerja sedangkan Pasha pergi ke musola di belakang kantor. Siang ini menjadi waktu terbaik untuk ngobrol sama Niken, karena dia merupakan sumber informasiku.

“Andira, kamu harus lebih sabar ya menghadapi manusia-manusia disini. Mereka merasa hebat karena bos lebih berpihak dengan mereka. Bagi kita yang bukan penjilat, tetap harus lurus dan fokus. Kamu jangan menyerah ya.” ucap Niken kepadaku. Sesaat airmataku menetes dan Niken menguatkanku. Seperti biasa, aku rapuh dan sekuat mungkin untuk tidak teriak bahkan menangis di depan karyawan lain, selain Niken. Tetapi tangisan kali ini, sungguh memang aku tidak dapat menahannya.

Tiba-tiba, notifikasi di ponselku berbunyi. Sebuah pengumuman dari grup kantor menyatakan bahwa jam 3 sore ini diadakan rapat. Dan yang membuat aku terdiam yaitu rapat evaluasi kinerja sekaligus penyerahan surat keputusan. Niken menepuk pundakku dan berkata, “Dira, apapun yang terjadi nanti, aku minta kamu jangan menyerah. Ini hanya masalah waktu dan biarkan Tuhan yang mengurusnya.”. Dan benar saja, rapat berjalan dengan baik, tetapi aku dalam keadaan tidak baik.

Rapat dimulai namun pikiranku melayang dan tiba-tiba teringat dengan sebuah momen dimana itu menjadi awal yang buruk bagiku tetapi baik bagi mereka. Sambutan demi sambutan disampaikan, hingga tak sadar sudah sampai pada sesi penyerahan surat keputusan. Ketika namaku disebut, sungguh itu merupakan mimpi buruk yang telah menjadi kenyataan. Dan aku tidak bisa menghindari dan harus menerima bahwa apa yang kulakukan tidak selamanya dapat diterima oleh orang lain jika dianggap tidak dapat memenuhi ekspektasinya.

Serasa tertusuk oleh duri yang sangat tajam, aku benar-benar rapuh. Airmata tak dapat terbendung setelah mendengar bahwa aku sudah tidak lagi menjabat posisi itu. Semua mata tertuju padaku seakan terkejut mendengar pernyataan sesosok lelaki paruh baya yang juga menjadi bos di perusahaan tersebut. “Terima kasih atas dedikasinya ya mbak.”ucapnya. Dengan perasaan hancur dan lemah, aku menerima map berwarna merah dan serasa tak ingin berfoto dengannya. “Niken, tolong aku.” dengan nada lirih, kumenoleh pada Niken.

Sesampai di rumah, sungguh berat hati ini. Aku tidak bisa menerima perlakuan mereka. Sungguh keterlaluan. Mama yang mengetuk pintu kamarku, kemudian menghampiri dan mengelus kepalaku. “Mama paham perasaan Dira. Tetapi Dira juga harus kuat dan tetap semangat. Semua ini hanya masalah waktu dan nanti Dira akan menemukan jawabannya. Ayo ke ruang makan, mama sudah buatkan sayur asem kesukaan kamu.” ucap mama. Segera setelah mandi, akupun menuju ke ruang makan dan percakapan saat itu begitu menguatkanku.

Beranjak malam, sebelum tidur aku selalu ke kamar mama. Setiap kali aku masuk, pasti mama sedang sholat. Namun pada malam ini terlihat berbeda. Mata mama terlihat basah dan bibirnya masih mengucapkan lantunan sholawat. Ketika aku duduk di belakangnya, aku mendengar mama berdoa sambil menangis. “Ya Allah, berikan kemudahan dan kelancaran untuk putriku. Hamba meyakini bahwa Engkau pasti memberikan jalan terbaik dan kebahagiaan untuknya. Kuatkan dia dalam menghadapi ujianMu dan sehatkan hamba agar selalu ada disisinya. Aamiin.” ucap mama dalam doanya. Sontak aku memeluk mama dengan erat dari belakang.

Akhir pekan sudah tiba. Hari ini aku merasa lebih ingin lama di ranjang. Tidak ada gairah untuk keluar rumah. Mama yang dari pagi tadi masih sibuk dengan bunga-bunga kesayangannya, sesekali memanggil namaku. Karena matahari begitu cerah, langsung saja aku bangun dan membersihkan rumah. Setelah semuanya beres, aku lanjut membuat sarapan. Karena hari libur, mama memang tidak masak. Sengaja aku larang agar giliran aku yang menguasai dapur. Menjelang siang, semuanya sudah selesai dan kami lanjut makan bersama. Kami hanya berdua di rumah, karena saudaraku semuanya tinggal terpisah dengan kami.

Selesai sholat Dzuhur, mama mengajakku untuk minum teh bersama. Dari situlah, aku bercerita tentang apa yang terjadi dengan pekerjaanku serta kondisi di kantor. Mama juga menceritakan pengalaman kerjanya semasa di kantor dulu. Banyak kisah menarik yang kudengar dari mama. Dan mama pasti memberi penguatan padaku dengan nasihat bijaknya. “Dira, Senin besok puasa ya. Mulai sekarang Dira usahakan untuk sholat Tahajud setiap malam. Sampaikan masalah Dira ke Allah. Minta apa yang Dira mau. Mama yakin, suatu saat Dira akan sukses dan orang-orang yang mendzolimi Dira akan menerima balasan sesuai dengan perlakuan mereka ke Dira.” ucap mama sambil memegang tanganku.

Sejak hari itu, aku mengamalkan apa yang disarankan oleh mama. Memang benar, ketika kita disakiti, sampaikan masalah itu di atas sajadah dan minta apa yang kita inginkan. Puasa, sedekah, sholat, membaca Al quran dan doa di sepertiga malam, tidak aku lewatkan. Didukung juga oleh Niken dan Pasha yang selalu menemaniku di kantor. Yang aku lakukan adalah mengerjakan pekerjaan, menghindari mereka yang memberi aura negatif, dan sekuat mungkin tidak menunjukkan rasa bersedih atau berniat untuk mengundurkan diri. Karena mereka pasti akan senang jika aku terpuruk dan sakit. Sungguh tidak mudah, namun akhirnya aku bisa.

Selama masa instropeksi diri, banyak hal positif yang aku lakukan. Seperti melakukan inovasi pada kegiatan menulis, membuat konten, mengisi acara pada berbagai kegiatan off air dan berolahraga. Suasana kantor tidak ada perubahan dan tetap seperti itu saja. Karena perusahaanku bergerak pada bidang percetakan, maka aku lebih banyak membuat desain dan menawarkan kepada pihak-pihak eksternal yang sudah atau baru bekerjasama. Mereka yang suka mencibirku hanya bisa melihat statusku melalui media sosial kemudian dijadikan bahan candaan. “Salah besar kalian semua. Akan kutunjukkan siapa aku yang sebenarnya nanti.” ucapku dalam hati. 

Pada suatu kompetisi desain, aku ikut mendaftar. Pihak penyelenggara adalah salah satu percetakan ternama di Jakarta. Aku yang tinggal di kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan ini memberanikan diri untuk ikut serta dan hanya bermodal percaya diri. Aku mempelajari ketentuan kompetisi dan mencari referensi untuk desain. Awalnya hasil desainku jelek karena kurang sesuai dengan format. Kemudian aku coba dan kutunjukkan kepada Niken dan Pasha. Kagetnya mereka ketika melihat desainku berbeda dan terlihat sangat estetik. Mama juga memberikan tanggapan yang sama. Tanpa berpikir lama, kukirimkan desain tersebut dan menunggu saat pengumuman itu tiba.

Di sisi lain, aku juga mengikuti lomba menulis cerita inspiratif tentang pekerjaan. Meskipun aku sadar bahwa sangat tidak mungkin untuk kuceritakan karena keadaan yang terjadi, kuberanikan diri untuk mengirim naskahnya. Minggu demi minggu terlewati. Notifikasi dari email juga belum ada. Aku pasrah dan kembali bekerja seperti biasa. Hingga pada siang hari, “Selamat siang. Apakah benar dengan Andira Rindani Purnomo? Kami dari Percetakan Gemilang Jaya Jakarta Pusat.” Ucap si penelpon. Langsung saja kujawab, “benar. Ada apa ya mas?” tanyaku penuh penasaran. Percakapan di telepon itu membuatku tersenyum tersipu dan ingin teriak dengan sekuat-kuatnya.

Akhirnya aku mendapat jawaban atas pertanyaan kompetisi kemarin. Aku menjadi juara pertama dan kompetisi mendesain cover majalah khusus home decoration. Dari ratusan desainer, aku mampu meraih posisi pertama. Sangat mustahil, tapi begitulah kenyataannya. Bagiku bukan masalah hadiahnya, tetapi kepercayaan mereka bahwa desainku diminati dan layak dijadikan juara. Hal ini bertolak belakang dengan kondisi di kantor. Desainku selalu dicoret, dihina bahkan dipersulit untuk diproses. Dengan alasan jelek, kurang memenuhi persyaratan dan lainnya. Namun, sudah kubuktikan bahwa pemikiran mereka salah.

Selang beberapa hari, pengumuman pemenang tulisan inspiratif pun diumumkan. Dan betapa kagetnya aku karena menduduki posisi juara pertama juga. Benar-benar suatu pencapaian yang luar biasa bagiku setelah hantaman masalah yang tak kunjung henti dan membuat mentalku hancur. Saat-saat membahagiakan itu menjadi bertambah karena bos yang ada di kantor ini dikeluarkan dengan tidak hormat dengan alasan penggelapan dana operasional dan membuat suasana ricuh di kantor. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi karena inilah yang akhirnya ditunjukkan oleh Allah padaku.

Pengalaman kehidupan yang kujalani ternyata begitu menarik. Baik dari masalah maupun kebaikan selalu datang dengan alasan. Jika kita gagal, maka bangkitlah. Belajar dari masalah agar paham mengukur kemampuan diri. Libatkan Tuhan, orang tua dan teman agar apa yang kita rasakan dan pikirkan mendapat solusi dan dukungan. Biarkan orang lain jahat kepada kita, maka kita tidak perlu menjadi jahat dengan membalas perlakuan mereka. Semua ada masanya. Tetaplah menjadi baik meskipun tidak diperlakukan baik. Karena Tuhan Maha Perencana yang terbaik untuk kehidupan dan masa depan. Gagal hanya masalah waktu, sedangkan mencoba adalah usaha terbaik untuk berubah. Dan doa sepertiga malam adalah kuncinya. 

Comments

Popular posts from this blog

Presentasi Dinamis, Melatih Kemampuan Murid untuk Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris Oleh: Isma Rachmadani Siregar

Make a profit from waste cables and metal left over from practical learning at Vocational School Telkom Banjarbaru By: Isma Rachmadani Siregar